Orang-orang Di Pedalaman

Bagian I

*******

_DSC0318“Aku ingin beritahukan satu hal!”
“Apa itu?” tanya anak muda separuh baya memakai rompi sobek-sobek.
Suasana di pagi itu menjadi gaduh. Menemukan satu titik informasi yang valid, sungguh sulit rasanya. Aliran darah Talai seperti tersendat-sendat, ketika jawaban yang ditunggunya tak juga kunjung datang menghampiri gendang telinganya. Ia terduduk lunglai tak berdaya di atas batu perkasa di samping kanannya. Pemuda kurus berambut ikal itu masih terus dihantui rasa penasaran, atas pertanyaan yang tak punyai jawaban pasti. Ketika ia ingin berdiri, seorang tua yang membuatnya penasaran itu menatap Talai penuh haru. “Ada apa gerangan?” batin Talai.
Orang tua berkumis putih itu seperti tak punyai perasaan—telah mengubah kehidupan Talai penuh kebimbangan atas jawaban. Mungkin, orang tua itu membuatnya penasaran. Sebab, jika diketahuinya lebih dulu, maka orang tua itu yakin, Talai akan memberontak habis-habisan.
Kini, matahari berangsur-angsur merengsek tepat lurus di atas kepala. Teriknya membuat kulit pemuda itu menjadi gosong sesaat. Sedari tadi, ia masih tetap bertahan di atas batu raksasa itu. Ketika dedaunan berjatuhan tertiup angin, konsentrasinya beralih. Berlahan-lahan ia mengangkat kepalanya yang menunduk itu. Lalu, ia berdiri tergopoh-gopoh—seperti tak seimbang. Meski perutnya belum terisi oleh umbian atau jagung sebagai makanan pokok orang-orang di pedalaman itu, ia lantas mencari sosok orang tua yang membuatnya penasaran tadi.
Pada tikungan terakhir di mana letak dua buah rumah saling apit, ekor matanya melihat orang tua itu sedang berbincang serius dengan warga lainnya. Lantas, ia mendekat:
“Aku masih tak paham. Bisakah memberikan jawaban yang pasti?” kata Talai memotong pembicaraan mereka.
Orang tua yang juga sedikit kurus itu terlihat santai. Ia mencoba menenangkan situasi yang runyam.
“Ya,” kata orang tua berjenggot putih itu. “Kita, dalam situasi yang darurat.”
“Maksudnya?”
“Kukira, kalian sudah mendapat informasi ini. Rupa-rupanya, telinga kalian masih kalah cepat dariku yang sudah tua merenta ini.”
“Jawab saja, tak perlu berbelit-belit.”
“Maaf jika aku berbelit-belit. Namun, sebelum aku menyampaikan hal ini, kalian harus berjanji, jangan bertindak semboronoh. Kita harus bicarakan secara matang.”
“Ah, dasar orang tua. Kenapa tidak pada pokok persoalan yang disampaikan? Sedarurat apakah informasi ini? jangan-jangan, orang tua ini sudah mau mati?” kata Talai dalam hati.
Ya, saat itu, seiring sang mentari semakin menyengat, emosi Talai meledak-ledak. Ia menganggap dipermainkan hanya masalah informasi. Mulai detik itu, ia berusaha mencari informasi, sendiri.
Sore hari, dengan telapak kaki tanpa alas, ia berjalan menyusuri lereng gunung. Sesekali mendaki, lalu menurun. Membutuhkan tenaga yang ekstra untuk melewatinya. Itu ia lakukan hanya untuk mencari informasi yang dianggapnya misterius.
Beberapa jam kemudian, ia telah sampai di kampung bawah. Kampung yang berpenghuni tak lebih dari 500 orang itu menjadi ramai bagai pasar tradisional. Orang-orang hilir mudik mencaplok setiap kalimat yang menyambar di telinganya. Lalu, menghardik tanpa ampun untuk sebuah hipotesis yang masing-masing berbeda.
Talai mendekati pelan-pelan sekelompok orang berkerumun di bawah pohon mangga itu.
“Tidak. Aku tidak setuju dengan alasan apapun,” kata seorang lelaki dengan nada tinggi kepada beberapa orang dalam kelompok itu.
“Lantas, kamu tidak setuju dengan pembangunan?” lelaki berbaju kemeja putih berbadan kekar itu langsung menghardik kasar—tanpa perasaan.
*******
Perdebatan itu berakhir dengan kekecewaan. Orang-orang saling menuding. Yang pro menuding yang kontra anti pembangunan. Yang kontra, menuding yang pro penghianat dan egois.
Talai menggoyang-goyangkan kepalanya. Ia telah berhasil mendapatkan informasi yang valid. Kini, hatinya bergejolak. Apa yang dicerca indera pendengarnya di sore itu, tak sesuai dengan hati nuraninya. Ia masuk dalam kelompok kontra.
Lantas, ia kembali ke kampungnya. Bersama para pemuda lainnya, ia berdiskusi begitu serius. Tanpa tersendat-sendat, Talai memberitahukan ke semua orang di pedalaman itu, bahwa hutan mereka terancam porak-poranda.
“Kenapa bisa?” tanya seorang pemuda sebayanya dengan jidat mengerut.
Dengan nada emosional, Talai menjelaskan dengan menggebu-gebu.
“Kita mesti bertindak. Bertindak tegas atas hal ini. Ada kegiatan yang akan mengancam ruang hidup kita.”
“Kegiatan apa itu?” tanya seorang pemuda sebayanya. Ia mengusap-usap kedua tangannya. Nampaknya sedikit gatal.
“Ya, pemerintah telah mengeluarkan satu kebijakan yang mencaplok tanah kita. Kebun-kebun kita, bahkan, katanya masuk dalam areal kampung kita. Namanya IUP.”
“Apa itu IUP?” tanya seorang lekaki beranak satu di samping kirinya. Lelaki bertopi anyaman petani itu melotot—terkejut. Sesekali ia mendehem.
“Izin usaha pertambangan,” jawab Talai. Ia terdiam sejenak. “Izin itu dikeluarkan kepada perusahaan tambang. Yah, wilayahnya masuk dalam area tempat kita duduk ini. itu kata peta yang aku lihat tadi di kampung bawah,” lanjutnya.
Maka meledak-ledaklah Guntur di langit kelabu itu. Meski taka da hujan mengguyur, nampaknya, ini satu pertanda, bahwa perlawanan orang-orang pedalaman itu akan bangkit seiring dengan kebijakan pemerintah yang tak berpihak dengan mereka.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
“Kita melawan!”
Bantaya Lanoni, 24 Oktober 2014  

Leave a Reply