Batu Akik

Talabatu akiki berjalan mengendap-endap di pusaran air yang begitu deras. Raut wajahnya berlipat-lipat laksana daun pisang yang telah mengering. Sementara, di balik batu perkasa di depannya itu, ada kilauan yang terpancar—memantul ke pohon-pohon di sekitarnya.
Pemuda pendiam nomor wahid itu, terus berjalan tanpa menengok sedikit pun. Ia begitu yakin, bahwa telapak kakinya tak akan pernah terpeleset di bebatuan yang berlumut. Ia juga tak takut dengan awan mengumpal-gumpal menghitam di bawah langit sana. Yang sewaktu-waktu, menurunkan butiran-butiran air yang banyak dan akan mengakibatkan banjir yang luar biasa. Fokus mata dan pikirannya hanya pada satu titik: cahaya.
Ketika kaki kirinya hendak mencapai bebatuan itu, tubuhnya sedikit merukuh. Kaki kananya, masih berada di pusaran air. Ia tumpukkan seluruh kekuatan pada kaki kirinya. Dan: “Pruuuukkkk.” Talai terlepeset. Ia jatuh ke dalam pusaran air tadi. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Ia tertawa terbahak-bahak.
Ia bangkit. Ia melawan. Ketika ia ingin mengulangi posisi tadi. Tiba-tiba:
“Ehhheeemmm…. ehheemmm…” seorang tua mendehem. Kumisnya hanya tumbuh pada bagian kiri dan kanan. Talai berpura-pura tak mendengarnya.
“Butuh bantuan?” tawar lelaki berkumis terbelah dua itu.
Talai masih cuek. Ia seolah-olah tak mendengarnya. Ia raih bebatuan yang hampir terbelah dua itu. Kekuatan ia tumpukkan pada tangan kanannya. Ia sedikit merintih kepedihan. Telapak tangannya sedikit memerah akibat terkena batu yang menajam itu. Dan, lelaki berkumis terbelah dua itu sejenak mendehem.
“Batu… batu? Batukah yang engkau sasar?” katanya penuh selidik.
“Untuk apa kamu ketahui? Tujuanmu ke sini, pun untuk apa?”
“Ini wilayahmu, pun wilayahku. Aku berhak untuk ke mana saja, di wilayahku. Tak ada yang melarang selama undang-undang tak mengatur itu. Dan ke sungai ini, feelingku  mengatakan, bahwa kamu ada di sini—membutuhkan pertolonganku. Hahahaha… ”
“Orang tua sepertimu, tak kuat untuk membantuku. Lagi pula, aku hanya terpeleset. Dan pastinya, aku masih bisa berdiri tegak dan naik di atas batu besar ini,” kata Talai sambil menunjuk batuan besar berada di bawah telapak kakinya itu.
“Lantas, pertanyaanku belum terjawab. Kehadiranmu di sini, untuk apa?” tanya orang tua berkumis terbelah dua itu—untuk kedua kalinya.
“Aku curiga, jangan-jangan kehadiranmu di sini, punyai tujuan khusus. Artinya, sama seperti tujuanku?”
“Jangan bertanya. Jawab dulu pertanyaanku. Namun, aku bisa berasumsi, bahwasannya, inilah hari di mana kita berjumpa—punyai visi yang sama.”
“Aku semakin bingung dengan gelagatmu, orang tua. Bisakah kamu jelaskan, visi itu?”
“Sudahlah, visi kita, sama.”
Talai merasa bingung. Ia laksana kucing yang tertangkap basa mencuri ikan di dapur. Ia tiba-tiba menghampiri orang tua yang terkenal rajin di kampungnya itu. Ia menjadi tersendat-sendat angkat bicara. Setelah berhasil berdiri di atas batu tadi. Ia berpura-pura batuk.
“Apa maksudmu?” tanyanya penuh curiga. Badannya serasa kecil setelah terawangannya bahwa ia tertangkap basa.
“Pun apa maksudmu?” orang tua paling rajin di kampungnya itu kembali membeberkan pertanyaan sama. Talai semakin bingung.
“Awan mengumpal-gumpal di atas sana.” Talai menengok ke atas, seraya mengajak orang tua itu berlaku sama. “Sebentar lagi, hujan akan mengguyur. Apakah kamu tak takut air bah akan menghampiri kita?”
“Sejak kapan sejarah sungai ini banjir besar, haa? Jangan kamu menakut-nakuti aku. Aku tahu persis kondisi kampung kita. Termasuk sungai ini!”
“Bagaimana jika sejarah baru akan tiba?”
“Sejarah apa? Kamu takut, batu yang kamu sasar itu akan berpindah diterpah air bah? Iya?!”
Talai merasa terkucilkan. Ia kikuk menghadapi orang tua itu.
Ketika Talai mengayunkan kaki kirinya ke depan, setitik hujan menyambar tubuhnya.
“Masih tetap bertahan di sini?” tanya orang tua itu mendesak.
“Pergilah kamu terlebih dahulu ke perkampungan.” Talai balik mendesak.
No!” kata orang tua itu dalam Bahasa Inggris. “Jika hanya demi batu kamu rela mati, aku pun demikian.”
“Kamu tahu aku mencari sebongkah batu?”
“Kan sudah kubilang sedari tadi, visi kita ini sama. Sama-sama mensasar batu itu.” Kata orang Tua berkumis terbelah dua itu, sambil pula menunjuk ke arah batu, yang sedari tadi di sasar Talai.
“Dasar orang tua!!” kecam Talai dalam hati.
Bisa-bisanya ia tahu aku sedang mensasar batu itu. Batin talai.
Memang, sejak booming nya batu akik di kampung mereka, orang-orang di kampung itu berburu batu hingga tak pedulikan walau dimusim penghujan. Talai seperti terperangkap oleh keadaan yang membingungkan. Lalu, tak berpikir panjang, ia mengajak lelaki tua itu bekerjasama.
“Baiklah,” kata Talai sejenak. “Kita akan meraih batu itu secara bersama-sama. Kamu tahu, kenapa  batu itu menghasilkan cahaya yang memancar ke mana-mana? Aku sungguh penasaran dibuatnya.”
Sambil berjalan menuju titik sinar tadi, lelaki tua itu berujar: “Kamu hanya fokus pada cahaya itu. Namun, kamu tak pernah memerhatikan cuaca tadi dan cuaca terkini. Beberapa menit lalu, cuaca sedikit cerah. Sekarang?”
“Batu akik telah membutakanmu, Talai!”
Mendengar itu, Talai termangu-mangu. Lututnya seolah bergetar. Bukankah kamu juga ikut terbutakan oleh batu akik, batin Talai.
“Batu akik yang mempertemukan kita di sini.”
“Ya,” kata Orang tua itu. “Namun, kamu juga masih terbutakan oleh cahaya yang membuat jatuh pada pusaran air tadi. Cahaya itu ada, karena pantulan dari sinar mentari. Jika sinarnya menyentuh air, maka ia akan memantulkan cahayanya kembali ke mana saja. Lihat saja, cahaya itu sudah tak ada kan?”
“Aku baru tersadar. Sekarang, angkat itu,” pintah Talai sembari mengangkat ujung batu berwarna hijau tertutup lumut itu.
Setelah berhasil. Mereka mengikat batu itu. Kemudian, mengambil sebatang kayu untuk dipikul ke kampung. Sorak-sorai warga di kampung begitu riuh.
“Lihat… lihat sana!” teriak seorang perempuan memakai kebaya warna ungu. “Lihat pahlawan kampung kita, mereka telah berhasil mengambil bebatuan yang telah lama kita incar.” Teriaknya lagi.
Batu itu kemudian dibelah dengan alat pemotong batu. Dijadikan menjadi sepuluh bagian, dan akan dibagikan kepada warga. Antusias warga bertambah. Mereka berkumpul seperti sedang menyaksikan buaya melawan cicak.
“Batu…batu…” bisik seorang kakek kepada perempuan memakai kebaya ungu tadi. “Batu betul-betul sudah menjadi membutakan kalian semua.”
Talai seketika mendengar bisikan itu. “Kalian? Kalian semua?! Bukankah kita semua?”
Lelaki itu terdiam. Mengerutkan jidat.
“Lihat batu ini. Jika ia dipoles dengan daun pisang yang kering, batu ini akan mengkilap laksana mutiara. Harganya pun terhitung mahal.”
“Apa pernah kamu melihatku memoles batu?” tanya orang tua itu.
“Meskipun tak pernah melihat demikian. Namun, bukti lain telah ada.” Tantang Talai.
“Apa? Mana?!”
“Jemari tanganmu itu begitu indah.”
Orang tua itu seketika menyembunyikan tangannya. Ia baru tersadar, ternyata ia juga memakai cincin batu akik.
 Bantaya Lanoni, 23 April 2015  

Leave a Reply