Jangan Bunuh Kami dengan Sawitmu, Bung!

Oleh: Fhay Hadi

Ilustrasi

Ilustrasi

Tidak terlalu sulit untuk memperkirakan bahwa, pada masa mendatang, tidak perlu menunggu sampai tahun 2050, Indonesia akan dilanda berbagai kekacauan yang bersumber dari kelangkaan pangan dan ketimpangan penguasaan lahan yang makin melebar Agus Pakpahan

***

… Siapa yang mengambil uang 300 juta …?

Hanya berselang beberapa saat, Jokowi telah selesai bersitegang dengan DPR di Jakarta—sekelompok orang tiba-tiba datang bercerita, sambil tersedu-sedu di hadapanku. “Biarkan kami bahagia,” begitu kata seorang dari mereka di awal pembicaraan—sambil menikmati sepoi berhembus dalam selangkangan pohon kayu asam.

Saya kemudian berpikir, apa yang dipikirkan orang-orang itu? Sebaliknya, orang-orang itu berpikir, apa yang sedang saya pikirkan? Ah, berbelit-belit. Tapi, biarkan saja, ini hanya sebuah eksplorasi yang mencoba menggambarkan satu peristiwa—nampaknya sedikit nyeleneh. Biar pun tak terstruktur dengan baik, saya bisa pastikan, bahwa poin-poin dalam tulisan ini, saya tuliskan, sebagaimana di bawah ini.

Tapi, ah, tunggu dulu! Saya ingin mengatakan, dalam memberikan informasi ini, bahwa apapun makanannya, minuman bersih sudah mau habis. Aih … aih … betul-betul nyeleneh. Tidak bermanfaat sekali tulisan ini! Oke … oke … maafkan saya, sekarang, mari kita pada titik masalahnya.

Sebelumnya, judul di atas terinspirasi dari cerita-cerita beberapa petani, yang mencoba memberikan informasi yang masuk ke gendang telinga saya. Dari sisa-sisa informasi itu, saya mencoba membuatkan judul demikian. Karena, sawit seolah-olah, baik sebagian maupun kebanyakan orang. Padahal, bagi sebagian atau kebanyakan orang, sawit tanaman yang menyeramkan, menakutkan, horor, dan mematikan. Wah, lebai!

Meski pun lebai,  tapi saya merasa beruntung mendengar kabar dari para petani itu. Sekaligus, merasa sedih. Loh, kok sedih?

Bagi sebagian orang yang mengatakan sawit itu baik—memang nampak menggiurkan; menguntungkan, memperluas lapangan pekerjaan; meningkatkan pendapatan asli daerah, dan mempertebal dompet para cecunguk-cecunguk, yang mencoba memainkan peran yang sangat strategis. Peran strategis itu, adalah “menggadaikan” Surat Kepemilikan Penguasaan Tanah (SKPT), dari para pemilik tanah, atau petani yang berhektar-hektar. Waduh, seram juga yah?

Dari data yang saya ketahui, bahwa di Sulawesi Tengah, akan kebagian jatah satu juta hektar untuk lahan perkebunan sawit. Informasi itu saya dapatkan dari sumber yang kredibel. Bukan yang mudah dibeli, atau dijual. Dari besarannya saja, saya sempat terlonjak. Hampir jatuh ke laut. Kebetulan saat itu, saya berada di atas perahu. Setelah itu, dia juga mengatakan, bahwa sawit menjadi komoditas yang paling dibutuhkan di dunia. Dengan begitu, berkaca-kacalah mataku yang besar ini. Sedih rasanya!

Loh, kok sedih?

Ah, biarlah saya jawab belakangan saja ya. Saya akan memberikan informasi yang betul-betul membuatku tercengang. Prihatin. Dan, dalam hati, kadang-kadang mengatakan brengsek tu orang! Lagi-lagi, informasi ini dari sumber yang terpercaya, bahkan dipercaya sampai ke Eropa. Baiklah, fokus dulu. Fokus!

Dari sumber terpercaya hingga ke Eropa itu, mengatakan beberapa hal, terkait para cecunguk-cecunguk yang mencoba mengobrak-abrik, segala bentuk persatuan dan kesatuan NKRI. Bahkan, rasa-rasanya, dia ingin berpisah dari NKRI. Wah, makar itu namanya, bung! Terlalu lebai lagi? Biar saja. Biarkan saya. Balaslah dengan surat jika terlalu lebai!

***

Anjing, bisa dijuluki raja penjilat di jagat binatang. Setidak-tidaknya, itu menurut saya. Sewaktu-waktu dia menggigit jika dia lapar. Tapi, sewaktu-waktu pula, dia hanya menjilat-jilat segala jenis kotoran, bahkan kotoran manusia sekali pun. Betulkan? Aamiin kan sajalah, bro!

Lalu, bagaimana jika manusia sering menjilat dalam keadaan sadar, dan menggigit ketika dalam keadaan dompet melempem? Atau, bagaimana jika sang penjilat, mengiming-imingi sesuatu kepada para petani, untuk menyerahkan harta tak bergerak, kepada para pengusaha? Yang jelas, orang-orang seperti itu, di negeri ini, banyak kita jumpai.

Kita juga dapat menjumpai di mana saya berleha-leha dulu sewaktu masih sekolah. Fergi fagi—fulang sore. Sering bolos, dan kadang menggantung sepeda teman di pohon langsat di samping sekolah. Ya, itu ada di tanah Dondo.

Tanah itu, adalah tanah kelahiran saya. Besar dan bergaul selama dua puluh satu tahun—sebelum saya ke Bumi Kaktus. Nah, sepulang dari Bumi Kaktus itulah, informasi-informasi yang membuatku sedikit-sedikit kentut. “Bau” busuk para cecunguk-cecunguk, bukan saja batang hidungku yang mencium. Namun, berdenging keras di telingaku. Pun, rasa-rasanya, pantat ku tak henti-hentinya mengeluarkan angin, hingga berbunyi nyaring, tatkala beberapa orang petani berdiskusi denganku. “Orang-orang sudah menyerahkan SKPT untuk ditanamkan sawit,” begitu penyampaian salah seorang.  

Saya hendak memancing mereka akan pengetahuan tentang sawit. Pengetahuan itu, rata-rata didasarkan atas pengalaman, membaca, menonton, atau bahkan melihat dengan mata kaki sendiri, di mana lokasi sawit berada. Saya juga hendak bertanya, kenapa menolak sawit dan tidak memberikan kesempatan kepada pengusaha untuk mengolah tanah mereka? Rata-rata menjawabnya, seperti di bawah ini:

Sebelum saya menorehkan jawabannya di sini, saya ingin kita melirik sebuah peristiwa yang mengerikan. Di mana kesengsaraan petani, seperti di dalam neraka ketujuh, setelah mengiyakan sawit masuk ke tanah mereka. Kejadian ini, akan menjadi satu pelajaran penting, terutama para cecunguk-cecunguk, yang mendompleng di atas kesengsaraan para petani.

Di Kabupaten Banggai, khususnya di Kecamatan Toili. Di sanalah sebuah perusahaan sawit kelas raksasa, menyiksa dan membunuh pelan-pelan para petani. Baru-baru ini, “nyawa” terakhir mereka, dicabut. Sawah yang berpuluh-puluh hektar ditanami sawit—mereka tak berdaya yang sebelumnya terperdaya. Permasalahannya, adalah janji-janji manis tak jua dilaksanakan, petani digaji tidak sesuai, air bersih telah habis, ekonomi merosot. Jika seperti itu, hendak di bawa ke mana hidup?

Jangankan makan, nge-seks saja nampaknya tak bergairah.  Bisa-bisa mati konyol di atas tanah sendiri. Yang notabene nya, dulu, telah berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi. Nasib memang tergantung orang itu merubah nya. Tapi, nasib juga bisa ditentukan orang lain—yang biadab sekali pun. Dari titik ini, bisa kah yang bisa diambil hikmah? Jika belum, silahkan para cecunguk-cecunguk, mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya di atas penderitaan petani-petani.

Baiklah, saya hendak menuliskan jawaban petani atas pertanyaan ku tadi.  Mereka menjawabnya, bahwa sawit itu mengeringkan air, bung! Ada juga yang mengatakan, sawit itu suka merebut lahan, pak! Satu orang lagi angkat bicara, sawit itu membuat tanah tidak produktif, jika ada tanaman di bawahnya.

Betul-betul jawaban yang cerdas dan berdasar. Katanya, jika sawit datang, kampung akan ramai, ekonomi meningkat, satu lagi, uang bergelimpangan, betulkah itu?

Mari kita menelisik dari berbagai aspek di berbagai daerah. Mohon tetap objektif yah! Loh, bukannya tulisan ini sudah subjektif? Biarkan saja, biarkan tulisan ini mengalir—dan baca baik-baik—mari minum kopi, Bung!

Pertama, dalam catatan Walhi Sulawesi Tengah, PT. Agro Nusa Abadi, mencabik-cabik lahan di Morowali Utara, khususnya di enam Desa di Kecamatan Petasia Timur, yaitu, Desa Tompira, Bunta, Bungintimbe, Molino, Toara, dan Desa Peboa. Apa masalahnya? Adalah tanah mereka digusur dan ditanami sawit oleh PT. ANA. Selain itu, perusahaan itu tidak memiliki HGU. Artinya, mereka illegal. Waduh, nakal juga perusahaan itu, ya?! Kedua, PT. Kurnia Luwuk Sejati, perusahaan raksasa yang saya tuliskan di atas. Perusahaan ini, sebagaimana di atas, telah merampas lahan petani; merambah hutan margasatwa; juga menghilangkan air di sekitarnya. De-el-elDe-es-be-ge

Dari situ, apa yang bisa diandalkan dari komoditas sawit ini? Bisakah yang bisa diandalkan selain dari yang katanya meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), dan pembukaan lapangan pekerjaan? Betul-betul membuat orang yang tidak tahu terpesona. Atau, membuat orang-orang yang tahu, membodoh-bodohi para petani. Di sini titik kecelakaan nya.

Kita tak perlu pandai-pandai dalam menentukan sikap yang hanya merusak tanah air. Tak perlu juga, berkoar-koar untuk memuluskan koorporat  untuk mengubrak-abrik hutan dan kebun. Cukup dengan uang. Ratusan ribu bahkan jutaan. Itu bisa menyelesaikan masalah.

Bagi orang-orang pemberani—yang hendak merusak segala tatanan sosial, ekonomi, budaya, adat-istiadat, perlu diajukan jempol ke bawah. Dan, segala bentuk argumentasi tetek-bengek nya, perlu juga dikatakan, sontoloyo.

Barang tentu, kita tidak sedang berandai-andai, Pak, kataku kemudian kepada para petani, yang sedang dilambai sepoi. Dari mimik wajah mereka, terlihat cukup memprihatinkan. Seolah-olah berkata,  jangan bunuh kami dengan sawitmu, Bung!

Sekarang, pertanyaannya, siapa yang sudah terima duit 300 juta?

Bantaya Lanoni, 8 Agustus 2015

Leave a Reply