Sembilan Jam yang Lalu

Oleh: Rifai M. Hadi
9 jam yang laluSewaktu kau bilang padanya, bahwa tak lama lagi akan pergi ke suatu tempat, entah ke mana, dia sedih, dan memelukmu begitu erat. Hingga malam menjemput, air mata itu menetes dan masuk ke pori-pori pundakmu. Kalian masih terus berpelukan hingga fajar menjemput.
Ibumu memang tak lagi menyapa dan mendengar dengan sempurna, kau selalu menggunakan gaya tubuh dibantu suara seadanya—untuk memastikan, bahwa orang tua di usia senja itu mengerti apa maksud sesungguhnya. Tetapi sayang, dia bergelit dan kau semakin kesal. Rambutnya telah hampir semua memutih—dari situ, wajah itu—sangat berhadap padamu: jangan pergi!
Seminggu kemudian, dengan ketegasan dan kerasnya hati, kau tega meninggalkan orang tua itu sendiri di sebuah gubuk yang reot pula. Apakah kau tak punya hati?
Semalam sebelum kau keluar dari gubuk itu, dia kembali memelukmu. Celah jari jemarinya kiri-kanan saling mengikat di belakangmu, dan kau mencoba ingin melepasnya, tetapi sayang, tak bisa. Seolah-olah dia berkata, bahwa setelah mati, baru kau boleh pergi ke manapun tujuanmu. Itupun kau hanya meringis, dan mendongkol seperti babi kelaparan.
Kini kau sudah menjauh dari gubuk itu—tanpa sepengetahuannya—yang memang masih tertidur pulas. Semilir angin pagi tak kau rasa lagi, padahal tak memakai baju.
Kira-kira seribu meter kemudian, kau bertemu dengan Ambu, sepupumu sendiri. Dia bertanya, tetapi kau menunduk, pun tak menjawab apa-apa. Dia sudah tahu, bahwa di gubuk itu hanya ibumu seorang, sebab memang hanya kalian berdua yang tinggal di sana. Di tangan kirinya, ada bungkusan, yang mungkin akan diberikan kepada orang tua itu. Dan, kaki tanpa alas itu—terus melangkah menyusuri anak-anak ilalang yang tajam. Kalian telah berpisah….
Mimpimu memang sungguh mulia, tetapi kau telah meninggalkan ibu kandung yang tua itu. Yang kemungkinan malaikat pencabut nyawa sebentar lagi akan menghampirinya. Apa kau tak peduli?
Ambu memang sudah tahu, bahwa kau telah dipengaruhi oleh seorang pemuda—yang didengarnya dari ibumu: Kau akan ke kota mencari nafkah. Walaupun di kampung ini kau hanya buruh tani, tetapi tak salah, sebab dengan begitu kebutuhan pangan tertutupi. Atau paling tidak, membawa ibumu ke manapun pergi.
Dia ingin mengejarmu setelah semua ibu menceritakan padanya. Tangan itu telah mengepal, dan dalam pikiran hanya wajahmu—yang akan disandarkan tinjunya. Apakah kau masih ingat sewaktu mencuri pisang Haji Kambul tempo hari, dan tinju itu bersarang di wajahmu? Akibatnya telah diketahui, kau tak makan selama dua hari karena sakit.
Kini, kau berbuat ulah lagi. Ambu sudah berikhtiar, jika dalam waktu dua jam kau tak balik kanan, dia akan mengejarmu, dan mengerjap, menonjok, menghancurkan wajahmu yang bulat itu. Padahal, dia sudah mengatakan padamu waktu itu, bahwa bersedia memberikan ibu makanan setiap hari—selama kau belum bekerja. Kau mengiyakan, pun dia. Tetapi, kau malah membuat keonaran di pikirannya, yang kadang-kadang berubah sadis.
Mungkin kau berpikir, bahwa itu semua dilakukannya hanya karena dendam padamu, sebab kau pernah menghajarnya di suatu sore di pematang sawah milik Pak Jumadil. Tetapi, kau lupa dia lakukan itu hanya untuk ibumu—yang usianya memasuki delapan puluh lima tahun.
“Jukno … Jukno …” teriaknya dari kejauhan. Tetapi kau tak menengok.
“He … Juk … dasar setan!” dia sudah memakimu, tetapi langkahmu masih saja terus melaju.
Ambu mengambil batu lebih kecil dari genggamannya. Dan kau tak sadar, batu itu akan melayang menyasarmu. Ketika mengayun tangan kiri, yang memang paling kuat melempar atau mengangkat—seperti ada malaikat membisikimu, agar segera menengok. Ketika itu kau lakukan, batu itu telah berada satu meter di udara, tepat mensasar kepala. Kau menghindar. Cekatan. Dan, kau berteriak: syukur
“Dia adalah orang tua kandungmu. Perempuan yang membesarkanmu!” teriak Ambu dari kejauhan, tetapi kau hanya menjulurkan lidah—seperti anjing.
“Saya akan kembali!” teriakmu balas. Dan tentu membuat Ambu tambah naik pitam.
***
Ambu sudah menawarkan ibumu untuk tinggal di rumah orangtuanya, tetapi keras kepala, sepertimu. Dia tidak mau, karena masalah dulu. Lalu, kali ini kau memusingkan kepala Ambu, yang sebentar lagi harus pergi ke kantornya.
Ketika pemuda penyayang ibumu itu  mengejar, ternyata langkahmu lebih gesit, karena perutnya sedikit buncit, yang tentu lambat berlari. Kau menang, dan Ambu marah. Dia ingin kembali ke gubuk yang sudah bertahun-tahun ibumu tinggali itu, tetapi jauh, dan duda tak beranak itu memilih pulang ke rumah yang tak jauh dari situ.
Ibumu menangis. Dia tak ingin makan. Ambu hampir stres.
“Makanlah, Mama Tua!” begitu Ambu memanggil ibumu yang sudah tua itu—karena ia adalah kakak dari ibunya Ambu.
Tetapi ibumu hanya menggeleng. Tak mengucapkan apa-apa. Dalam bahasa isyarat tubuhnya, Ambu tahu, bahwa ibumu membutuhkan kehadiran anaknya. Kau, Jukno.
Hari ini, dengan terpaksa Ambu tidak masuk kantor karena mengurusi ibumu. Keluargamu yang lain tak lagi ada yang peduli, karena masalah memperebutkan harta peninggalan kakekmu. Hanya dia, pemuda calon muadzin di kampung kalian. Ia akan terus membujuk, sampai ibumu mengunyah dan menelan bubur, tetapi sayang, dia hanya menunjukkan isyarat memanggilmu.
“Kalau Mama Tua mau makan, saya bawa Jukno ke sini. Sekarang ….” bujuk Ambu dengan prihatin. Dan ia tahu, bagaimana seharusnya memperlihatkan wajah optimis di depan ibumu.
Kau tahu apa respons orang tua yang mengasuhmu hingga besar itu? Ya, benar, hanya menggeleng. Lebih lama. Pun khidmat. Dua hari perutnya tak diasupi sebulir nasi, juga bubur. Kondisinya semakin memprihatinkan, padahal baru beberapa hari kau pergi.
Ambu ingin mencarimu, tetapi tak tahu ke mana harus mencari. Dia bingung di sebuah beranda yang tak jauh dari gubukmu itu. Ibumu tersedu-sedu, menggaruk-garuk lantai papan kasar, dan berdebu. Ingin dibawanya ke dokter, tetapi orang tua itu keras kepala. Dia tak mau. Ambu berteriak keras, hingga burung-burung yang baru hinggap di ranting-ranting Pohon Jawa di sekitar gubuk itu, terganggu dan pergi. Terbang mengkepak-kepakan sayapnya yang halus.
Dia berlari meski menurutnya itu sudah kencang, tetapi tetap saja lambat—ke rumah orangtuanya, untuk memberitahukan kejadian sebenarnya. Ambu meninggalkan ibumu seorang diri di gubuk itu, dengan kondisi yang memprihatinkan.
“Mama Tua sakit. Dia nda mau makan, Ma,” tegas Ambu dengan nafas memburu, ketika sampai di rumah yang tinggi itu, dan telinga ibunya sedikit memerah.
“Sakit apa?” tanya ibu Ambu. Meski bermusuhan puluhan tahun, hanya karena harta warisan itu, tetapi dia masih peduli dengan ibumu.
Nda tau, saya pusing, Ma. Jukno pergi nda tau ke mana. Itu yang dipikirkan sampe nda mau makan…”
Ketika ibunya tertarik untuk mengunjungi gubuk itu, setelah terakhir kali ia mengunjungi lima belas tahun lalu, di sepanjang perjalanan mulutnya komat-kamit memakimu. Antara mendoakanmuu agar cepat pulang, dan menyumpahimu agar mati.
Air matanya menetes melihat kakaknya yang sudah bertambah kurus. Makanan di depannya terhampur berantakan.
“Makanlah, Kak!” pinta Ibu Ambu terhadap ibumu itu, ”Jukno pasti pulang secepatnya ….” lanjutnya dalam rayu. Tetap tak mempan. Kini ibumu terbaring lemas di lantai itu. menunggu kehadiran anak satu-satunya. Kau, Jukno.
Karena wajahmu menyerupai anak kedua dari adik ibumu yang pertama, dan kebetulan mata orang tuamu itu sudah sedikit kabur, maka dia mau makan, setelah melihat Sakiman. Tetapi itu hanya sesaat, pendengarannya tiba-tiba sedikit membaik setelah Ibu Sakiman tak sadar memanggil anaknya dengan keras. Oh, ia merintih lagi….
Dalam seminggu, Jukno, ibumu hanya bisa makan tiga kali, setelah berhasil dikelabui. Tetapi, kondisinya semakin lemah. Menghampiri kritis. Ia diboyong ke puskesmas kecamatan, tentu atas biaya Ambu. Bukan darimu, yang sedang sibuk entah di mana itu.
Selama dua hari ia di puskesmas, dan bukan kembali ke gubuk itu lagi, tetapi di rumah orangtua Ambu. Di sana, meski mereka sulit berinteraksi, dan membujuk untuk makan walau sehari sekali, tetapi tetap berusaha.
Tidurnya kurang dari lima jam sehari-semalam. Para tetangga banyak yang menjenguknya dan membawakan berbagai jenis buah-buahan, tetapi itu tidak menarik perhatiannya. Sungguh, Jukno.
Seminggu kemudian, ia dibawa ke puskesmas lagi. Kali ini betul-betul semakin parah. Tubuhnya semakin mengurus. Rahang giginya telah nampak di permukaan kulit. Mata sesekali melotot, dan Ambu pergi mencarimu. Menyesal dia tak meraihmu tempo hari itu. Dia bersumpah dengan teriakan yang lantang, akan mencopot gigimu.
Sehari setelahnya, Ambu tak menemukanmu. Ia sudah pergi ke pasar, tetapi semua penjual ikan tak mengetahui keberadaanmu. Dia mengkhawatirkan kau pergi ke kota, yang jaraknya enam puluh kilometer itu. Jika memang kau ke kota, maka Ambu pasti tak menemukanmu. Dia hampir menyerah. Terduduk di sebuah teras kios kecil, menjual sembako.
Sementara di puskesmas sana, ibumu telah diinfus. Tubuhnya semakin mengering. Air mata para penjenguk bercucuran melihat kondisinya. Sesekali nafas ibumu ditarik berat. Lalu diembuskan berat pula. Matanya melotot, kemudian memejam beberapa saat.
Setahun lalu, ibu berpesan padamu, bahwa sesulit apapun kehidupan, mesti dihadapi, tetapi lakukan perubahan dengan orang-orang terdekatmu, agar sama-sama bahagia. Kau mengiyakan, dan setelahnya, tidur bersama ibumu, yang katanya disayangi itu. Dia memelukmu, dengan situasi kau bangga padanya.
Ketika Ambu mulai putus asa, dia berbalik. Tetapi tiba-tiba menemukan semacam firasat, bahwa kau menyebut-nyebut namanya dari kejauhan. Ia berhenti, dan menengok di mana asal suara itu.
***
Dia berteriak menyebut-nyebut namamu, ketika bola matanya berhasil menyasar tubuh yang kecokelatan dan berambut gondrong—terutama bagian perut yang berlumur darah itu. Ambu berlari mendekatimu.
“Juknooo … Juknooooo ….” Ambu berteriak dan memangkumu. Bagian pahanya berdarah, dan itu adalah darahmu. Pakaianmu, masih pakaian di mana kau pergi lalu.
Ambu menangis. Dan orang-orang entah ke mana. Seperti terkurung dalam sunyi. Tinggal kalian berdua di pinggiran jalan itu, dan tentunya Ambu tak bisa berbuat apa-apa. Nanti setelahnya, ada yang memberitahukan, bahwa kau telah mencuri di sebuah rumah, dan tertangkap tangan. Lalu kau dikeroyok, dan perutmu ditusuk. Betapa ngeri dirimu, Jukno.
Nanti ketika sebuah mobil Ambulance lewat—sebagai iring-iringan mengantar mayat, barulah ada yang menolong kalian. Dan ternyata, orang yang di dalam Ambulance itu adalah ibumu. Ibu yang merindukanmu selama ini. Kau telah membunuhnya sebelum kau dibunuh—dia telah pergi mendahuluimu, sembilan jam yang lalu.
Bantaya Lanoni, 27 September 2015.

Leave a Reply