Dalam Diam Dia Mencintaiku

Dalam diam dia mencintaikuBulan purnama nampak elok. Sebutir pun hujan tak hadir. Malam berangsur rumit. Serumit hati sang gadis mungil. Bersih tanpa tato. Pun, tanpa kudisan. Aku pernah melihatnya. Sumpah! Nauzzubillah menawannya. Tapi aku tak mengerti, sampai di mana hati berbicara.
Aku berjalan tanpa pedulikan siapa-siapa. Sementara, ada seseorang yang selalu hadir memerhatikanku. Ia begitu gusar. Ingin merongrong. Memaksaku untuk perhatikan saat dia memerhatikanku.
Jatuh cinta memang tak seindah purnama di siang hari. Perih jika tak terbalaskan. Tapi kau percayakah, akan kekuatan cinta itu?
Tidak padaku. Buktinya, sampai hari ini, aku tak pernah jatuh cinta pada siapa-siapa. Pohon-pohon, bahkan memanggil-manggil—memaksaku untuk cinta padanya. Ah, persetan dengan pohon yang setan sukai majang di situ. Siapa juga yang cintai aku?
Perjalananku semakin jauh. Melesat hingga di pekuburan Cina. Nama-nama di batu nisan begitu asing bagiku, kecuali Ao Sing Tong. Seorang pengusaha, mati strok karena kelebihan uang. Aku takut memegangnya. Mendekat saja tak berani. Perasaanku hanya itu: takut. Perasaan cinta? tunggu dulu, nanti akan aku buktikan. Posisiku masih di kuburan.
Semakin terang bulan itu. Dan, seseorang berambut lurus jatuh—bersandar di pundaknya itu semakin dekat mengikutiku. Aku sempat takut diintai Satpol Pe-Pe—yang terjadwal merazia pasangan tak resmi—mesum di pekuburan cina. Ketika langkahku berhenti, terhenti pula dia. Aku kenal dia. Tujuh bulan yang lalu.
***
Siang ini begitu panas. Tanpa diduga, seonggok daging berlapis kulit putih bersih menyodorkanku minuman dingin. Aku menatap lama minuman itu. Tapi yang tak kalah lama, bola mata ini, jangankan berkedip, bergerak saja tidak—untuk sekadar menyasar kulit bersih itu. Pastinya, dia adalah anak manusia. Turunan bidadari, mungkin?
Adi Purnomo, seorang pembalap motor, yang puluhan even dimenanginya—menabrak minuman dingin dalam botol itu.
“Kau tak pernah bersyukur, Tal!” katanya menggerutu. Berbunyi-bunyi tenggorokannya meneguk air. Habis. Sisanya? Hanya botol. Kulit bersih hilang. Mataku mencarinya. Tapi tak ada. Misterius ….
“Dia pergi. Mungkin malu!”
Aku terdiam tanpa kata. Menyesal juga tenggorokanku yang tak dibasahi ini. Aku seorang pria. Pendiam. Kelahiran tujuh juli, dua puluh enam tahun yang lalu. Sepertinya, tak dianugerahi perasaan cinta. Berpuluh-puluh orang tercerai-berai termakan cinta. Menurutku, cinta sejati, hanya ada pada Nabi.
Pasca kejadian itu, Sumatri telah benci padaku. Hari-hari, tak lagi terbayangi bayangan tubuhnya yang langsing itu. Aku hendak meminta maaf padanya. Tapi, sewajarnya ingin mengatakan bahwa aku sedang takut. Aku juga benci padanya. Aku tak sukai dibuntuti laksana intel membuntuti bandar narkoba.
***
Purnama tak pernah bergeming. Aku tersadu-sadu. Kuburan cina  memaksaku belok kanan. Seram. Ya, hanya rasa takut yang kupunya. Dia menyapaku. Pelan. Lembut. Hendak mengaja ke tempat yang disinari lampu listrik. Bukan bulan purnama. Kelelawar terbang hilir-mudik. Mungkin hendak pulang kampung. ia menarik tanganku. Kencang. Penuh tenaga.  Tak ada kehalusan ditampakkannya.
“Kita pergi dari tempat orang-orang mati ini,” bisiknya tanpa suara.
Kau mengikutiku, hanya untuk menarikku, dan mengusirku dari sini? Hatiku bergejolak. Tapi di balik itu, satpol pe­-pe juga harus diwaspadai. Jangan sampai fitnah menerpaku. Dan juga si koplak ini.
“Kau seperti tidak sempurna dilahirkan sebagai manusia. Jangan-jangan kau sudah rusak sesaat sebelum diproduksi?” dia menghinaku.
“Komentarmu buruk. Jangan campuri urusan ketika aku diproduksi. Aku saja, tak tahu. Kau men-judge-ku.”
Terhindar juga dari kuburan cina itu. Bangku taman, masih ada yang kosong. Aku sandarkan pantat yang sedikit besar. Dia hanya berdiri. Rambutnya tertiup sepoi. Terbang menghalangi pandangan.
Perubahan raut wajahnya terlihat jelas. Meski temaram, dia tak bisa berbohong. Mataku dapat menangkap sesuatu yang tidak biasanya. Namun, siapa sangka aku tak bisa jatuh cinta? Ini problem. Jika saja rambu-rambu menuju hati seorang gadis berhasil lolos, apa mungkin sesuatu yang akan terjadi di sana? Entah, apa? Bisa saja, dia mengamuk seperti anjing gila. Bisa juga ia berubah melankolis.
Ah, apakah tuduhan kalau aku gagal produksi memang betul? Lantas, kenapa Tuhan tak memberikanku rasa cinta seperti lelaki lain?
“He … eh …, jangan lama-lama mengkhayal. Bisa-bisa purnama cemberut padamu. Merajut, dan tak nampak lagi di bola matamu.”
“Maksudmu apa?”
Dia tak menjawab apa-apa. Aku biarkan tangan mulusnya membayangi pandanganku. Pipinya yang tembam telah membuat Adi Purnomo terkelepak-kelepak.
***
Adi Purnomo mendatangiku—membawa  kabar bahwa dia dapat juara satu. Betul-betul kabar yang menggembirakan bagianya. Bagiku tidak!
“He, Talai, bin Suprotomo, suka juga kau menyendiri, bagai orang yang lagi kalah judi.” Sore itu, aku berharap, dia akan mengusir Sumatri dalam setiap langkahku.
“Menurutmu, menyendiri itu, perlu?”
“Mana Sumatri?” tanyanya balik.
Dia menatapku tajam. Ada seperti cahaya misterius yang sempat kutangkap, bertepatan dengan seekor burung gereja menyambar dahan lapuk di atas kepala kami. Cinta. Energi itu terpancar dari matanya yang bulat.
Akankah Adi Purnomo cinta Sumatri? Kenapa pula tiba-tiba dia menanyakan Sumatri, dalam keadaan hatiku penuh dengan tanya?
Segeralah aku buang jauh-jauh pikiran itu. kemungkinan, kangen juga Adi pada wanita berpipi tembem itu.
“Tak tahu. Mungkin dia sedang bermain dengan anjing nya.”
Lagi-lagi, dia melihatku seperti sedang melihat sesuatu yang berharga dan sangat disayanginya. Tentu saja aku terkejut ketika dia memegang jemariku yang kasar.
“Kau tak perlu memegang tanganku, hendak meminta bantuan!” tawarku memecah kesunyian.
“Sumatri … Sumatri …,  kau suka padanya?“ astaga, Adi Purnomo bin Samsudin Sokude, menanyai hal yang tak pernah ada di hatiku.
“Aku yang berhak bertanya begitu padamu, Adi.”
“Bukannya dia terus membuntutimu?”
“Ya, itu dia. Bukan aku. Aku tak peduli bagaimana sebuah rasa. Rasa cinta tak pernah kurasa. Seperti apa rasanya?” berharap, Adi bisa membantuku untuk mengilangkan Sumatri di kehidupan ini.
Adi Purnomo bin Samsudin Sokude diam. Wajah kekuningan itu, dipalingkan ke arah senja berlabu.
“Aku ingin bicara sejenak dengan Sumatri. Beritahu, di mana dia sekarang?” Adi mendesakku.
“Sudah kubilang, aku tak tahu,” marahku memuncak. Entah kenapa aku tiba-tiba marah padanya.
Tiba-tiba Sumatri datang ketika aku membuang ludah ke tanah. Belum juga tertutup mulutku, Sumatri duduk dan semakin rapat denganku. Aku gugup dibuatnya.  Pede lebih sangar dari satpol PePe. Keringatku bercucuran. Di taman itu, hanya ada kami bertiga. Aku tak tahu, apa yang terjadi berikutnya.
Adi memecah kesunyian. “Sum,” katanya pelan, “kau bisa jujur, kan?” tanyanya.
“Soal apa, Di?” gugup wajahnya. Darah seolah tak mengalir. Begitu pun denganku. Sumatri semakin mendekat ke arahku. Keresahan bertambah.
Adi menengok ke arahku. Melihat baik-baik wajahku. Aku melawan tatapan itu. Tapi tak sesadis menatap Sumati.
“Kau mencintai Talai?” seperti ada guntur meledak-ledak masuk ke gendang telinga Sumatri. Aku bertambah gugup. Jatungku berdetak cepat. Ah, kau, Adi, telah membuat suasana semakin kacau!
Lama terdiam gadis manja nan cantik itu. Biasanya dia periang. Kini, seperti ada yang menusuk-nusuk jantungnya.
Belum sempat Sumatri membuka mulut, hendak menjawab. Adi kembali menggemparkan seluruh isi bumi.
“Aku mencintai Talai.”
Aku terperanjat.
Astaga, ternyata, dalam diam, dia mencintaiku, kataku dalam marah.
Brengsek!
Aku muntah.
Bantaya Lanoni, 02 Agustus 2015

Leave a Reply