Seorang yang Terilhami

Oleh: Rifai M. Hadi

Seorang yang TerilhamiIa tak bisa menafsirkan segala seluk-beluk kehidupan monyet-monyet di hutan yang tak jauh dari kampungnya, sebab itu bukan ahlinya. Juga, tak mampu memprediksikan sesuatu yang abstrak—dan kemungkinan Nabi Yusuf akan mundur—untuk menebak—seorang ibu yang sedang hamil—dan ketika keluar di sembilan bulan berikutnya: apakah tampan atau tidak! Semua itu hanyalah satu keburukan ketika pembicaraan dilakukan di sebuah warung kopi—tak menentu ke mana arahnya.

Ambu, seketika berubah menjadi seorang yang tak tahu diri—selalu merongrong ketika orang berbicara dengannya. Lelaki yang terkatung-katung kuliah S1-nya itu selalu beralibi, bahwa proses akan menyelesaikan semuanya. Ia sama sekali tak menyadari, bahwa proses dapat selesai, ketika seorang hendak mengerjakan dengan sungguh-sungguh tentunya.

“Kau terlalu mantap dengan alibimu yang tak masuk di akal. Tuhan telah memerintahkan tiap-tiap ummatnya untuk selalu berusaha sekeras mungkin, lalu bertawakallah! Tetapi, kau sungguh tak mengenal semua itu. Bahkan, aku saja, seorang kawanmu ini, selalu kau mentahkan apa yang aku katakan.”

“Apa kau sudah hebat?”

Tak ada lagi suara-suara yang mengalir dari tenggorokanku. Lagi-lagi aku mati kutu dibuatnya. Jika itu adalah akumulasi dari kelemahan jiwanya saat ini, tetapi sedari awal semester, ia sudah akrab dengan hal-hal seperti itu. Betul-betul membuatku tak berdaya.

“Aku tahu, belajar bukanlah menyelesaikan masalah yang sesungguhnya!” katanya di suatu siang di bawah pohon jati, tiga tahun silam.

“Lantas, untuk apa kau masuk di kampus ini?” tanyaku penasaran.

“Kau kira ilmu di kampus bisa menuntaskan kebiadaban dan kezaliman yang sedang terjadi?” aku mencoba-coba menerawang apa maksud sesungguhnya. Ah, begitu lemah otak kiriku menanggapinya secara seriuus. Tetapi, dengan mudah ditebak, bahwa ia sedang frustrasi dengan kondisi keuangannya sejak ia kalah judi beberapa malam lalu.

Setahun sebelumnya, ia sempat mencuci otakku dengan banyak membaca buku dan bersosialiasasi di kelas. Salah satu doktrinnya: bantailah dosen dengan pertanyaan-pertanyaan yang pedas—hingga ia tak mampu menjawabnya. Merahkan wajahnya di hadapan puluhan mahasiswa-mahasiswi itu. Dengan begitu, kau akan dianggap sebagai mahasiswa paling cerdas di kampus.

Setahun setelahnya, aku kembali diperhadapkan dengan sikap yang kontradiksi. Lama-lama ingin meramu sebuah obat yang mematikan, lalu kuminumkan ke mulut, agar otaknya membeku dan mati sia-sia. Tetapi tak semudah itu, tentunya, tak sejahat seperti yang kau kira. Sekarang, aku beritahukan rahasia hidupku ya!

Ayahku adalah seorang tokoh agama. Ia salah satu pegawai sara di kampung. Dengan begitu, ilmu-ilmu agama Islam selalu kusantap setiap hari setelah pulang sekolah. Setiap larangan-larangan Allah pun telah diketahui dan tak mungkin dilanggar begitu saja—tanpa alasan yang jelas dan masuk di akal sehat. Dari situ, aku ingin berteman dengan orang-orang yang imannya telah dirusak oleh dunia. Niatku satu: memperbaiki akhlak.

Kali ini aku hampir dipengaruhi oleh Ambu yang telah dimabuk setan nomor wahid. Seribu satu cara telah kulakukan—semua itu hanya dianggapnya sebagai angin lewat yang tak mempengaruhi apa-apa. Dunia memang telah buta. Membutakan seorang mahasiswa yang hampir di dorp out ini.

“Aku tak pernah menganggap diri ini hebat, Ambu. Tetapi setidaknya, kau mesti menyelesaikan kuliahmu. Syaratnya aa …,”

“Syarat apa lagi, ha?” mulutnya menganga begitu lebar, seperti ingin menerkamku.

Kali ini aku ingin biarkan ia menerkam. Biarkan saja tingkahnya seperti binatang itu! Tak peduli kecuali sebentar nanti—usai sholat Asar—ia  akan terpukau kubuat, dan bertekuk lutut dengan kata-kata yang bisa membekukan seluruh sendi-sendi darahnya.

Akhlak-tinggallah akhlak. Yang paling mujarab adalah kepastian  menuju satu dunia anti kebodohan. Sehingga penjajahan terhadap orang-orang yang bodoh pun terhapus. Aku tak sepenuhnya men-justice orang yang tak sekolah itu adalah orang-orang bodoh, seperti bapakku, ia tak sekolah, tetapi pintar dalam satu bidang. Tetapi, peradaban dunia saat ini, dikendalikan oleh orang-orang pintar—bahkan membuat robot untuk mengerjakan sesuatu sudah bisa dibuat manusia pintar. Nah, jika zaman hanya diisi oleh orang-orang yang dikendalikan zaman, maka mampuslah ia dalam keterburukan. Dan hal itu tentunya, dijadikan Ambu sebagai primadona.

Pertemuanku dengan Ambu ditandai dengan jabatan tangan yang kasar. Ia adalah kakak tingkatku di sebuah kampus yang terbentuk pada tahun 1981. Paling tidak, beda dua tahun aku dengannya. Bayangkan saja, aku telah hampir selesai, dan beberapa kali menasehati seniorku itu tentunya. Tidak mustahil, jika aku tepat empat tahun menyelesaikan studi, dengan kondisinya yang masih tetap membandel dengan diri sendiri.

“Kau harus berubah?” kataku setelah lama membisu.

“Berubah? Berubah katamu? Perubahan seperti apa yang kau mau, Talai?”

Sang penjaga kampus yang aku kenal semenjak masuk—memaksa merogok kantong belakangnya di samping gedung itu. Ia hanya ingin memastikan, bahwa ada uang receh di sana—sebagai tambahan receh lainnya untuk makan di siang ini. Tetapi ia bernasib sial. Tak ditemukannya sepersen pun di kantongnya itu. Lantas, dengan cekatan ia berbalik arah—menemui kawan karibnya yang sedang serius menyapu dedaunan dari atas tanah kering kerontang itu. Aku tak tahu persis apa yang dikatakannya—jelasnya, menurut perkiraanku dari komat-kamit mulut, ia meminjam uang untuk makan di siang ini. Itu saja!

Tragisnya, kawannya itu tak memiliki uang. Artinya, untuk hari ini, mereka sama-sama akan menahan lapar yang tak tahu sampai kapan. Aku ingin menghampiri dua sejoli itu, dan hendak memberikan sisa uangku beberapa hari lalu. Tetapi, tak ingin memutuskan pembicaraan dengan Ambu yang menyebalkan. Ketika Om Wis, sang penjaga kampus itu, menengok ke arahku, dengan gesit kuangkat tangan, hendak menyuruhnya mendekati kami di bawah pohon ini.

“Ubah sikapmu yang membandel itu. Dengan begitu, kau akan menyelesaikan dan menuntaskan kebahagiaan ibu-bapakmu!” kataku.

Om Wis telah sampai dengan terengah-engah. Ia tahu, bahwa aku akan memberikan beberapa lembar uang, dan aku juga tahu, bahwa ia mengharapkan keribaan hatiku.

“Cukuplah untuk makan bersama Om Pam,” kataku sembari memberikan beberapa lembar uang kertas lima ribuan. Ia menerima dengan senang hati dan pergi.

“Terima kasih,” ucapnya. Ia hilang bersama angin.

“Lantang sekali kau menyuruhku merubah sikap. Apa ada masalah denganmu terhadap sikapku, haa?” pungkas Ambu dengan nada yang naik turun. Ia marah. Betul-betul tak ingin menerima seonggok nasihat dari adik angkatannya.

Tahu srigala? Ia seolah-olah seperti itu! ingin menerkam dan membunuhku, hingga dipastikan tak bernyawa. Tetapi pada kondisi lain, aku sedikit menghindar, agar bisa memastikan, kepalan tangan itu tak mampir di wajahku yang polos. Wajahnya berwarna seperti abu rokok, lalu berlahan-lahan memerah, tiba-tiba saja menghitam, mengikuti lembaian awan menutupi sinar-sinar yang menusuk dedaunan itu. Om Wis kembali menghampiri kami, ia berkata bahwa besok akan mengganti uang yang kuberikan padanya tadi. Lantas kujawab enteng, jika sewaktu-waktu aku kesulitan, Om Wis dengan senang hati pasti membantuku. Lalu ia berlabu lagi.

Rupanya, Ambu sedikit tersinggug, sebab yang kukatakan sebelumnya, pernah diucapkan sang pacar—yang terlebih dahulu lulus kuliah—namun karena Ambu keras kepala, akhirnya Witri memutuskan hubungan. Pada akhirnya, ia kembali mendengar dariku—dan hampir bisa dipastikan, pertemanan kami pun akan tamat. Matanya berputar-putar seperti bola kaki yang ditendang ke udara. Lalu pada titik di mana sehelai daun menyambar tanah—mata itu mengarah padaku.

Esoknya, ia berubah. Nampaknya, semalam ia diilhami  oleh cahaya kebaikan. Kebaikan dari langit yang dibawa malaikat. Aku sedikit tercengang tentunya. Dan, pada saat-saat di mana ingin menghindari—ia memanggilku dengan lantang seperti biasanya—untuk sekedar menyegarkan daun telinga, bahwa “Terima kasih sudah memberikanku pelajaran, sebab jika tidak, aku tak peduli bisa selesai atau tidak!”

Ia memelukku. Erat. Seperti tak ingin terlepas. Pada titik itu, aku membalas pelukannya. “Sama-sama!” ujarku.

Bantaya Lanoni, 27 September 2015  

Leave a Reply