Perokok yang Anti Rokok

Ilustrasi

Ilustrasi

“Merokok itu tidak dilarang … selama di tempat yang tidak dilarang ….”

Cuaca terik. Panas menyengat. Kulit terasa rapuh. Keringat bercucuran. Andai saja di setiap perjalanan ini terdapat alat pendingin, maka sudah pasti orang-orang akan memilihnya. Namun, pilihan hanya ada ketika ada pembanding—yang praktis!

Ya, siang itu, saya akan mengikuti sebuah kegiatan—dan, karenanya, harus memakai angkot. Semua tahu, bahwa di dalam angkot tak ada alat pendingin. Dan yang pasti lagi, pengap menyeruak di dalamnya. Saya tak peduli itu! Asal tidak terlambat.

Jakarta. Kota megapolitan. Penuh sesak tiada tara. Himpit manusia dan kendaraan tak bisa terelakkan. Apalagi, gedung-gedung pencakar langit itu ….  

Oh, ya, sudah beberapa kali saya naik angkot di kota ini. Menuju dari lokasi satu ke lokasi lain. Pertemuan demi pertemuan diikuti. Tetapi, hampir setiap kali menaiki angkot, ada saja asap rokok yang melanglangbuana di dalamnya. Satu kali saya tak jadi naik. Padahal pantat sudah menyambar tempat duduk di dalam angkot itu. Saya turun—hanya karena asap rokok.

Waktu terus berputar. Untuk menuju ke tempat kegiatan, membutuhkan beberapa menit—kalau tidak macet, kurang sedikit satu jam. Tetapi jika macet, bisa sampai dua atau tiga jam. Ketika angkot datang menghampiri melalui pengemudinya, saya tidak tertarik. Karena, lagi-lagi, asap rokok menyebar di dalam mobil itu.

Terpaksa harus menuunggu angkot lain. Dan, akhirnya, dapat. Bersih dari asap rokok.

Saya masih berpikir, kenapa orang-orang itu tak pernah kenal tempat? Tempat apa? ya, tempat untuk merokok!

Ya, merokok, bagi sebagian orang—nampak menyenangkan. Seperti kebutuhan mutlak. Jika tidak merokok bisa pingsan. Atau pusing tak ada inspirasi, atau semacamnya. Atau bahkan mati. Tetapi bagi sebagian lain, asap rokok begitu dibenci. Seperti membenci anjing yang menjilat makanan sang tuan.

Di kota besar seperti Jakarta, ada beberapa aturan tentang larangan merokok. Ya, dilarang merokok di tempat umum. Hal ini, tentunya, didasarkan atas ketidaknyamanan atas perokok pasif. Maksudnya, mereka juga membutuhkan udara yang segar. Artinya, anti rokok adalah hal yang mutlak dilakukan—bagi mereka yang nda merokok.

Saya sendiri adalah seorang yang perokok aktif, setidak-tidaknya sejak SMP. Setelah mencoba mengingat-ingat kembali, kenapa bisa merokok, ternyata tak mampu. Semua lupa. Lupa karena belum minum kopi.

***

Di pintu masuk angkot, biasa kita melihat stiker tertempel rapi—bertuliskan, “Larangan Merokok di Dalam Angkot”. Stiker itu tak terlalu besar, paling tidak menyerupai buku tulis SD.

Ya. Di Jakarta. Di sana, merokok di tempat umum masih marak ditemui. Terutama para supir angkot. Sesekali saya juga menemui penumpang yang merokok. Padahal, banyak penumpang lain bersamanya. Akibatnya, sesama penumpang tak nyaman.

Seharusnya di dalam mobil ndak bisa merokok, karena mengganggu penumpang lain. Kalau merokok di luar tidak dilarang, tetapi “Di dalam angkot jangan!” tegas Bonang, salah satu Supir Angkot kepada saya di siang itu.

Bonang, sama seperti saya: perokok aktif. Tetapi ia memilih untuk tidak merokok di dalam angkot yang dikemudikannya.

Sebenarnya sudah ada Peraturan Gubernur yang melarang merokok di dalam angkot, katanya. Tetapi dia mengaku, tidak bisa bilang apa-apa jika ada penumpang yang merokok di angkotnya. Cukup penumpang lain yang menegurnya. “Jelas penumpang lain itu marah,” ujarnya.

Beberapa penuumpang juga ikut berkomentar ketika saya tanya. Salah satunya adalah Sinta. Ia mengatakan bahwa merokok di dalam angkot bikin sesak napas. “Di angkot kan tertutup gitu, kalau dia ngerokok, ngeganggu penumpang yang lain dong!” ujarnya.

Namun satu hal, ia juga sebenarnya tak berani menegur secara langsung para perokok itu. “Hanya lewat sindiran, dengan cara menutup hidung dan mulut!” tegasnya.

Setelah saya Googling, di Jakarta ini, sebenarnya, telah ada beberapa peraturan yang khusus mengatur tentang pelarangan merokok, seperti: Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 tahun 2005 tentang Pencemaran Udara; Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 75 tahun 2005 tentang kawasan Dilarang Merokok; Pergub Nomor 88 tahun 2010 tentang Perubahan Pergub Nomor 75 tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok; dan Pergub Nomor 50 tahun 2012 tentang Pembinaan, Pengawasan, dan Penegakan Hukum Kawasan Dilarang Merokok.

Tetapi peraturan tersebut masih belum dijalankan secara maksimal, sehingga masih terdapat masyarakat yang merokok.

Menurut hasil survei Koalisi Smoe Free Jakarta, bahwa terdapat 1.550 tempat umum selama kurun waktu 2014-2015, ada sekitar 1.085 masih melanggar peraturan Kawasan Dilarang Merokok. Menurut mereka bahwa, hanya dengan penegakan hukum dan penerapan sanksi, satu-satunya cara agar kawasan dilarang merokok bisa efektif. 

***

Jadi, saya dan Bonang adalah perokok aktif yang anti rokok—jika merokok disembarang tempat. Menghargai kenyamanan orang lain itu perlu, bro! Mestinya, kita nda merokok di tempat-tempat umum, apalagi di tempat sedikit tertutup seperti angkot.

Jakarta, Oktober 2015

Discussion

Leave a Reply