Pras dan Racikan Kopinya

Suasana meracik kopi yang dipimpin oleh Pras.  Dok. Ahmad Pelor.

Suasana meracik kopi yang dipimpin oleh Pras.
Dok. Ahmad Pelor.

Pekat, jika memang serbuk terlalu banyak. Apalagi, serbuk buatan nenek saya ….

Ya. Kali ini menuliskan tentang kopi.

Sebagian orang, jika serbuk kopi bercampur gula dan air panas—mengalir ke tenggorokan—merubah otak menjadi encer. Tenang dan tak reseh. Tetapi bagi sebagian lain, kopi menjadi bagian tak nampak di dapur mereka.

Serbuk kopi, kita bisa mendapati di mana-mana. Di warung, di swalayan, di kios, di kantor, di perusahaan, di rumah, di pondok sawah, dan lain sebagainya. Periksa! Pasti ada!

Tentu saja bukan main-main, di hampir seluruh penghuni dunia, bangun tidur, akan mencarinya. Tinggal diracik saja sesuai selera lidah. Kalau saya, tujuh gram campur air lima ratus mili, kemudian gula sekucupnya. Aduk. Lalu, teguk. Nikmat.

Serbuk-serbuknya hitam. Tapi kadang-kadang ada bintik-bintik putih, juga cokelat. Kopi memang terasa pekat di lidah, lalu pelan-pelan menuju ke tenggorokan. Kemudian menyasar jatung.

Tak heran, para penikmatnya begitu ketagihan. Mencarinya di mana-mana. Jika tidak, maka pala barbie akan pucing. Kadang, orang-orang tertentu tidak bisa berpikir jernih jika tidak mengonsumsinya. Ya, itulah dahsyatnya kopi. Cita rasa dan aromanya, menggelembung ke udara. Hingga, hinggap ke lubang hidung.

Sejak abad sembilan, kopi hanya ada di Ethiopia, yang ditanam di dataran tinggi di sana. Kemudian, Bangsa Arab mengembangkan perdagangannya hingga ke Afrika Utara—biji kopi pun bisa dijumpai di sana. Dari Afrika Utara itulah, kopi merambat ke Eropa dan Asia. Penyebarannya begitu cepat, secepat menyebarkan ceramah-ceramah tauziah.  Di pelosok, di kota, di Ambon, di Palu, di Jawa, dan di Toraja, periksa, ada kopi tidak, di sana?!

Kami serius menyimak cara Pras meracik kopi.  Dok. Ahmad Pelor

Kami serius menyimak cara Pras meracik kopi.
Dok. Ahmad Pelor

Hingga sekarang, pengusaha kopi merembet ke mana-mana. Jika ditinjau dari sektor ekonomi, pekerjaan ini memang cukup menjanjikan. Apalagi, ditekuni dengan baik. Semua jenis kopi, dapat disediakan sesuai jenis humus tanah. Sebab, jika kopi di tanam di tanah yang dahulu ditanami Jati, maka rasanya akan berbeda, dibanding dengan tanah yang belum ditanami apa-apa terlebih dahulu.

***

Menjelang magrib, tiba-tiba telefon genggam saya berbunyi, “Jika ingin belajar meracik kopi, datang ke kantor!” begitu kira-kira isi pesan singkat tersebut.

Tentu saja tak menelan mentah-mentah pesan itu. Sebab, sang pengirim pesan singkat ini, selalu mengisi saya “dalam botol”—selalu berbohong. Ya. Sudah capek-capek ke Tempat Kejadian Perkara (TKP), eh, ternyata tak terjadi apa-apa. Ya, sudah lebih dari lima kali saya dibuatnya seperti itu. Anehnya, saya selalu tertipu. Tetapi kali ini, otak kiri bekerja ekstra.

“Coba kirimkan fotonya!” balasku melalui BBM. Ini artinya, melalui foto yang dikirimkannya itu, sebagai bukti bahwa benar di sana ada sebuah kegiatan yang meracik-racik kopi. Tak lama kemudian, BBM di HP saya pun berbunyi. Bukan hanya satu,  kira-kira lima foto yang dikirimkannya. “Wah, ternyata betul adanya,” dengung dalam hati.  

Lantas, dengan cekatan mengambil motor butut inventaris kantor di mana saya bekerja. Menstarter berkali-kali, tetapi tak mau bunyi—memang sudah ketuaan—tetapi tentu saja, melebihi tua saya. J Keringat bercucuran. Pikiran berkecamuk—sebab memikirkan moment yang hebat di kantor teman saya itu.  

Tepat delapan belas kali saya starter, akhirnya motor itu mengalah. Bunyi dan berangkat … Kebetulan, jarak antara kantor teman saya dan kantor saya, tak sejauh antara Palu dan Belanda. Jadi, ya, sepuluh menit kemudian tibalah di kantor yang menjadi pusat perjuangan anak-anak muda yang jomblo itu.

Di sana, ada tujuh orang, sedang asyik melakukan atraksi meracik kopi. Banyak alat-alat  yang baru saya kenali berhamburan di atas meja besar. Dan, seseorang yang masih asing. Lalu, seorang rekan mendenging, “Istirahat dulu!”

Kata-kata itu seolah membuatku sia-sia. Rupanya eksperimen meracik kopi sudah dilakukan beberapa menit lalu. Waktunya istirahat, karena babak pertama sudah di penghujung—sesaat setelah saya tiba.

“Siaaal!” berontak saya dalam hati.

Seorang yang asing tadi, adalah Pras. Lantas, saya berkenalan dengannya. Ia berasal dari Kota hujan. Bogor. Setelah berbincang sedikit, akhirnya kami berpindah lokasi—ke teras kantor itu.

Lelaki separuh baya itu, datang ke Bumi Kaktus, hanya untuk meneliti sosial—budaya. Tetapi, selain meneliti, kegemaran tentang meracik kopi tak pernah absen dalam keseharian nya. Sebagai bukti, ke mana-mana ia membawa seperangkat alat pembuat kopi; berbagai jenis kopi; dan se-gudang ilmu tentang kopi. Luar bisa, bukan?!

Ada tujuh jenis kopi yang ada dalam ransel kuning milik Pras itu. Ia menunjukan dan menyebut satu-satu nama kopi: kopi Palembang; kopi Jember; Kopi Luwak; Kopi Toraja; dan, ah, saya lupa kopi apa lagi!

***

Pras serius menunjukan pada kami cara meracik kopi. Dok. Ahmad Pelor

Pras serius menunjukan pada kami cara meracik kopi.
Dok. Ahmad Pelor

Akhirnya dimulai lagi ….

Sebelumnya saya sempat diam. Pun yang lain. Kami memerhatikan Pras ke sana-ke sini—sibuk sendiri mengambil gelas, sendok, memanaskan air, tanpa ada yang membantu. Dan ternyata, memang harus dilakukan sendiri. Sebab, kami di sana belum ada yang mengetahui—meski babak pertama baru saja selesai.

Tentu saja saya perhatikan secara saksama. Ia mengambil enam buah gelas, dan tiga jenis kopi. Alat penghalus biji kopi tadi masih tetap berdiri kukuh di atas meja. Lalu, ia menggiling biji kopi hingga halus. Serbuk dari tiga jenis kopi kemudian ditimbang. “Harus sama berat!” tegas Pras di tengah kesibukannya.

Oh, ya, satu jenis kopi terdapat dua gelas, maka beratnya akan berbeda pula. “Untuk memastikan, kekhasan cita rasa melalui berat,” tegas Pras lagi. Maksud aku, lanjutnya, setiap satu jenis kopi terdiri dari dua gelas—yang berat bubuknya tentu saja berbeda. Kuharap, kalian akan menilai di mana yang paling mantap dari tiga jenis kopi—terdiri dari enam gelas yang berbeda. “Paham?!” tanyanya dalam tegas.

Air telah mendidih. Serbuk kopi telah berada di dalam gelas masing-masing. Ia menuang air ke gelas itu. Pelan. Sepertinya ia menahan napas. Lalu, didiamkan beberapa saat. Woww … aroma kopi menyeruak ke seluruh ruangan itu. Harum.

Tentu saja Pras tak mencampurinya dengan gula. “Silakan dicicipi!” pintanya.

Ia mengambil beberapa lembar kertas. Tentu saja tak kosong. Ada beberapa pertanyaan yang harus kami jawab—tentang penilain racikan kopi dari enam gelas itu. “Masing-masing satu satu sendok satu orang,” katanya. Silakan isi apa yang kalian rasakan, lanjut Pras sambil terbahak-bahak.   

Kami menjawab pertanyaan yang tersedia. Selesai. Dan, saya lalu berpikir, ternyata, meracik kopi—untuk mengetahui selera orang lain, harus diadakan penelitian. Artinya, meracik kopi sesuai selera sendiri, itu mudah. Tetapi, untuk selera orang lain, sungguh susah.

Di titik itu, saya kagum dengan Pras. Pria sejati penikmat dan peracik kopi.

Bantaya Lanoni, Oktober 2015

Leave a Reply