Jangan Berhenti, Dik!

Ilustrasi buatan sendiri.

Ilustrasi buatan sendiri.

ORANG-orang pasti akan percaya jika dia tertidur lemas di gubuk peninggalan bapaknya itu. Pak Sumanto, seorang tuka sate, juga akan percaya kalau Sumatri sering meminta makanan kepadanya. Pak RT, akan percaya jika anak itu sering mengganggu tetangga ketika merintih. Tapi, Kepala Sekolah, tidak akan percaya, jika bocah SD itu hendak membakar semua seragam sekolahnya.

Kau tak perlu berandai-andai begitu lama di depan cermin yang besar! Tak perlu juga berpikir keras di dalam kamar yang berpendingin! Atau, kau tak perlu berceloteh berjuta-juta kata untuk merangkai kalimat yang indah! Percuma. Semua itu tak ada gunanya. Pak RT saja, tidak akan percaya. Kau hanya perlu mengagalkan Sumatri berhenti sekolah! Titik.

“Caranya?” tanya seorang lelaki berambut berbelah pinggir. Model rambut nya itu, sudah ada sejak tahun sembilan puluhan. Berat sebelah. Rambut sebelah kanan lebih condong banyak dari pada sebelah kiri. Rambutnya berminyak, setelah sesaat memakai minyak kemiri milik bapak nya.

“Itu tugas mu ….“

Ambu menatap wajahnya yang terpampang di cermin. Dilihat-lihatnya model rambut Superman itu. Dia semacam tak percaya, kalau adik kelasnya itu telah membakar semua peralatan sekolah. Mungkin dia frustrasi, pikir Ambu sejenak.

Tentunya, di depan cermin itu, sambil melihat-lihat tubuh yang dekil, Ambu menyisipkan satu langkah strategis untuk mewujudkan cita-cita sang adik kelas. Sumatri.

Sumatri mungkin telah lupa pernah berkata kepada Ambu, bahwa dia tak akan pernah berhenti sekolah walau banjir menenggelamkan sekolah sekali pun. Tentunya, itu bukan cita-cita. Tapi, sebuah kesungguhan Sumatri untuk keluar dari kebodohan. Dan, tentu, dengan semangat seperti itu, cita-cita mulia akan tercapai.

Belum juga selesai Ambu menyetel rambut bagian belakang, tiba-tiba dia dikagetkan suara hentakkan dari luar kamar.

“Ambuuu …, cepat! Nanti kau terlambat!” kakaknya terus memaksa Ambu disiplin. Adiknya yang punyai cita-cita sama seperti cita-cita Sumatri itu, bergegas keluar kamar.

“Iya …, iya …. “ kata Ambu. Dia bergegas memakai sepatu hitamnya yang lusuh. Di rak, satu-satunya sepatu terpampang di sana adalah sepatu Ambu. Warna hitam tercabik-cabik kecil.

***

Setahun lalu, Sumatri kehilangan ibunya untuk selama-lamanya. Dua minggu dia tidak masuk sekolah—karena sedih menghampiri hidupnya. Baru saja, dia naik ke kelas tiga di sekolah dasar di kampung, hadiah kesedihan yang diterimanya, adalah setelah memberikan hadiah juara satu pada ibunya. Sumatri tak habis pikir, kenapa mendiang ibu secepat itu dipanggil Tuhan di saat dia yang terhebat dibanding teman-temannya!

Kini, baru tiga hari lalu, kecelakaan menimpah bapaknya. Anak sebatang kara itu, membayangkan bagaimana pesan mendiang bapak sebelum pergi ke laut hendak memancing. Jaga rumah baik-baik, Atri! Jika bapak belum juga pulang, tak usah mencariku. Rumah ini hadiah untukmu. Mendengar itu, hati Sumatri seakan pilu. Seolah-olah bapak pergi dan tak pernah kembali ke rumah itu lagi.

Betul saja, firasat Sumatri tak meleset. Bapaknya meninggal, karena perahu diterjang badai di lautan lepas.  

Siapa yang hendak dia harapkan untuk melanjutkan pendidikan yang serba mahal? Pada siapa dia hendak menceritakan hasil-hasil belajar di sekolah? Pada siapa dia mencurahkan seluruh isi hati? Pada siapa hendak meminta uang? Pupus! Itu-lah kenyataan yang dialami Sumatri.

Pelajaran di sekolah mungkin membahagiakan, tapi kehidupan Sumatri kini tergagap-gagap. Kepala sekolah tepuk jidat, ketika diketahui, murid kesayangan itu membakar semua seragam sekolah. Termasuk penghapus, dan peraut.

***

Jika seharian Ambu menerima pelajaran yang menyenangkan, Sumatri hampir sepanjang hidup kehilangan bahagia.

Tiba-tiba, entah kenapa, Ambu terprovokasi dengan keputusan yang diambil Sumatri, adik kelas yang cerdas. Dia ikut-ikutan tak masuk sekolah hanya untuk menghampiri Sumatri di rumah warisan yang peot. Dengan makanan yang dia bawa—bergizi  itu, Ambu sempat berkeluh kesah atas semangat yang menimpanya.

“Makanlah, Dik! Kau pasti lapar, kan?” tawar Ambu di pagi itu.

Sumatri membisu. Pikirannya berlabu pada bapak dan ibunya. Tidak pada makanan itu. Tidak! Dia tidak perlu makanan—hanya perlu kehadiran bapak dan ibu di sampingnya. Tidak juga Ambu ….

Melihat sikapnya, Ambu merasa sedih. Tak seperti biasa, Sumatri bersikap seperti itu padanya. Jika pun iya, pasti ada kesalahan fatal yang dilakukan Ambu.  

“Ayolah, Dik! Jika kau tak makan, kau akan sakit ….“

Diam.

Saat itu, Ambu hanya berpikir, kepala sekolah nya akan memeriksa satu-persatu ruangan kelas. Di kelas lima, pasti satu kursi yang kosong. Di kelas empat, satu kursi yang kosong. Jika seperti itu, kepala sekolah pasti akan menyerangnya membabi buta, tanpa mendengar alasan. Jika Sumatri memberi alasan, kepala sekolah itu akan bersedih berhari-hari.

Lama juga Ambu merayu adik kelasnya itu. Tetapi gagal. Dia meninggalkan Sulastri seorang diri. Rantang makanan masih terbujur kaku di samping kiri anak kecil itu. Ambu beranjak. Pergi ke sekolah. Terlambat.

Pikirannya terbayang-bayang ketika dijemur tepat di depan kelas. Jika saja kepala sekolah percaya terlambat, hanya karena bertemu Sumantri—untuk memberikannya spirit, dia tidak akan seperti ikan kering menyembah matahari. Tapi, kepala sekolah sekaligus guru itu, paling galak se-nusantara.      

***

Siang, lonceng berbunyi—tanda sekolah berhenti di hari itu. Esok, akan kembali seperti semula. Ambu mengunjungi rumah sang adik kelas itu. Bola mata yang bulat itu menangkap sosok Sumatri terbaring lepas di atas ranjang yang hampir rubuh.

“Dik, kenapa tidak makan?”

Linangan air mata anak itu tak terbendung. Ambu pun terisak-isak. Ketika berpapasan dengan dinding pitate yang termakan rayap, Sumatri bangkit. Sedikit merayu.  

“Kak, terima kasih sudah berbaik hati pada saya. Adakah orang baik, sebaik Kak Ambu? Adakah orang peduli, anak yatim-piatu ini? Hanya Kak Ambu yang nampaknya sibuk-sibuk mengurusi kehidupan saya—meski sekadar memberikan makanan dan menghibur.”

Ambu membuka rantangannya.

“Jangan lagi bersedih, Dik. Makanlah! Makanan ini akan memulihkan semangatmu. Yakinlah!”

“Semua sisa-sisa makanan itu, telah saya habiskan, Kak. Semalam, saya memang tidak makan. Adakah makanan yang bisa diharapkan di sini? Kak Ambu lihat sendiri, kan?”

Sumatri! Oh, Sumatri! Betapa malang nasibmu, Dik.

“Kau tinggal di rumah saya saja. Saya sudah memberitahukan keluarga. Dalam hasil musyawarah, mereka sepakat.”

“Saya malu, Kak. Malu!”

“Apa yang kau malukan, Dik?”

Tak terjawab.

Makanlah kedua anak manusia itu. Hidup Ambu, kini dipengaruhi kondisi Sumatri. Cita-cita mereka sama. Bersama-sama pula harus diwujudkan. Tak ada yang boleh berhenti.

“Dik, jangan berhenti sekolah, ya?”

“Apa yang kupunya, Kak? Apakah harus menjual rumah peninggalan? Gila!”

Cita-citamu tinggi, Dik. Sama seperti saya. Kau telah menggantungkan cita-cita di denyut nadimu. Lalu, kenapa kau putuskan? pikir Ambu.

“Jangan kau pikir biaya, Dik. Apalagi soal gizi dan vitamin untuk tubuhmu. Semuanya, urusan keluarga saya. Tinggalkan saja rumah ini. Tugas kita, setiap hari ke sini, hendak melihat rumah ini—untuk melepas kangen pada ibu dan bapakmu, Dik.”

Tubuh Sumatri seperti terbang laksana kapas tertiup angin. Dia tak percaya, Ambu sebaik itu padanya. Meski rongrongan duka menyelimutinya, semangat itu seolah-olah akan bermuara lagi.

Jangan berhenti, Dik! teriak Ambu dalam hati.

Bantaya Lanoni, November, 2015

Leave a Reply