Hutan, Sebagai Kunci Rumah Badak Jawa

Sumber foto: www.wwf.or.id

Sumber foto: www.wwf.or.id

Ada sebenarnya yang lebih menggelitik dari sebuah lelucon tentang, perdebatan-perdebatan di atas meja mengenai satwa langka. Adalah memberangus implementasi dari peraturan-peraturan terkait tentunya. Pun, dengan area-area konservasi. Di Indonesia, ada beberapa satwa liar yang sudah langka, dan pada akhirnya dilindungi. Salah satunya adalah Badak Jawa.

Badak Jawa, atau Badak Bercula-satu kecil (Rhinoceros sondaicus). Badak ini pernah menjadi salah satu badak di Asia yang paling banyak menyebar sejak dahulu. Tetapi saat ini, hanya tersebar  di Taman Nasional Ujung Kulon, ujung barat Pulau Jawa dan Taman Nasional Cat Tien sekitar 150 Km sebelah utara Kota Ho Chi Minh. Di Ujung Kulon ini, diperkirakan mencapai kurang lebih 100—dan masih berada di alam bebas. Dan, saat ini, terancam punah.

Ketika populasi Badak Jawa ini mulai terendus, disebabkan oleh perburuan cula, yang mencapai 2.000 tahun lamanya—di Tiongkok di gunakan untuk pengobatan tradisional. Ketika Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora pertama kali diberlakukan tahun 1975, Badak Jawa dimasukan ke dalam perlindungan Appendix 1: semua perdagangan internasional produk Badak Jawa dianggap ilegal. Survey pasar gelap cula badak telah menentukan, bahwa badak Asia memiliki harga sebesar $30.000 per kilogram, tiga kali harga cula Badak Afrika.[1]

Ini membuktikan, bahwa Badak Jawa begitu bernilai tinggi hargnya. Sehingga, tidak sedikit orang mensasarnya, untuk kepentingan bisnis. Namun, pada tingkat tertentu, kekeliruannya adalah, ketika telah menghampiri kepunahan baru ditegaskan dilarang. Meskipun, pada tahun 1883, letusan gunung Krakatau, Semenanjung Ujung Kulon diluluhlantakkan, yang mengakibatkan banyak populasi satwa yang tewas.

Menurut  Strategi Konservasi Badak Indonesia, Dirjen PHPA Dephut RI, bahwa pada tahuun 1993, terdapat paling tidak 58 Badak Jawa di Ujung Kulon. Artinya, populasi ini lebih kecil dibandingkan pada tahun 1989 yang mencapai 62 Badak Jawa. Sementara, data dari WWF Indonesia, menunjukkan bahwa, pada tahun 2011 hanya sekitar 50 ekor individu di alam liar. Ini artinya, dari tahun ke tahun, populasinya semakin menurun.

Sadar atau tidaknya, ambang kepunahan Badak Jawa ini, adalah bentuk keprihatinan bersama, sebab jika badak terakhir tewas, maka tamatlah spesies ini.

Saya berpendapat, bahwa Hutan adalah tempat di mana Badak Jawa ini bermukim, yang merupakan satu-satunya tempat Badak Jawa mampu berkembang biak secara alami, pada dekade terakhir ini. Artinya, Cagal Alam Ujung Kulon yang memiliki luas mencapai 122.956 Ha ini harus mampu dipertahankan—guna melindungi habitat yang ada di dalamnya.

Jika Undang-undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan Undang-undang tentang kehutanan, di jalankan dengan sebaik-baiknya di lapangan, maka habitat Badak Jawa ini, berpotensi berkembang, sebab, tunjangan pengawasan di lapangan diketatkan maka hutan-hutan yang mana tempat Badak Jawa ini berteduh, tetap lestari dan terjaga sebagaimana mestinya.

Upaya-upaya preventif ini harus dilakukan, terutama memberikan pemahaman kepada siapa saja, di sekitar taman nasional tersebut, bahwa pentingnya menjaga kelestarian hutan—sebagai area konservasi adalah hal mutlak dilakukan—dan menegakkan regulasi dalam hal penindakan dipastikan jalan tentunya.

Olehnya, menurut saya, World Wildlife Fund for Nature (WWF-Indonesia) sebagai lembaga konservasi yang konsens dan penuh komitmen untuk bekerja terkait dengan isu kehidupan alam liar, dan lingkungan, menjadi satu harapan, bahwa keberadaan Taman Nasional Ujung Kulon, pun habitat di dalamnya mendapat perhatian khusus dari lembaga-lembaga sosial.

Dengan begitu, ketika hutan tetap terjaga, yang notabenenya menjadi rumah Badak Jawa, maka bisa diyakini, bahwa habitat ini akan tumbuh nyaman dan bertambah populasinya.

*Tulisan ini pernah diikutkan dalam lomba menulis yang diadakan oleh WWF Indonesia bekerja sama dengan Viva.co.id

 

[1] Lihat di: https://id.wikipedia.org/wiki/Badak_jawa

Leave a Reply