Mengapa Kita Harus Ikut-Ikutan Menyebar Konten yang Belum Tentu Benar?

 

hoax-no

Stop menyebarkan berita hoax! Gambar

Beberapa media televese ditegur Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terkait kasus peledakan bom Sarinah, di Jakarta baru-baru ini, karena menyebarkan berita hoax. Bagaimana mungkin media televese sebesar itu tidak memikirkan kesahihan sebuah informasi sebelum dilempar ke publik? Apakah hanya mengejar rating? Menyedihkan bukan?

Disusul pula media-media online, yang seolah-olah menyebarkan informasi super valid. Tetapi ternyata hoax juga. Belum lagi arus deras media sosial, yang dipandu oleh orang-orang yang super kreatif. Saking kreatifnya, lantas membikin foto yang aduhai hoax. Celakanya, berita-berita hoax itu ramerame di-shareshare … dan share … maka jadilah kegaduhan. Maka jadilah arus yang tak terbendung tentang ketidaksahihan sebuah informasi.

Parahnya, bukan hanya para alayers saja yang menyebar di akun media sosial, tetapi juga para intelektual. Dan pada akhirnya, para pembenci damai itu terbahak-bahak, sementara yang lain terkurung dalam ketakutan. Ini benar-benar mengerikan!

Jika memang tidak mampu memverifikasi kebenaran suatu informasi, paling tidak memilih diam. Hal itu jauh lebih baik dari pada ikut arus menyebar fitnah, dan mengakibatkan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Atau, silakan konsumsi sendiri saja!

Sebenarnya, sudah banyak orang yang memperingatkan kita, agar jangan memproduksi konten-konten yang mengandung unsur fitnah. Selain itu juga, membikin konten yang sarat perpecahan. Pun menyebarluaskannya. Hal ini tentu saja akan menguntungkan mereka—yang suka dengan kekacauan negeri yang indah ini.

Kita, sebagai generasi bangsa, mestinya cerdas dan kritis dalam menerima sesuatu. Apakah dalam bentuk gambar atau pun tulisan. Dengan sikap kritis, maka kita tidak serta merta menelan mentah-mentah sebuah informasi—dan seterusnya menyebarluaskan. Karena jika tidak kritis, maka informasi hoax akan dengan leluasa menyebar ke darah dan daging.

Dalam sebuah akun pesbuk telah meminta kita untuk melawan hoax. Pada akun pesbuk itu, Dia berpesan bahwa, “… Kalau dengan mengklik “Share” Anda membunuh orang, akan mudahkah Anda melakukannya? Lalu mengapa begitu mudah klik “Share” untuk berita fitnah, padahal fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan?;  … janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil ….” Demikian yang disampaikannya. Lebih jelasnya silakan buka akun pesbuk-nya, dan dapatkan informasi di sana!

Selain itu,  seorang doktor yang juga blogger, Ibu Dina Y. Sulaeman memperingatkan kita akan bahayanya berita hoax. Dalam sebuah postingan artikelnya, Dia menyebutkan bahwa “… Yang kita butuhkan cuma keberanian untuk bersuara. So, speak up, lawan, katakan TIDAK pada adu domba! Meski hanya sekadar like, sekadar share, sekadar komen meluruskan. Jangan remehkan langkah kecilmu ….” Lebih jelasnya, silakan baca di sini

Ya. Jika boleh jujur, saya salah seorang yang tidak menyukai para pembuat berita hoax. Apalagi, menyebarkannya sebelum benar-benar yakin, bahwa konten itu adalah benar. Kebanyakan dari kita seperti itu. Apalagi, pengguna media sosial saat ini luar biasa meningkat. Mulai dari abg alay hingga mamah-mamah muda dan tua. Sungguh luar biasa ….

***

Anti-menganti seorang atau kaum tertentu sangat mudah tersebar melalui internet, khususnya melalui media sosial. Untuk itu sebenarnya, ketika membaca tulisan-tulisan Ibu Dina ini, serasa mencerahkan. Tak ada yang mengandung kebencian. Tetapi yang dibeberkannya adalah fakta berbasis data. Argumentasinya masuk akal, dan tidak provokatif. Jelas tulisan-tulisan semacam itu kurang disajikan di Indonesia. Apalagi media-media online, yang aduhai cenderung provokatif.

Keberanian mengungkap fakta memang tak gampang. Karena banyak sekali orang tak menyukainya—sebab kepentingannya pasti terganggu. Lantas, Mengapa harus mengumbar kebencian? Mengapa tidak menginginkan damai? Apakah damai itu akan masuk neraka?

Damai memang saat ini begitu mahal. Banyak sekali para pengumbar kebencian; men-justice orang kafir; dan lain sebagainya menyebar di seantero negeri. Celakanya, banyak juga yang terpengaruh. Jika sudah begini, mau dibawa ke mana nih, Indonesia?

Kita juga mesti tahu, bahwa ada media-media yang sengaja dibuat untuk menyebar kebencian. Di titik itu, jangan sampai juga kita ikut-ikutan menyebarkan kebencian. Maka sebenarnya merekalah yang beruntung sementara kita terkurung dalam kerugian.

Seperti apa yang disampaikan pada blog maxmaroe, bahwa banyak sekali bisnis menyebar kebencian di internet. Hal ini luput dari pengetahuan kita, karena memang lebih senang menyebarkan ketimbang menganalisa sebuah informasi secara kritis.

Nah, untuk itu sekali lagi, lebih baik memilih diam dari pada menyebarkan sebuah konten yang belum tentu kebenarannya. Agar para pembenci kedamaian itu tak diuntungkan oleh tindakan kita sendiri. Dengan begitu, maka kita sudah membantu mewujudkan kedamaian dunia, khususnya Indonesia.

Bantaya Lanoni, 18 Januari 2016

Leave a Reply