Menantang Maut Demi Rezeki

Hampir tak ada yang mengindahkan terik menusuk kulit di sekitar Stasiun Duri, Jakarta Barat itu. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Namun, sesekali memperhatikan hilir-mudik kereta bergerbong delapan—pengancam nyawa ketika lewat. Salah satu di antaranya adalah Sri, seorang pedagang minuman penantang maut.

Perempuan berambut sedikit berombak ini tampak tak pernah takut. Ia berkisah bahwa tak ada yang bisa menghalangi dirinya mencari rezeki. “Kecuali maut!,” lanjutnya.

Pada Minggu pagi itu memang tampak sibuk. Para pedagang dan pelanggan saling adu tawar harga. Ada yang berdagang pakaian, sayur, peralatan rumah tangga, burung, minuman, dan sebagainya. Semua bercampur aduk di tengah bahaya. Meski masih pagi, tetapi bola api raksasa cukup menyengat.

Di salah satu sudut tampak beberapa pemulung memikul karung-karung putih. Mereka mengais sampah yang bertumpukan di sekitar rel itu. Sesekali membungkuk untuk memastikan, apakah sampah itu layak diambil atau tidak.

Sejak dahulu, rel kereta api ini telah disulap menjadi pasar. Tanpa peduli pengusiran yang terjadi berulang kali. Sesekali terdengar ada yang berteriak, woi…, woi…, menandakan kereta api semakin dekat. Orang-orang di sekitar pun bergegas menepi. Lalu, menunggu hingga gerbong terakhir lewat—dan beberapa yang menyeberang.

Sri telah 15 tahun berdagang di sekitar rel itu. Awalnya, ia menjual pakaian. Tetapi, kisahnya, pakaian tidak dibutuhkan orang setiap hari. Jadi, ia beralih menjadi pedagang minuman. “Kopi, Susu, teh, aqua, dan minuman dingin lainnya,” tegasnya sambil semringah.

Tubuhnya tampak kurus kecokelatan. Pipinya mengempis seperti tak berdaging. Ia terlihat tak pernah lelah. Dalam situasi yang mencekam sekali pun, Sri selalu bersemangat menyeberangi rel—demi pelanggan.

Sejak anak pertama menduduki kelas 1 Sekolah Dasar, ia sudah memiliki gubuk, persis hanya dua meter dari rel kereta. Tetapi, pada 2007, semua gubuk digusur oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan lembaga perkeretaapian. Namun, setahun kemudian, ia balik lagi.

Sesekali, perempuan 38 tahun ini harus meninggalkan lapak demi melayani para pelanggan. Ya. Tentu saja, dengan semangat ia membuatnya. Sesekali pula, anak pertamanya ikut membantu kala tak sibuk. Itulah mengapa ia memilih menjual minuman. “Karena laris. Orang membutuhkan setiap waktu,” katanya lagi.

Perempuan murah senyum ini berkisah, hidup di sekitar rel kereta api mesti tegar. Dan itu adalah pilihan. “Jika tidak, mau makan apa?” Kadang-kadang, jidatnya sedikit mengernyit ketika menceritakan beberapa hari lalu keponakannya meninggal tertabrak kereta. Ia sedih, karena sang keponakan biasa rajin membantunya. Dan kini telah tiada.

Meski begitu, ia tak pernah menyesali. Sebab, itu bukan salah PT. KAI, tetapi salah yang ditabrak. “Sudah lebih dari 50 orang yang meninggal,” katanya lagi. Dan itu, lanjutnya, berlangsung seperti biasa. Seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Namun, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberikan santunan sebesar Rp25 juta. “Keponakan aku dibayar segitu,” katanya. Ketika ditanya, “Ya, setiap orang mati ketabrak, diberikan santunan segitu.”

Percakapan saya dengannya sesekali terhenti ketika kendaraan panjang itu mendekat. Bising di mana-mana. Peluit pertanda kereta api mendekat berbunyi menambah pening. Kehebohan pun terjadi. “Woi, mau mati?,” teriak beberapa orang, ketika kereta api mulai mendekat. Tentu saja itu hanya gurauan belaka.

Sri datang dari Pulau Jawa. Bertaruh nasib di ibu kota untuk menyambung hidup keluarga. Memang, “Mayoritas pedagang di sini asal Pulau Jawa.” Ketika ditanya kenapa berdagang di sekitar rel kereta, ia memilih berdagang di sekitar rel kereta karena tak ada lahan. “Ndak ada pilihan!,” ujarnya di tengah kesibukan membuat es teh jeruk pesanan pedagang sayur, yang tak jauh dari lapaknya.

Setiap lima menit, pada setiap jalur tempat lapak Sri berada, kereta lewat. Serasa tak ada kekhawatiran yang berlebihan ketika kendaraan umum bergerbong delapan itu lewat. Meskipun telah puluhan orang meninggal tertabrak. Bahkan ada beberapa orang yang berani menyeberang, ketika jarak kereta dengannya hanya berpaut sepuluh meter.

Masa depan ditentukan oleh diri sendiri, tegas Sri, sambil duduk lesuh, sehabis mengantar pesanan pelanggan. Ia menyatakan akan terus berdagang, “sampai sudah nda mampu!,” tegasnya.

Meski begitu, ia berharap bahwa tak ada lagi kegiatan menggusur dilakukan PT. KAI. Sebab, mencari rezeki di sekitar rel, katanya, menjadi satu keharusan karena lahan di ibu kota semakin sempit. “Jika ada, paling nyewa nya mahal.”

Berangsur-angsur, Matahari mulai bergulir ke atas. Para pedagang satu-persatu mulai mengemas dagangan. Begitu pun dengan Sri. Ia akan kembali ke rumah untuk melakukan aktivitas lain.

“Aku akan tetap terus berdagang,” tutupnya.

Hampir Mati Tertabrak Kereta

Seorang lelaki tua menghampiri saya, ketika sedang bercakap dengan Sri. Beberapa helai rambutnya telah memutih. Sesekali ia berteriak ketika kereta api mendekat. Sekadar membantu mulut-mulut lain berteriak. Setelahnya, ia memesan kopi susu di waruung kecil milik Sri.

Kubil, begitu ia dipanggil oleh orang-orang di sekitar rel kereta Api Duri ini. Sedari kecil, ia sudah melanglang buana—hidup malang-melintang melawan nasib di pinggiran rel kereta. Bermain layangan dan saling kejar dengan anak-anak lainnya.

Lelaki kelahiran 50 tahun lalu ini bercerita bahwa dulu, pasar ini adalah pasar buah. Dibuat sekitar tahun 1960-an. Sekarang, di sana terdapat beragam pedagang. Dan, aktivitas hingga 24 jam. “Tapi malam nda jualan. Biasa main kartu atau catur,” katanya. Untuk berdagang, lanjutnya, dimulai jam enam sampai sepuluh pagi. Lalu dilanjutkan pada empat sore hingga enam sore.

Ia kembali mengenang suatu malam, saat hampir tewas ditabrak kereta. Ketika itu, Kubil ingin ke rumah tetangga—yang dibatasi oleh rel. Saat menyeberang, kakinya tiba-tiba tersandung batu. Ia pun terjatuh. Namun, justru karena terjatuh itu lah ia tak jadi tertabrak kereta. Pasalnya, saat jatuh lelaki kurus ini mendengar kereta semakin dekat.

“Beruntung aku jatuh. Jika indak, mungkin sudah mati!,” kisahnya.

Menurutnya, bertaruh nyawa di sekitar rel sebenarnya tidak menjadi pilihan utama. Hanya saja, ketika ruang sudah direbut, maka satu-satunya jalan adalah beraktivitas di sekitar rel. Meski demikian, ada juga yang mengeluh karena debu. Dan, para pedagang di sini, setiap hari, membayar Rp20 ribu—ke aparat keamanan setempat.

Namun ketika ada pemimpin pusat PT. KAI akan lewat, maka tempat ini harus dibersihkan. Tak ada aktivitas sedikit pun. Sebab, jika diketahui maka pasti akan tergusur, dan itu terjadi beberapa kali. Hal itu diketahui karena ada pemberitahuan oleh pihak-pihak tertentu. “Jadi, jangan dagang dulu.”

Menurutnya, orang-orang di Duri tak akan pernah berhenti berjualan, jika tak disediakan tempat strategis. “Ya, meski nyawa taruhannya.”

*Tulisan ini awalnya dimuat di sini.

Leave a Reply