Mengenal Andika (1)

Sulawesi Tengah tampaknya tidak pernah kehabisan aktivis yang masih konsisten di jalannya dalam memberikan kontribusi terhadap rakyat. Lihat saja Alm. Hedar Laudjeng dan Alm. Dedeng Alwi yang, terus konsisten bersama rakyat hingga akhir hayat mereka.

Lihat pula seperti Arianto Sangadji, Chalid Muhammad, Ridha Saleh, Aristan, Eva Bande, dan sederet aktivis lainnya. Mereka terus berada pada massa rakyat dengan cara yang berbeda-beda tentu saja.

Maka tak heran aktivis-aktivis lingkungan, HAM, Agraria, dan lain sebagainya, terus bermunculan di tengah banyak yang memilih apatis. Mereka yang memilih apatis ini tentu saja tidak salah apalagi berdosa. Sosok muda, humanis, progresif, dan terus konsisten bersama rakyat lainnya adalah Andika.

Ya. Andika. Begitu dia dipanggil oleh banyak orang. Muda, berbakat, konsisten, adalah idiom yang pantas disematkan padanya. Selain itu, Andika seorang yang gigih, periset, juga pemikir. Karya-karya tulisnya hingga saat ini sudah banyak dan itu, didasarkan atas riset-riset yang mendalam khususnya tentang agraria, di Sulawesi Tengah.
Pada 2012, ia dan beberapa rekannya yang tergabung dalam Jatam Sulteng mendirikan Balai Belajar Lauje serta  tokoh masyarakat Lauje. Saat itu, ia masih menjabat Manager Riset dan Kampanye di Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulteng.

Balai Belajar Lauje atau yang sering disebut BBL, adalah wadah pendidikan alternatif khusus orang-orang Lauje yang, tak bisa mengenyam pendidikan formal. Gagasan ini tentu saja disambut antusias oleh banyak kalangan termasuk pemerintah setempat.

Pria kelahiran Lindu, 23 Mei 1986 ini sejak dahulu senang menulis, riset, dan konsisten bergabung dengan massa rakyat. Beberapa karya tulis Andika yang kita kenal adalah Transisi Petani Dongi-Dongi dan Serangan Berdarah; Dinamika Gerakan di Sulawesi Tengah Pra dan Pasca Pemilu 2009 Bagian 1: Strategi Organisasi Perlawanan Dalam Buku “ Bersatu Membangun Kuasa; In Den Krallen Des Goldes : Sozio-Economische Veranderungen in Poboya. Terjemahan teks Bahasa Jerman Marianne Klute.

Selain itu, ada juga karya tulisnya, Konflik Ruang ekstraktif: Studi Pertambangan Nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah; Kala Obor-Obor JOB Memercik API Cemburu: Studi Kasus Nelayan To Bajo Kolo Bawah, Morowali Sulawesi Tengah; Cengkeh, HPH dan Ekspansi Tambang Dalam Politik Lokal: Studi Kasus Dondo Kabupaten Toli-Toli Sulawesi Tengah; Bergerak di Kaki Gunung Katopasa: Melawan Ekslusi Menata Daulat (Studi Kasus Ekspansi Tambang Bijih Besi di Desa Podi Kabupaten Tojo Una-una).

Pada masa kecil, Andika menghabiskan waktu di kampung halamannya. Bahkan hingga kelas 3 SMP, ia mengembala kambing. Sembari mengembala, ia manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mencari sayur pakis, lalu menjualnya kepada pedagang sayur.

Tahun 1998 ia lulus di SDN 155 Lindu, Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Kemudian melanjutkan studi di SLTP N 2 Masamba dan lulus pada 2001. Tahun 2001 inilah, ia memutuskan hijrah ke Kota Palu bersama saudaranya.

Di Bumi Kaktus, Dia mencari jati diri sebagai seorang manusia biasa dan melanjutkan di SMA 5 Palu, di Tondo. Hanya satu caturwulan, Dia kemudian pindah ke SMA 1 Masamba. Lagi-lagi hanya 1 semester, Dia balik ke Palu dan masuk di SMA Swadaya Palu. Dan, berhasil lulus pada 2004.

Dari cerita beberapa teman dan dari Andika sendiri, saya mengetahui bahwa Dia pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Tadulako. Entah faktor apa lantas Dia pindah ke Jurusan Antropologi Untad. Karena keterbatasan ekonomi, Andika kemudian kuliah sambil bekerja. Akan tetapi, Andika di-drop out dari kampus Tadulako itu.

Saat ini, orang yang saya anggap sebagai guru itu melanjutkan studi di Jurusan Agrotek, Fakultas Pertanian Unisa Palu. Dia terus melawan ketakutan sebagaimana motto-nya: “Hidup ikhlas dan berjuang melawan ketakutan.”
Hingga saat ini, Andika masih bertahan di Kota Palu. Sebagai aktivis lingkungan, ia masuk di pelbagai kalangan. Tak memilih dan tak pandang bulu. Lihat saja sederet pengalamannya: Manager Kampanye JATAM Nasional 2013; Presidium Indonesia Timur Student Association Corruption Watch 2006-2007; Divisi Litbang Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sulawesi Tengah 2008; Pendiri KIPP Sulteng 2009; Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Sulteng 2009; Kepala Divisi Kampanye dan Riset Jatam Sulteng 2009; dan saat ini Andika menjadi Kontributor Lepas Portal Berita Lingkungan Online Mongabay Indonesia.

Bahkan semenjak mahasiswa pun, Andika menjadi Pengurus BEM FISIP Universitas Tadulako 2005-2006; Divisi Advokasi dan Hukum BEM Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah 2006-2007; Sekjend IKAMI Sulsel Cabang Palu 2005-2006; Anggota Kesekretariatan IPMIL Luwu Raya Cabang Palu 2005-2006; dan menjadi salah satu Pendiri IPMA Lutra 2005;

Selain sebagai aktivis lingkungan, tentu saja Dia mempunyai hobi. Pria yang ketika berbicara menggebu-gebu ini ternyata memiliki hobi bermain gitar. Andika bahkan beberapa kali mengikuti festival genre rock. Ia juga fans berat band U Camp dan Power Slave, dan Dream Teater.

Bersambung ke Mengenal Andika (2)

Jakarta, 16 Agustus 2018

Leave a Reply