Di Balik Kabut Gunung Sojol

Sampul Buku Di Balik Kabut Gunung Sojol

Sampul Buku Di Balik Kabut Gunung Sojol


Sinopsis
…Ini moment  begitu penting sepanjang hidupku. Arti hidup dan kehidupan telah aku dapat dalam bingkai hutan belantara yang banyak binatang buas, penuh mistik, dingin, dan berhari-hari diterjang badai angin bercampur hujan…
Aku pernah dengar kalimat: hidup sesungguhnya adalah ketika kita berada di tengah-tengah hutan, di atas gunung pada ketinggian lebih dari seribu meter dari permukaan laut. Dan, aku menyepakati hal itu. Sebab, itulah yang aku alami dalam sebuah petualangan: aku sungguh tak berdaya atas kuasa Tuhan, yang kadang diuji-Nya melalui badai-Nya, dingin-Nya, binatang buas-Nya, pun dengan nafas yang dititipkan-Nya.
Inilah petualangan. Meskipun agak vulgar, tapi tak sedikit yang menyukai nya. Melatih mental, membentuk jiwa yang sabar, tabah, melatih kebersamaan, dan ingin selalu mengenal alam-Nya lebih jauh, pun lebih dekat.
Namun dibalik itu semua, ikatan moral menjadi kuat tatkala badai menghadang kami. Atau, ketika Anoa yang baru saja mengeluarkan anak dari rahimnya: sangat ganas.
Perpaduan warna-warni pelangi begitu indah mengesankan; spesies cemara yang telah jarang dijumpai akibat ulah manusia yang serakah; di arah barat laut, kabut terpenggal-penggal kecil dan berbaris bagai pagar, di celah nya, dihiasi oleh gejala optik dan mereorologi berupa cahaya  beraneka warna saling sejajar yang tampak di medium.
Bola api raksasa jikalau malam tanpa kabut begitu nampak terlihat dengan mata telanjang. Di siang hari, tak jarang lima pemuda yang suka bertualang itu berhadapan dengan badai angin bercampur hujan. Di situlah letaknya ujian kebersamaan.
Kata seorang dosen, “Kebersamaan kadang menyakitkan, tapi yakin, pasti ada kebahagiaan didalamnya.”
Bagaimana anda melewati semua itu? Bagaimana anda jika mengalami hal itu yang notabene nya jarang bahkan tak ada terjadi di perkotaan?
Inilah kehidupan nyata di alam gunung. Berbeda jauh dengan kehidupan kota yang hingar—bingar dari kendaraan berbagai roda—bising dan terkadang menghilangkan konsentrasi. Tuhan telah menciptakan gunung itu, untuk menahan amukan gempa yang dahsyat. Tuhan telah mempersilahkan makluk lain untuk menjejakkan kaki di Gunung Sojol itu. Dan kini, beberapa manusia yang lagi berjuang menahan dingin di Gunung Sojol itu—terbaring menunggu hilangnya pikiran.
Ini sebuah euphoria yang di dengung-degungkan oleh banyak orang, tentang nikmatnya menjelajah alam bebas. Petualangan yang mengasyikkan. Life is short, enjoy it while you can. Tapi, bukan berarti hedonisme terlalu berlebihan, yang biasanya menggerogoti kaum intelektual di zaman sekarang ini. Setidaknya, menganggumi ciptaan Tuhan, dan mengarunginya, adalah tanda syukur kepada-Nya.
Namun satu hal, bahwa di balik kabut Gunung Sojol itu, hutan-hutan sudah tak “perawan” lagi. Pohon ebony yang menjadi komoditi kayu andalan Sulawesi Tengah telah jarang dijumpai. Bentuk pengawasannya pun begitu memprihatinkan.  Komunitas Lauje yang terdapat di pegunungan Sojol begitu termarginalkan. Akses pendidikan dan kesehatan begitu jauh—menjauhi mereka. Belum lagi, tanaman kakao dan tanaman bulanan—menjadi bulan-bulanan hama dan iklim yang tak menentu. Mengakibatkan mereka kehabisan akal dan hampir menyerah pada kehidupan. Di sisi lain, para komprador kota yang memporak-porandakan hutan untuk usaha yang tidak manusiawi menyingkirkan ruang hidup orang-orang Lauje itu. Ironi.
Aku lebih memilih hidup pada satu titik nyata ketimbang pada persimpangan kota penuh debu dan hiruk—pikuk kendaraan bermesin. Aku lebih memilih hidup di tengah hutan belantara yang tak ada seorang pun dapat menemuiku, ketimbang di kota penuh dengan kekacauan dan ketidakadilan. Aku lebih memilih merenung di atas pohon di tengah hutan rimba ketimbang di atas atap di kelilingi polusi udara berpenyakit. Pada posisi pilihanku itu, aku hanya dapat berpihak pada diriku sendiri. Jika aku di sebut individualis, yah! Namun satu hal, kawan: ketimpangan di kota buatku jenuh dan muak. Kepalsuan yang diciptakan Negara telah menghambat perkembangan petani dipedesaan. Politik praktis yang diciptakan, adalah satu fenomena nyata, bahwa inilah dunia fana yang penuh intrik dan cacimaki kaum tertindas dan cendrung menghamba pemodal. Inilah kehidupan nyata duniawi yang tidak manusiawi. Dan aku masih di sini untuk memilih di sini. Menjelajah di alam ini. Dengan petualangan penuh tantangan. Ekstrim dan vulgar. Namun satu hal: aku dan kawan-kawanku adalah pemuja alam semesta beserta pencipta-Nya.

Leave a Reply