Tentang Saya

Assalamualaikum Warahmatuallahi Wabarakatu ….

11081725_684932334950230_996476546_nSiapa Saya?

Saya bukanlah siapa-siapa! Hanya manusia biasa yang mengarungi hidup di dunia fana….

Tetapi, perlu juga untuk menuliskan siapa saya sebenarnya! Hehehe….

Saya biasa dipanggil Fhay. Nama lengkap Moh. Rifai. Itu saja!

Saya kelahiran pada 7 Juli 1988, di sebuah kampung yang saat ini dikelilingi oleh investasi ekstraktif. Benar-benar menyedihkan. Kampung saya, di tengah-tengahnya, dialiri oleh sungai yang deras—ketika banjir. Dari kejauhan, terdengar desiran begitu jelas.

Tahu di mana? Ya. Betul. Di Anggasan. Dulu disebut Jongin, (sekarang jongin adalah nama salah satu dusun di desa itu). Desa Anggasan, salah satu desa yang ada di Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Sekitar 360 Km dari ibukota provinsi.   

Pada 1994, saya masuk di sebuah SD Anggasan Kecamatan Dondo Tolitoli. Dan, berhasil lulus tahun 2000. Dulu, belum seperti sekarang (ya. Memang)—yang ada Taman Kanak-Kanak itu. Jadi, ya, langsung ke SD.

Di Sekolah Dasar ini, sepulang sekolah, biasanya saya menghabiskan waktu bermain sepak bola. Olahraga kesukaan bapak. Dan akhirnya, menurun ke saya. Selain itu, biasa juga menghabiskan waktu di sungai. Mencari ikan, atau main perang-perangan.

Kemudian, setelah lulus SD, tentu saja saya melanjutkan ke SMP 2 Dondo. SMP ini lumayan menggairahkan, sebab untuk menuju ke sana, menempuh jarak tujuh kilometer. Kecuali hari libur, setiap pagi saya dan teman-teman berjuang mengayun pedal sepeda berangkat ke sekolah. Untuk mencari ilmu memang, mesti bersusah-susah. Penuh pengorbanan. Lagipula, jarak tujuh kilometer, nampak enteng, karena beramai-ramai. Mengayun … mengayun …, eh, tahu-tahunya sudah sampai.

Di SMP ini, saya lulus tahun 2004. Kemudian, melanjutkan studi lagi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Dondo. Sekolah ini semakin jauh dari kampung, sekitar 28 kilometer. Untuk menuju ke sekolah ini, saya harus meminjam motor kakak. Tetapi, dengan terpaksa saya harus nge-kos—karena berangkat ke sekolah kadang terlewat, atau  bahkan tidak sampai. Alasan lain, sering kecelakaan. Ugal-ugalan naik motor. Nge-kos hanya bertahan lima bulan. akhirnya diberikan kepercayaan lagi naik motor hingga selesai, pada 2007.

Karena ekonomi bapak sedikit mampu, saya melanjutkan studi di Kota Palu—Ibukota Propinsi Sulawesi Tengah. Awalnya, ingin masuk di Penjas, karena memang saya mencintai sepak bola sedari kecil tadi. Pilihan lain adalah Sosiologi. Jurusan ini, disukai karena terinspirasi dari seorang guru. Tetapi kedua jurusan itu, tidak berhasil dicapai. Akhirnya, nasib terdampar di Fakultas Hukum Universitas Tadulako. Ya, dengan dada lapang, saya harus mengikuti proses.

Oh, ya, dari SD hingga SMA, saya tidak mengikuti satu organisasi pun. Ketika kuliah, saya diajak seorang rekan, untuk masuk di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapala. Namanya Mapala Kumtapala.

Sejak semester awal, saya ikut bergabung di organisasi intra kampus ini hingga selesai. Tentu saja banyak yang saya dapat di organisasi ini. Hingga suatu waktu dipercayakan untuk memegang jabatan strategis periode 2009-2010.

Dan sekarang, saya telah berhasil mencapai status keanggotaan, sebagai Anggota Kehormatan. Status keanggotaan ini adalah status tingkat terakhir di organisasi yang telah membesarkan saya. 

Pada pertengahan studi, saya dipanggil untuk bergabung di Jaringan Advokasi Tambang Sulawesi Tengah (Jatam Sulteng) hingga selesai.

Sebelumnya, saya bersama beberapa rekan se-daerah, membuat gebrakan restorasi lembaga paguyuban yang, memang, stagnan. Saya dipecayakan memimpin yang kami sebut Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo, atau IPPMD pada periode 2011-2012.

Oh, ya, satu lagi: di Mapala Kumtapala, saya banyak belajar menulis. Setiap melakukan perjalanan—sebagai program kerja organisasi, kami diwajibkan untuk membuat catatan perjalanan. Di titik itu, saya mulai tertarik dengan dunia literasi.

Akhirnya, di penghujung studi, saya kembali belajar dengan seorang teman yang memang mahir dalam menulis ilmiah. Tetapi hingga saat ini, ilmunya belum terserap mantap.

Saat ini, saya masih mengembara. Mencari setitik “air jernih” untuk memuluskan cita-cita. Barangkali sedikit lebai, tetapi ketika cita-cita menjadi pemain sepak bola runtuh, saya harus mewujudkan cita-cita alternatif. Apa itu?

Ah, sudahlah! Tak perlu dijawab. Biarkan ia berproses. 

Bisa juga dihubungi melalui:

Rifai M. Hadi

@fhayhadi

fhayhadi@gmail.com

M. R. M. H

Discussion

Leave a Reply