Doa untuk Ibu (8)

Entah kenapa, kali ini, pikiranku buntu tatkala malam menjemput. Hidup seperti tak bergairah dibuat angin laut yang panas. Terkatup otakku dengan semua. Seandainya bisa berbalik, aku ingin kembali di masa kanak-kanak dan sekolah di kampung.

Mungkin dalam sekejap mata, kau bisa melakukan itu, tetapi tidak untuk hal yang nyata ini. Sebab, kondisi yang memaksa untuk menggapai cita-cita. Aku baru saja kelas dua SMP. Usia sepertiku, masih labil dan butuh kasih sayang orang tua. Tetapi apa daya mereka jauh. Jauh di ujung sana—ke pelosok, menaiki gunung-gunung; menyeberangi sungai; dan begitu berbahaya. Itu adalah kampungku tercinta yang selalu bersemayam di benak.

Dan kini, aku menitip sejuta kerinduan kepada sang Illahi yang selama ini selalu menebarkan virus-virus perintah melalui beberapa objek kepada umat-Nya.

Ponika melihatku seperti sebuah boneka yang mematung. Selama ini, telah mengikhlaskan hatinya hanya untuk menghiburku ketika dilanda gundah-gulana. Tetapi dalam semua tasbih hiburannya—tidak sekuat doa sang ibu. Ponika sering bilang padaku, bahwa semua yang dilalui selama berhari-hari ini, bahkan bertahun-tahun nanti, adalah sebuah proses yang amat panjang. Dengan begitu, sebuah niat baik, mesti terikrar dalam hati. Tak perlu dikirim ke udara melalui balon-balon.

Tetapi aku biasa mendebatnya dengan amat lantang sekali. Kadang-kadang air matanya jatuh ke bumi tanpa sadar. Ah, betapa berdosanya aku terhadap sahabatku yang satu ini. Padahal kami berdua bersahabat sejak dari bayi. Bahkan sejak dari dalam kandungan, mungkin(?).

Proses memang bukan suatu hal yang mudah. Apalagi jika alam yang melakukannya. Jika tak punya niat baik seperti apa yang dikatakan Ponika, maka akan runtuh di tengah jalan, bahkan di permulaan sekalipun. Itulah kenapa diperlukan seonggok doa sang Ibu meski dari kejauhan sana. Meski ia jauh, tetapi lantunannya akan mengalir ke udara, menembus pori-pori bumi dan masuk ke dada anaknya—menyejukkan jiwa. Luar biasa!

***

Suatu hari di dapur rumahku, ibu sedang memotong sayuran kangkung yang baru saja di petik bapak dari sawah. Memang, sayur-sayuran di kampung kami, tak perlu di beli, kalaupun iya, uang sedikit, banyak sayurnya. Itulah salah satu keuntungan tinggal di perkampungan. Aku membantu ibu mengiris bawang yang berada di sebelah kirinya. Dapur rumah kami tak begitu luas. Paling tidak, bisa lima orang beraktivitas di dalamnya dengan kategori super sibuk sekali—lalu-lalang—hilir mudik. Ibuku dikagetkan dengan suara mengentak-entak yang begitu keras dari teras rumah. Pun aku.

“Nita, coba lihat, apa itu?!” pinta ibuku dengan degup jantung yang cepat akibat kaget suara keras itu.

“Iya, Bu, tunggu ya!” Aku pergi ke luar. Membuka pintu dengan cepat.

Kulihat beberapa anak-anak kecil sebayaku memandangi dengan sangat terkejut di halaman rumahku. Setelah itu, mereka memandangi objek di depan bagian kiriku—atau kanan bagian mereka. Dua buah kursi saling bertumpukan. Sedangkan meja agak menyerong ke barat daya sedikit, yang sebelumnya perseginya tepat: utara, timur, selatan, barat. Di bawah meja itu, bola kaki masih bergerak-gerak lambat menyerupai siput yang berlomba cepat.

“Maafkan kami!” pinta Ambu, salah satu dari mereka yang juga kukenal dengan baik. Sebab, ia satu sekolah denganku. Ambu sering tak pakai sepatu saat ke sekolah. Dan pakaiannya yang lain, selalu kusam.

“Kenapa, Nita?” ibuku berteriak dari dalam rumah. Aku tak berniat menjawabnya dengan teriakan pula.

“Baiklah. Tidak apa-apa. Ini bola kalian!” kataku, seraya melemparkan bola kaki anak-anak lelaki itu ke arah mereka. Mereka semua: tersenyum padaku.

Aku membenarkan kembali letak kursi dan meja, seperti semula. Karena lapang berada di depan rumahku—tepat di seberang jalan yang tak begitu luas, maka bola kaki yang mereka perebutkan untuk memasukkan ke antara dua tiang pohon bambu itu, sering menyasar teras rumahku.

Ketika hujan deras melanda kampung, anak-anak lelaki itu begitu antusias bermain di lapang. Saling kejar. Tak memakai baju. Bahkan ada yang tak memakai pakaian sehelai pun. Itu usianya paling tidak baru beranjak empat atau lima tahun. Bahagia sekali anak-anak lelaki di kampung kami. Sedangkan, bagi anak-anak perempuan sebayaku, bermain lomba perahu—terbuat dari kertas yang tak terpakai. Karena aliran air hujan memenuhi got-got di depan rumah, kami meletakkan dengan antusias pula di atas pusaran air itu—lalu saling mendahului perahu-perahu itu hingga ke finish yang kami sepakati bersama. Anak-anak perempuan pun begitu bahagia.

Namun, ketika hujan itu tak juga menyambar tanah di kampung kira-kira sebulan lamanya, maka anak-anak perempuan bermain rumah-rumahan sepulang sekolah. Belajar memasak dengan belanga yang kecil. Ibuku mendukung. Ibu-ibu kerabatku pun mendukung anaknya. Setelah itu, biasanya kami bermain tali-temali. Atau kalau tidak, bermain petak umpet. Betul-betul bahagia. Sumpah!

Sedari tadi aku telah berada di ruang tamu rumahku. Ibuku kembali bertanya, “Ada apa tadi, Nak?”

“Anak-anak lelaki, Bu, bola mereka kembali menyasar kursi-kursi di teras rumah kita.”

“Oh.” Ibuku memaklumi dengan sangat sopan.

Lalu, setelah siang menjemput. Ketika salat zuhur tiba, kulihat ibuku sedang mengambil air wudu. Ia mengajakku. Aku mengikutinya. Lalu, kami pergi ke sebuah Musala yang tak terlalu besar—tak jauh dari rumahku. Ponika dan ibunya pun sudah beranjak dari halaman rumah mereka ketika kami menutup pintu luar. Ketika salat usai, kudengar suara ibu sedang melantunkan doa terbaiknya.

“Ya, Allah, aku mohon padamu, berilah satu kesempatan buat anakku kelak untuk menuntut ilmu, agar ia berguna di kemudian hari.” Setelah itu, samar.

Aku pun ikut berdoa, doa terbaik di masa aku masih kelas dua Sekolah Dasar itu, adalah, agar Allah memasukkan kedua orang tuaku ke Surga. Surga yang aku kenal dari guru mengajiku beberapa waktu lalu—namun belum kulihat bagaimana bentuknya.

***

Kini, doa ibuku itu telah dikabulkan sang Penerima Doa. Allah memang sangat baik pada ibu. Ia seolah-olah memuluskan doanya—agar aku bisa sekolah yang dulu ingin dimasukinya tetapi tak jadi—hanya karena tak ada biaya dari kakekku. Aku telah berada di perkotaan yang sama sekali baru kukenali dua tahun ini. Pun dengan Ponika—tetangga di kampung sekaligus menjadi sahabat karib.

Aku tak pernah pedulikan apa yang terjadi terhadapku suatu hari nanti. Yang jelas, saat ini bagaimana menciptakan mimpi-mimpiku; mengirim doa-doa terbaikku; dan menjalankan apa yang menjadi kehendak hatiku.

Aku biarkan badai sekeras apa pun menghantam mimpi-mimpiku itu: menjadi seorang ahli laboratorium. Ketika aku lulus, aku akan fokus masuk ke Biologi. Titik.

Setelah sekian lama aku menghiraukan Ponika, akhirnya ia mendekati dengan sangat tulus pula.

“Sebaiknya kita belajar kelompok lagi di tempat biasa!” Ia menunjuk tempat belajar kami di depan kos itu. Memang ada tersedia beberapa kursi yang cukup nyaman untuk mendiskusikan sesuatu yang tak dimengerti. Kadang-kadang kami mengundang seorang kakak kelas untuk meminta bantuan memecahkan rumus-rumus matematika yang rumit.

“Sebaiknya begitu, Pon,” kataku merekah. Ia begitu senang melihatku tersenyum, dan antusias memenuhi ajakannya. Sudah seminggu kami tak pernah belajar kelompok di depan kos itu hanya karena aku mematung dan merindukan ibu di kampung. “segera panggil teman-teman yang lain!” pintaku kemudian, sembari membereskan kamar kos yang terserak-serak.

Ia memenuhi dengan antusias pula.

Ketika semuanya terkumpul, satu-satu kupandangi dengan tajam. “Loh, jidatmu mengkilap sekali … Widya ….” kataku sambil tersenyum. Dengan cekatan ia mengelap seperti office boy di sebuah kantor yang sebentar lagi para pegawai akan berdatangan. Cepat. Cekatan.

“Ah, kau ada-ada saja, Nit,” pungkasnya sambil tersipu malu.

Lidahku tak sengaja menyinggungnya. Entah kenapa secara tiba-tiba aku menegur seperti itu. Hanya saja, kulihat konsentrasinya beralih dari semangat menggugah mata pelajaran fisika, kini berubah menjadi peduli terhadap fisiknya yang sedikit kurus itu.

“Siapa yang lebih dulu mempresentasikan?” Ponika menawarkan dengan sangat lancang.

Tetapi matanya tertuju pada Widya yang dianggap selalu keliru dalam merumuskan sesuatu. Kadang-kadang ia salah menjumlahkan. Bayangkan saja dengan tergagap-gagap ia menjawab 12+2=15, luar biasa kelebihan otaknya. Namun, sesekali ia membuat lelucon bahwa matematika itu tidak selamanya ilmu pasti. Itu tergantung kesepakatan saja. Kalau kita sepakat bahwa 1+1=1, maka itulah hasilnya.

Itulah sebabnya ketika datang pembahasan matematika atau fisika yang notabenenya tak luput dengan angka-angka, Ponika selalu menatap tajam ke wajah Widya.

Ia bergelegar kali ini. Pura-pura sakit perut dan hendak ke kamarnya. Dan sebenarnya, bukan hanya kali ini, telah tiga kali ia tiba-tiba sakit perut. Dua minggu lalu. Satu bulan lalu. Dan kemarin malam. Keempat kalinya, hari ini. Tiada yang bisa dikerjai lagi malam ini.

Seusai belajar itu, aku tak pernah luput dari Tahajut. Malam ini, aku mengirimkan setitik doa untuk ibu. Ibuku tercinta yang doanya dikabulkan Sang Illahi. Jika saja, ia tak berdoa, kemungkinan aku tak pernah menginjakkan kaki di kota yang orang-orangnya saat ini masih merindukan hujan.

Mungkin dalam waktu satu atau dua bulan ke depan, penjualan Es Batu melonjak. Sebab, orang-orang seperti ingin terbakar kulitnya ketika keluar rumah. Bisa dibilang, tak ada sebuah rumah pun yang tak memakai alat pendingin ruangan, atau setidak-tidaknya memakai kipas angin walau yang murah.

Semoga kekhusyukan doa yang terlantun di tengah malam ini terdengar di lubuk hati ibuku. Ibu yang telah mendidik dan menitipkan satu harapan untuk anaknya ini—agar bisa berguna bagi keluarga, bangsa, dan negara. Harapan mulia itu tentunya kusambung dengan mimpiku—sebagai seorang ahli. Ya, ahli!

Biasanya, Mangge Robuka membersihkan halaman rumah di larut seperti ini. suara-suara ujung sepatu menyentuh tanah yang gersang itu, kini sudah tak berbunyi lagi. Entah ke mana perginya orang tua itu. Apa telah lelap? Atau lupa akan kerjanya? Ah, aku tak tahu. Sama sekali tak terdengar memang. Dan, membiarkan telinga tak mendengar apa-apa lagi, selain siulan jangkrik jantan yang menyambut aung-an jangkrik betina. Biarkan!

Tetapi aku lupa, bahwa telah dua malam ini, tak bisa cepat tidur. Ketika jarum jam pendek menusuk ke angka 1, mata masih melotot seperti kucing mengintai mangsa. Sekarang kutahu, bahwa semua terjadi karena memang betul-betul butuh sesosok ibu yang menemani sedari bayi. Kasih, sayang, dan cintanya, betul-betul membuatku jatuh cinta pula. Oh, Tuhan, mohon lindungi ibuku di sana. berikan ia kesehatan. Perlihatkan padanya, ketika meraih mimpiku ….

Selanjutnya baca di Bagian Kesembilan

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

2 komentar pada “Doa untuk Ibu (8)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: