Kota yang Panas dan Seorang Kakek (3)

Aku tak perlu heran terhadap semua perubahan-perubahan yang terus terjadi di negeri kaktus ini. Karena memang, ketika hujan maka banjir melanda, dan ketika kemarau, debu, dan kekeringan tak bisa dihindari. Yang membuatku sedikit termangu-mangu adalah, perdebatan—tak kunjung usai di sana-sini—tentang sebuah tema: panas.

Jika dalam sehari aku tak pernah melangkahkan kaki ke luar Kos Sundulut, maka perdebatan-perdebatan yang tak punyai jalan keluar itu, tak pernah mengaung di telinga. Ah, sudahlah, kini, aku ceritakan padamu, sebuah kisah tentang seorang kakek yang terlunta-lunta di jalanan, ketika Sabtu kembali memanas. Mulanya, ia menghadap pada sebuah pohon yang daunnya sedikit melepuh lalu berguguran. Kemudian, tangan yang mengerut itu, memukul-mukul kulit pohon serupa kulitnya.

Aku tahu apa yang ia lakukan selanjutnya: menggaruk kepala. Di samping kanannya, seorang bocah begundal menapaki seonggok papan yang tipis. Persis berselancar di gulungan ombak yang besar lalu mengecil. Tetapi sesungguhnya, ia bermimpi agar suatu waktu, akan memiliki sebuah papan selancar yang benar-benar ada—adanya. Sehingga, kakek tua itu akan menatapnya dengan senyuman abadi, kepada seorang bocah yang tangguh menantang ombak.

Aku mulai mengira-ngira, kota ini akan diselimuti sekumpulan pengemis seperti kakek tadi. Dan, tiba-tiba menjadi seorang kaya yang dermawan—mencabut dompet yang tebal—memberikan segala fasilitas kepada kakek untuk mewujudkan mimpi anak kecil itu. Aku juga tiba-tiba berubah menjadi seorang pembantai—yang orang-orang tak becus mengurus para gelandangan kota—padahal mereka, juga manusia. Namun di balik semua itu, bola mataku menitikkan setitik air yang pedih. Hati ini, seolah-olah tertusuk ujung duri kaktus—menjadi sakit tak terampuni.

Ketika mendekati kakek itu, serasa mencium bau amis. Aku tak tahu, mengapa hidungku berubah menjadi seperti iblis. Pun juga, tak tahu, mengapa pikiran berubah menjadi bengis. Yang kutahu, dan yang pasti, mata ini, berhasil mencerca dua tubuh manusia, penuh rintih dan bermimpi di bawah pohon johar berpenghuni setan entah dari mana. Pada titik di mana kaki terdorong oleh rasa penasaran yang berlebihan—aku melangkah dan bertanya: bisakah kutahu siapa nama kakek? Lantas, kakek itu bingung, dan seperti tak ingin bicara—melihat seorang anak perempuan berjilbab kuning, berkendis bertanya secara tiba-tiba tepat di samping kirinya.

Sejurus kemudian, kakek itu memalingkan wajah, dengan sedikit mendehem, yang tak tahu apa arti isyarat itu. Mungkin ia kelimpungan, dan hendak duduk dengan santai, tetapi pada pikiran selanjutnya mengatakan, bahwa kakek ini sedang dirundung kelaparan yang luar biasa ganasnya. Selebihnya, sang anak itu merintih.

Mungkin, ini adalah tingkat kebingunganku nomor dua, setelah banyak orang yang mengagumi tanpa sebab. Tiba-tiba saja wajahku memerah, karena tak ada jawaban atas pertanyaan. Kau juga pasti akan kebingungan, ketika pertanyaanmu tak terjawab; merasa kikuk; dan sedikit malu. Aku ingin bersua lagi, tetapi takut tak terbalaskan, walau hanya se-huruf—tanpa mendehem tentunya.

Ingin beranjak dari tempat itu, namun sayang, kata hati ini, dengan modal—sebagai manusia yang dibimbing dari keluarga sederhana, tetapi tegas, dan disiplin serta menolong sesama—adalah kekuatan lain agar tak balik kanan. Tetapi, ya, itu tadi: tak ada jawaban sama sekali.

Kalau ingin pergi, pergilah! Apa pedulimu dengan kakek itu? sebuah pertanyaan menusuk otakku. Buru-buru kubuang. Jauh. Jauh ke neraka. Peduli apa? Brengsek sekali pikiran ini!

Ini mungkin terakhir kali aku menegur seseorang yang tak dikenal. Tetapi, tiba-tiba aku berubah. Mungkin ini adalah hidayah. Anak kecil itu memanggil dalam diam. Sang kakek menyandarkan tubuhnya. Lagi. Dan lagi. Begitu lemah. Seperti seonggok cumi-cumi yang mati. Tubuh itu terbungkus kulit setipis selembar buku. Daging entah binatang mana yang memakan. Pipi mengempis seperti balon kehilangan oksigen. Rapuh. Lemah. Kasihan juga melihatnya.

Bola api raksasa kini telah menyeruduk dedaunan yang mengering dan berjarak jauh. Menusuk-nusuk hingga menyentuh kulit kepala. Panas. Gerah. Tak ada ampun bagi siapa yang disinarinya. Termasuk sang kakek yang kulitnya telah digosongkannya.

Baru saja aku ingin bertanya lagi, anak kecil bertubuh ceking itu menyeruduk plastik hitam di tanganku. Matanya melotot menatap wajahku. Tindakannya tentu, tak membuat sang kakek terkejut. Ia biarkan saja, yang perkiraanku cucunya itu menarik plastik berisikan gorengan tahu dan tempe.

Tak ada suara selain dari kresek-kresek plastik hitam itu. Anak yang tak berdosa layaknya setan-setan jail di neraka—tampak tak sabar mengunyah tahu dan tempe yang tersisa. Ini mungkin semacam anugerah bagiku—yang barang tentu Tuhan, mendorong raga, agar ke tempat di mana kakek dan seorang cucunya ini berdiam diri. Lantas, dalam sekejap, langkah mengarah pada sebuah kios kecil, dengan pernak-pernik jualan tak jauh dari situ. Hanya membutuhkan lima puluh langkah, akhirnya, sebotol air mineral telah berada di tangan—dan berkecipaklah air itu di tenggorokan sang pengunyah.

Sang kakek tak mau kalah. Melalui tangannya yang telah mengecil itu, dalam tempo yang singkat, ia menyabot gorengan di samping, tepat di atas paha sang cucu. Anak itu melirik tajam. Seperti menunjukkan kejemuan, tetapi dibalas dengan usapan yang manis, hingga membuatnya terenyuh.

Resapilah! Saat ini aku sedang menyaksikan semacam sebuah drama kolosal—yang membuat hati seperti teriris-iris. Di Kota yang panas ini—begitu mudah menjumpai orang-orang berpakaian tak layak. Dan, pada titik di mana orang-orang memakai mobil berpendingin, atau ruangan seperti bersalju, kemudian di titik lain, dua manusia yang berpanas-panasan; kelaparan; dan kehausan. Inikah yang disebut sebagai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Tidak. Aku tidak hendak memprotes matahari yang masih memanas. Pun tidak melemparkan kesalahan kepada siapa pun—tetapi dalam perjalanan selanjutnya, bahwa, tak ada kepastian yang pasti untuk mengubah situasi yang ada. Dan kini, aku masih menunggu perubahan sang kakek itu—untuk sekadar menjawab pertanyaan. Namun, ya, ia masih sibuk mengunyah. Khusyuk.

Angin bersilir-silir menyambar baju kaos lengan panjang berwarna hitam yang kupakai. Meski begitu, hawa panas menyengat kulit-kulit yang rapuh; menggetarkan gigi-gigiku yang sedikit besar dua di tengahnya. Tahi lalat di bagian dagu sebelah kanan pun, terasa merosot turun.

Aku dikejutkan dengan nada datar dan halus kakek itu. Suaranya bertabrakan dengan sepoi yang mengembus daun telinga, sehingga begitu sulit mencercap kata-kata. Lantas, kuperintahkan untuk mengulangi, tetapi sang kakek hanya sedikit menganga, dan hidung kembang-kempis, lalu sesekali lidahnya menjulur seperti ular. Ah, betul-betul bingung dibuatnya.

Ia mengais-ngais ujung karung, yang di tengahnya agak berlubang seukuran bola kaki nomor lima. Ketika kutatap mata seperti menyulur itu, sang kakek kembali mendehem, dan kali ini—menggetarkan tenggorokan—pada akhirnya, batuk berdahak kembali meledak. Ia memaksa mendehem, tetapi aku tak tahu apa maksud dari itu semua. Anak sekecil aku, tentu sama sekali belum bisa memahami segala bentuk bahasa tubuh dari seorang tua yang rambut acak-acakan—mungkin tak pernah disasaknya.

Lalu meledaklah ucapan terima kasih itu di gendang telingaku. Hal ini, mungkin bentuk kekagetan yang tak disangka-sangka—sebab sedikit tercengang. Setelahnya, matahari merangkak pelan, tetapi pohon masih merayu agar awan menghalanginya walau hanya sesaat.

Aku tak bisa membayangkan apa-apa lagi, selain dari melihat seekor kucing hendak lewat di depan kakek itu, dengan, tentu penuh kehati-hatian.

Kau mungkin tak percaya, bahwa hanya sekejap, kupalingkan padangan ke sebuah rumah bertingkat dua berwarna keunguan—kakek dan seorang anak kecil itu menghilang entah ke mana. Butuh dua menit saja mereka berlari melesit seperti kapas tertiup angin. Atau, menghilang seperti jin. Ah, entahlah! Hanya sisa-sisa plastik hitam dan sebotol air mineral kini di depanku. Dalam hati berkata, sama-sama.

Setelah itu membisu. Di sudut kota, di bawah pohon sedikit amis ini, membuatku sedikit tak nyaman—celakanya, baru disadari, setelah sekian lama berada di sini. Aku tak berdaya, dan beranjak pergi tanpa haluan.

Selanjutnya baca Bagian Keempat

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: