Menanti Hujan di Negeri Kaktus (1)

Surat dari Mustia

Nita, begitu aku dipanggil oleh seluruh manusia di belahan bumi. Bukan Ita, jika huruf N kau hilangkan dengan lancang! Ketika itu dilakukan dengan sadar, maka kujamin kau akan berdosa! Lalu lidahmu itu, pastinya, hanya sekali menyentuh gusi bagian atas. Sebab, jika gabungan huruf NI dan TA, maka kujamin, ujung lidahmu menerobos gigi lalu menyentuh gusi sebanyak dua kali—jika menyebut: NITA.

Nama ini, pemberian kakekku—dengan tingkat kemiskinan nomor satu di kampung itu. Di sana—jauh dari hiruk-pikuk di sini ….

Aku sedang menyaksikan bola api raksasa yang berangsur-angsur melempem ke ufuk barat. Beberapa menit lalu—menyaksikan orang-orang, dengan penuh kekhawatiran; kecemasan; dan yang paling menegangkan: keranda mayat—berisikan seorang nenek—tewas karena kepanasan. Mengenaskan!

Tak ada yang mampu mengukur kadar panasnya bumi di negeri kaktus itu. Alat canggih begitu tak berdaya. Siapa yang bisa memastikan kapan turunnya hujan membasahi bumi?

Sehari sebelumnya, aku mendengar, orang-orang, tak pernah kenal waktu dalam berdoa. Jika keadaan semakin mendesak, mereka menangis-nangis meminta kepada Tuhan-Nya agar segera diturunkan titik-titik hujan yang lama.

Setelahnya, tepat di mana senja tua meninggalkan semilir pekat gelap—aku membungkuk-bungkuk mengais seonggok tanah—mengambil benda yang sebentar nanti akan kuberitahu!

Walau dalam sehari Aku berdoa sebanyak lima kali—tetap yakin, bahwa panas akan menghasilkan uap dan, kemudian, membentuk gumpalan awan menghitam—hingga menghasilkan hujan.

Inilah yang aku ambil dari dalam tanah itu: selembar kertas. Setelah berhasil, lalu mengipas-ngipasnya dengan halus, hingga bersih dan kembali rapi tentunya. Tetapi, belum juga berbalik, seseorang dengan nada tinggi, memanggil-manggil namaku, seperti hendak menagih hutang. Oh, tidak, itu Ponika, sahabat karibku. Seorang Tomboi yang tertawanya kadang cekikikan. Seperti katak terjepit sepotong besi yang lebih berat dari tubuhnya.

Aku berpura-pura tak mendengar. Atau bahkan, tidak dengar sama sekali (?). Selanjutnya, kau tahu—pasti tak menengok. Ini, daun telinga, pun tak bergerak.

Apa yang menjadi paradoks? Tak perlu kau menjawab! Dan, izinkan aku memaparkan dengan tenang: dari suara itu, aku mengenalnya dengan baik tentu. Pada posisi, di mana bibir ini mengembang, sebab melihat kertas masih utuh, di titik itu pula, tiba-tiba bersanding sedih—mengingat sesuatu yang secara spontan hinggap dengan begitu enteng di ingatan.

Jadi begini: kira-kira sebulan lalu, kertas itu aku tanam paling tidak sedalam lima centimeter—tanpa seorang pun yang tahu tentu. Ketika mengingatnya—tepat sebulan kota ini tak juga dirunduh hujan—tiba-tiba rindu menusuk qalbu—jauh ke dalam hati ini. Kertas itu, terdapat huruf-huruf bertinta hitam, lalu sambung menyambung, dan indah—seindah raut wajahnya; perhatian; dan tentu, kasih sayang luar biasa itu. Cintanya, tampak—seumur hidup hanya untukku. Dan kini, betapa siksa diri ini, ketika bait-baitnya kubaca dengan saksama.

Aku tak sadar, ketika semilir malam menabrak jilbab, hingga pada bagian belakang terbuka. Suara itu terlantun lagi, bersamaan dengan semilir semakin kencang menyapu seluruh pakaian yang kukenakan. Oh, jika kau yang mengalami hal ini, barang tentu kau akan pulang kampung.

Tepat, di mana seluruh anak-anak muda—yang sama sekali aku tak tahu dari mana saja asalnya—sedang merayakan hari valentine—kisah ini terjadi. Di seluruh dunia, kata orang-orang, pun merayakan. Ah, betul-betul tak kumengerti. Sungguh!

Baiklah, akan kuberitahu satu rahasia lagi: di dalam kertas putih itu, tepat di barisan terakhir pojok kanan—tertulis sebuah nama yang tampak samar-samar: Dari Ibumu, Mustia.

Mustia, seorang tua yang memiliki dua anak, dan akulah anak kedua—sebagai harapan di keluarga itu. Anak pertamanya seorang lelaki, bertubuh besar dan sedikit berjenggot. Tetapi tak tahu sekarang, mungkin sudah lebih dari panjangnya rambutku, sebab sudah lebih dari lima bulan—kampung itu, di mana dilahirkan seorang perempuan yang kini mewujudkan mimpi—notabene menyambung mimpi sang ibu, kutinggalkan.

Ia memelukku begitu erat, dengan tingkat pelukan nomor satu di seluruh dunia. Ibu, tak pernah sedikit pun membuat hati ini menjadi rapuh—hanya terus memberikan motivasi—agar anaknya, melanjutkan cita-cita Mustia. Ibuku itu. Ya, surat itu sengaja ditanam sebagai peredam rindu dengannya. Sebab, kata-kata itu: berjuanglah, Nak, lanjutkan cita-cita ibumu yang putus karena kemiskinan kakekmu. Ibu, bapak, dan kakakmu, berusaha sekeras mungkin agar, kau, dapat meraih mimpi-mimpi itu dan berakhir bahagia, menyayat hatiku, meskipun kau tidak.

Aroma tubuh itu, kini, masih menyengat di lubang hidungku yang bagian luarnya sedikit mancung. Bagaimana mungkin anak kelas 1 SMP ini bisa dengan mudah, menghilangkan korelasi antara tulisan-tulisan dalam surat dan aroma tubuh, dari sang tercinta! Oh, Tuhan, jika orang-orang di kota ini berdoa agar turunnya hujan; maka aku berdoa, agar dipertemukan dengannya, sang penulis surat ini. Tetapi itu mustahil tentunya. Ya, mustahil! Sebab, akan kujelaskan pada cerita selanjutnya.

Dua hal itu, hingga kini, membuatku semakin cengegesan—yang ditambah pula penampakan rembulan melambai-lambai di atas sana. Indah nan menawan. Bagaimana bisa membendung perasaan rindu ini?
Lalu, kutanyakan padamu: sudahkah mendapat gambaran bagaimana kondisi perasaanku—tepat di mana saat ini mereka, begitu bergembira merayakan hari tak kumengerti: valentine?

***

Kau harus tahu, biar subuh, kota ini masih dilanda panas. Dan aku, tentu, dengan penuh kehati-hatian, mengubur kembali sehelai kertas itu–dengan segala pengorbanan hati. Tetapi, niatku, bisa ditentang habis-habisan oleh perasaan yang mungkin tak pernah kau rasakan. Meski tersuruk-suruk menyusuri pohon sirsak yang mati—aku tak tega mengubur tentunya.

Aku kembali terbayang, di mana setahun lalu, setitik pengalaman buruk—yang hingga kini, membuatku tak mudah patah. Ya, aku hampir menyerah, sekolah hanya karena bapakku, sang lelaki tangguh itu jatuh sakit—pertepatan dengan hari pembayaran biaya sekolah. Oh, kau juga perlu tahu, bahwa kerentanan, entah apa pun bentuknya, selalu dialami. Tetapi, jika kertas itu, digali, dibaca, dan seterusnya bisa ditebak: rasa hampa terbang melayang lalu menyelinap hingga ke lautan paling dalam. Sungguh ajaib!

Sebenarnya aku tahu, apa yang harus dilakukan tetapi, pengetahuan tentang move on dengan sehelai kertas yang menggairahkan bukanlah hal mudah. Pada titik itu, tak ada alasan tentu, menghancurkan sehelai kertas terbungkus plastik hitam yang ditanam di belakang Kos Sundulut.

Selanjutnya baca juga Bagian Kedua

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: