Mengejar Matahari (2)

Kos Sundulut, memiliki enam kamar, dengan tingkat kebersihan nomor satu se-Indonesia. Tetapi, masih tetap bertahan dengan kondisi pepohonan yang memprihatinkan seperti pada gedung-gedung lain di sana. Di tempat inilah, lima anak-anak kampung menghuni—bertaruh nasib di kota dan, di pagi yang cerah tak bermendung ini, sebagian dari kami belum juga selesai menyelaraskan antara rok dan kemeja putih lusuh—yang sesekali kancingnya copot karena rapuh. 

Atau, mungkin sedikit merefleksi tingkah aneh dari seorang sahabat yang satu ini: Widya. Ia seorang yang super panik ketika wajah, belum dioleskan sedikit bedak tatkala suara-suara perintah: bergegas, yang meraung-raung di luar kamar. Dengan wajah cemberut, dan sedikit kesal perempuan ini pasti berjalan mengayun-ayun.

Sepanjang pelataran menuju ke kamar masing-masing, sebuah taman yang enggan pohon-pohon untuk sekedar tumbuh di atas, selain kaktus  dengan tingkat duri yang paling kecil dan mengerikan. Sebuah etos tanaman canggih nomor wahid. Aku ingin merenungkan sesuatu yang tampak tak mudah dilakukan. Sayang, tak tahu apa!

Sekelebat, berbalik dan ingin terjun pada sungai yang paling dalam dan hendak mengambil bebatuan putih nan cantik untuk di pajang di taman itu, agar lebih menarik, meskipun bersih.

Sekarang bandingkan: sebuah taman dengan rumput-rumput hijau, dihiasi oleh bunga-bunga berwarna-warni, dan bersih di bawahnya oleh plastik-plastik; dengan sebuah taman yang berdebu, pepohonan mengering, dan di atas tanahnya berserakan sampah-sampah bau amis. Bandingkan!

Ah, sudahlah, untuk apa juga kau membandingkan yang tak perlu itu. Sekarang, mari melihat situasi di mana Ponika dan Susi saling menggenggam jari-jemari di teras jalan yang tak begitu luas di kota ini dengan sayu dan melangkolis. Dengan riang gembira—siulan-siulan kecil melantun bak seruling yang lubangnya hanya dua—dimainkan oleh seorang tua—memiliki bibir sedikit tebal.

Ponika, sebagai kawan sekampung, juga mengejar mimpinya, yang selalu memberitahukan padaku. Pagi ini, ia mengenakan rok biru dan kemeja putih yang lusuh karena tak pernah diseterika. Nampak seperti cinderela yang kesasar di hutan. Jangan tanyakan bagaimana dengan pakaianku! Sebab, kau hanya perlu melihat Ponika, dengan gaya rambutnya yang pendek, tetapi lurus itu jatuh dan sedikit mencongok. Perempuan sebaya denganku itu pasti terbahak-bahak melihat pakaian seragam satu-satunya—yang setia dipakai pada hari senin hingga kamis. Pun, dia.

Begitu lain dengan Susi, pemilik nama lengkap: Susi Sumiati Almaidah Alibaba ini—memiliki sikap agresif dan monoton—selalu menentang keinginan orangtuanya sebagai seorang pramugari—hanya karena ingin menjadi seorang ibu guru yang baik dan menularkan virus-virus ilmu pengetahuan. Dengan begitu, tingkat resiko kematian di udara dan di darat akan jauh darinya, sebab, sekolah tak jauh dari kampungnya—yang bertetangga dengan kampungku yang tersudut itu.

Sepulang sekolah—menjelang magrib, dengan tingkat agresifitas tinggi, Ponika berdiri di depan pintu papan berwarna biru—sebagaimana tempat ia sering mendapatkan ide yang sedikit konyol. Dan, ia, nampak mengetahui, bahwa aku akan mengajak mereka diskusi sebagaimana tradisi kami yang dibuat semenjak menemukan seseorang dengan keterbelakangan mental, karena tidak pernah melatih dirinya untuk bersosialisasi.

Dia menunggu sampai selesai magrib. Dan aku mengiyakan. Ketika sholat maghrib usai, ia masih menunggu keluar dari istanaku. Detak-detak jarum jam di tangannya, seolah-olah memaksa untuk mengetuk pintu dan menculikku—ke tempat perkumpulan. Ia berharap, bahwa aku tak lagi merenungkan sesuatu yang dianggapnya merugikan—karena pada tingkat kerinduan itu—aku malas makan dan belajar.

Seperti yang kukira, ia mengetok pintu dan memanggil-manggil namaku. “Nita … Nit …” suara itu menggema, dan masuk melalui lubang-lubang di bawah pintu yang memang tak rapat di lantai. Aku tentu mendengarnya, tetapi tak juga keluar. Ponika semakin gelisah.

Hingga sholat Isya selesai aku baru keluar dari kamar yang kusebut sebagai istana. Ia mengira, bahwa kegelisahanku semakin berkecamuk. Kujawab dengan enteng: Aku mengerjakan tugas, dan harus selesai sebelum kita berkumpul di tempat ini. Ia mengangguk pelan, tetapi lidahnya sedikit menjulur—seperti biasa, aku tersenyum melihat Ponika bertingkah layaknya di masa kanak-kanak.

Aku baru berumur sembilan belas tahun. Kekaguman dari orang-orang terhadap diriku semakin meningkat. Popularitas yang entah apa penyebabnya, begitu menghayat-hayat kerinduan. Andai saja diketahui oleh ibu di kampung, mungkin ia menangis bahagia, atau bahkan, sedih karena orang-orang mengagumiku tanpa sebab.

Anak-anak yang masih kelas satu SMP itu telah terkumpul di pelataran Kos Sundulut. Lumayan luas. Kursi-kursi terbuat dari rotan melingkar rapi sebanyak sembilan buah. Meja saling mengapit dua buah berwarna kecokelatan. Di atasnya, terdapat bunga-bunga palsu—menunjuk-nunjuk langit. Di samping bunga itu, ada kue-kue cokelat bercampur mentega dan telur bebek—kiriman dari kampung salah satu penghuni kos.

Ketidaksabaran membuat Laila—salah satu penghuni kos yang paling cilik, berjingkrak-jingkrak, seperti katak yang baru saja bertelur di sebuah kolam penuh ikan-ikan hias. Sesekali pula, kaki kanannya, digerak-gerakan laksana ekor cicak yang mengintai beberapa ekor nyamuk imut-imut. Dan, ketika pandangannya tertuju pada satu objek, tiba-tiba ia terkejut—berteriak seperti orang gila yang selalu mengganggu tidur nyenyak di kompleks ini. Entah apa!

“Baiklah, sekarang begini,” kataku, membuka diskusi non formal itu dengan sedikit ramah. Perhatian tertuju padaku tentu. “sebelumnya, aku ingin bertanya: apakah akhir-akhir ini, kalian merasakan panas yang luar biasa?” lanjutku.

“Iya … iya …,” jawab Laila cepat. Yang lain mengangguk-angguk pelan. Ponika mencoret-coret buku catatan hariannya.

“Kipas angin ada di masing-masing kamar, kan?”

“Iya … iya …,” jawab yang lain. Laila mangguk-mangguk. Ponika memperbaiki cara duduk—yang tadi kaki kiri berpangku pada paha kanan, kini kedua kaki itu terkapar di lantai—duduk santai.

“Di sekolah, kita tidak pernah diajarkan sesuatu yang dianggap menyejukkan.” Ponika mengangguk-angguk. Laila mengambil kue. Yang lain menatap tajam wajahku.

“Maksudnya?” seorang bertanya, yang memang tak pernah mengangguk ataupun membuka mulut.

“Kota ini begitu panas. Pohon-pohon nampak muram untuk tumbuh. Kalian tahu, kan Pohon Johar?” yang  lain mengangguk. Ponika membuka mulut, hingga lalat mau masuk. Laila menggeleng-geleng.

“Masih belum mengerti, Nit,” kata Susi. 

Di kejauhan sana, meski sedikit temaram, seekor kucing mengintip sepuluh pasang mata di pelataran Kos Sundulut, dan perut bagian kirinya, dielus-elus ke tembok halus sambil pula berjalan. Mataku mencercap, dan terus mengikuti tingkah yang tak tahu dosa itu—menyasar sebuah pintu tak dikunci. Dengan begitu, kucing berbulu halus itu, sedikit menanduk pelan pintu hingga tak berbunyi, dan hendak mensasar sisa-sisa makanan lezat untuk mengisi perut. Tetapi sial. Belum juga kaki depan bagian kanan si jantan itu meraih sepotong ikan goreng, Laila mengerjap-ngerjap—setelah kuberitahu, bahwa pintunya terbuka, dan seekor binatang hendak mencuri sehingga, sang jantan terkejut lalu kabur. Sangat liar. Melesit seperti badai angin.

“Susi,” sapaku, seraya menjawab. “kipas angin di dalam kamar kita masing-masing, bukankah karena alasan panas yang menyengat, membuat gerah, dan kadang-kadan tak beta? Sehingga, kita harus membeli kipas angin itu … bukankah tanah di kos ini, bisa menumbuhkan pepohonan yang rindang? Dan, akan menyejukkan walau pun kemarau berkepanjangan?“

“Ya, lalu bagaimana?” tanya salah seorang dalam gelisah.

Aku sedikit terdiam. Hanya pohon johar yang seingatku bisa tumbuh, dengan campuran-campuran tanah dan kotoran sapi. Tetapi, semua itu butuh waktu yang sedikit melelahkan. Dan kini, semua akan dimulai.

Ini adalah negeri kaktus. Negeri di mana kami akan berjuang mati-matian demi mimpi-mimpi masing-masing di genggaman untuk diperjuangkan; negeri beribu keindahan; dan penuh deru yang berkepanjangan. Panas menerpa. Sebab, kemarau tak berhenti lalu tergantikan hujan yang menyenangkan; hingga memandu semua anak-anak kota untuk bermain-main di bawahnya dengan bahagia. Tetapi, harapan-harapan itu masih ada. Masih tumbuh.

Pikiranku tertuju pada pertanyaan-pertanyaan “ya, lalu bagaimana?”, dan sebagai tugas selanjutnya, mencari jawaban itu semua, paling tidak melawan kabanyakan orang yang mengeluh—berteduh pada dongak dan tak tahu diri. Sekarang lihatlah, empat orang sahabat-sahabatku ini, begitu gelisah menunggu sebuah jawaban—dan tentu, aku bersyukur. Terutama Ponika, ia tahu, bahwa nanti akan menguak semua kegelisahan-kegelisahan ini. Buku di tangannya itu, kini diletakkan di atas meja. Tak lupa ia menggigit ujung pena, tanpa ia sadari kuman bebas masuk ke dalam mulut. Tetapi baginya, kuman tak berarti dibanding mencatat hasil-hasil kesepakatan.

Mereka memberikan kesempatan padaku, untuk memberitahukan: apa yang dilakukan selanjutnya—sebagai jawaban pertanyaan di atas. Pada titik di mana jarum jam tangan Ponika menusuk angka 10, tiba-tiba seorang tua, dengan suara sedikit termehek-mehek, menyebut-nyebut nama-nama kami satu persatu. Ia Mangge Robuka, sang penjaga kos. Datang untuk memberitahu, bahwa sudah waktunya tidur, sebab esok akan sekolah. Semilir angin menusuk kulit, dan jangkrik jantan itu, kembali berbunyi ketika jangkrik betina berbalas. Ah, mimik wajah itu—kau harus tahu: begitu bergelora dan penuh keoptimisan. Kau tahu kenapa? Akan menciptakan kesejukan alami!

***

Aku bingung dengan sikapku. Pada hari di mana memakai baju putih yang sedikit bersih mengkilap ini, tiba-tiba bersikap dingin pada Ponika. Ia pasti bingung, tetapi apa pedulinya diri ini terhadap perempuan tomboi itu? Sebab, aku sendiri masih terkurung dengan kebingungan. Tetapi, dalam sekejap, melalui ekor mataku yang sedikit besar ini—ia memandang pipi yang semakin tembem, dan alis semakin lebat. Dan selanjutnya, tak tahu apa yang ia pikirkan.

Aku masih terdiam kaku, membeku, bibir terkunci rapat, dan embusan nafas begitu ringan.

Tiba-tiba sepasang malaikat berbisik ke telinga Ponika, sekadar menitipkan pertanyaan hal yang nampak tak penting bagiku: kenapa memakai baju putih? Heran dan bingung. Lantas, terpaksa menjawab dengan santai: ya Ponika, aku memang tak sukai warna putih—seperti kau menyukai merah, tetapi harus diketahui, baju ini, meskipun tubuh semakin besar—tetapi masih cocok dipakai—itulah yang membuatku sedikit termangu.

***

Sekelebat dalam ruang dan waktu yang nampak samar-samar, kebisuanku meledak, seperti landak mengamuk. Mereka, ya, mereka, memukul-mukul pipi yang tipis-tipis, dan bertanya-tanya: apakah ini kenyataan atau mimpi! Ketika memerah, dan terasa perih, semua terjawab, bahwa ini adalah nyata.

Mereka heran dan sedikit tercengang. Coba bayangkan: selama bersama mereka, tak seperti biasanya aku berteriak-teriak sambil melompat-lombat seperti kuda kegatalan. Jilbab cokelatku beterbangan terhempas angin yang nakal. Kukira, sedikit meracau sepulang sekolah ini, tak apa. Toh, ketika bulan berganti—doa meminta hujan tetap itu-itu saja.

Setelahnya, semua terdiam. Tak ada juga yang berani bertanya, kenapa bertingkah seperti tadi. Lalu, kukatakan pada Ponika, yang tentu telinga-telinga lain mendengar, bahwa jika esok tak juga hujan turun menyambar bumi—kita ke pantai. Tentu mendapat tanggapan yang miring: hendak apa di sana? Dengan sengaja, buat seorang penanya itu penasaran. Biarkan saja ia memberontak dalam hati. Meskipun demikian, antusias begitu tinggi menyambut.

Sepulang sekolah, dengan riah-riuh wajah yang gembira; warna-warni baju berupa-rupa bentuk; bibir-bibir merekah nan memesona; tepat di mana jarum jam pendek menunjuk ke angka 5, dan jarum panjang tepat di angka dua belas, langit terlihat kaku. Sepertinya, tak ada tanda-tanda hujan menyambar seisi bumi kaktus. Ketika duduk santai di pantai yang putih penuh sampah plastik, senja pun telah tiba.

“Mari ikut denganku!” Aku mengajak mereka yang masih ranum-ranum seranum bunga mangga itu. Berlari-lari di tepi pantai dengan bahagia; melepas kepenatan kota yang panas; membebaskan diri pada angin-angin segar—sesegar keindahan pegunungan; meniti di atas gulungan ombak yang lucu-lucu—selucu anak kancil yang memerah.  Baris-berbaris anak-anak kecil ini. Kau harus saksikan, bagaimana di senja menua ini, kami akan mengejar matahari!”

Berlari, mendengkur, membungkuk, berbaring, ah, betul-betul lepas. Lihatlah! Raut-raut wajah polos ini, terpancar kebahagiaan yang tak terkira—tepat di mana matahari tak berhasil di genggam. Cahaya-cahayanya kini, membidik sosok tubuh yang digandrungi sebuah euforia yang dianggap sebagai khayalan belaka. Tetapi, sebenarnya, inilah awal mula menciptakan kesejukan di kemudian hari.

Aku berteriak sejadi-jadinya, sebelum senja menyisahkan gelap:… Oh, matahariku, suatu waktu, aku akan mengejarmu, menggenggammu, dan menyuruhmu untuk menciptakan uap sebanyak-banyaknya. Hingga, kau mampu menurunkan titik-titik hujan di bumi kaktus ku …

Selanjutnya baca juga Bagian Ketiga

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: