Meningkatkan Kualitas Diri dengan Cara Ini

meningkatkan-kualitas-diri-dengan-cara-berikut
Dokumentasi pribadi.

Meningkatkan kualitas ini hampir tidak tahu memulai dari mana. Namun, hampir setiap hari kita mendengar, ‘jadikan ini pembelajaran’, bahkan kita sendiri yang mengucapkan itu. Namun hampir setiap hari juga kita mendengar, mengetahui, melihat atau bahkan mengalami langsung—tentang pengulangan peristiwa.

Peristiwa itu serupa dengan kejadian yang memunculkan kalimat ‘jadikan ini pembelajaran’. Dengan pengulangan-pengulangan peristiwa itu, hendak kita bertanya: mengapa bisa terjadi?

Di luar dari ketentuan Tuhan, ada yang mesti kita hadapi mengenai diri sendiri. Saya mencontohkan saya sendiri.

Dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, yang semakin tua, ‘memaksa’ diri untuk terus belajar. Menambah kualitas diri. Meskipun tidak se-berkualitas orang-orang di luar sana, tapi kata kuncinya adalah ‘terus berbenah’ dan ‘belajar’.

Meningkatkan kualitas diri sangat diperlukan, karena memang membutuhkannya. Hingga sudah tidak mampu lagi. Situasi berubah. Tidak update sedikit saja maka ketinggalan kereta.

Untuk meningkatkan kualitas diri, tentu saja tidak hanya didapatkan dari bangku pendidikan formal. Dari sektor nonformal pun bisa. Bahkan bisa dikatakan, melalui jalur nonformal, melebihi dari pendidikan formal.

Pada pendidikan formal misalnya, kadang terbentur dengan kebijakan pemerintah yang selalu berubah-ubah. Berganti periode pemerintahan, berubah pula kebijakan. Sementara ‘beban’ ada para pengajar yang harus menyesuaikan kebijakan. Kemudian berimbas pada para pembelajar.   

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, beberapa cara di bawah ini saya lakukan. Di lakukan agar terus terpacu meningkatkan kualitas diri dengan cara melakukan berikut ini:

Motivasi

Ada tidak yang pernah menyebut ‘iri boleh, tapi iri positif’. Ada tidak iri positif itu?

Saya kadang memercayai kalimat itu sebagai bahan dukungan pada diri sendiri. Maksudnya begini, saya memandang kalimat itu sebagai motivasi, karena melihat orang lebih baik dari saya.

Kalau kita pernah mempelajari teori motivasi—sebagai penggerak dalam diri seseorang agar melakukan serta mencapai suatu tujuan.

Kemudian apa juga kalimat, ‘dia saja bisa, masa saya tidak’. Kalimat itu membuat diri sendiri tersugesti untuk berbuat sesuatu.

Karena begini, kadang juga saya itu mental bobrok. Dengan motivasi inilah menjadi kekuatan mental, sehingga tergerak, terdorong untuk segera melakukan sesuatu.

Motivasi terdapat ‘unsur-unsur’ yang harus dipenuhi masing-masing individu.  Misalnya harus ada keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan dan sasaran.

Untuk itulah, sebagai manusia yang masih terus belajar dan mengembangkan diri, saya menyarankan belajar bersama-sama dengan cara pertama ini yaitu motivasi.

Meneguk Kopi di Pagi Hari

Apa hubungannya dengan minum kopi di pagi hari?

Diri saya ini memang aneh. Bangun pagi setelah meneguk beberapa gelas air bening hangat, pasti minum kopi. Dan itu rutin. Nyaris tidak pernah ketinggalan.

Teori yang menyatakan bahwa meminum segelas kopi pada pagi hari akan membantu seorang dari serangan depresi dan stres benar adanya. Setidaknya menurut saya.

Mengapa disebut sebagai benteng dari serangan depresi dan stres? Karena ternyata, dalam kandungan kopi ada antidepresan—yang dapat mengatur suasana hati menjadi lebih seimbang.

Apabila kita mengalami depresi atau stres, tentu saja berdampak pada peningkatan kualitas diri sendiri. Sebagai akibat lanjutannya, hari-hari diwarnai dengan tidak-becusan. Karena produktivitas menurun.

Itulah sebabnya saya rajin minum kopi setiap pagi. Dengan kopi, dapat menambah ‘gairah’ belajar, karena menurut saya, saraf-saraf otak jadi lancar jaya.

Selain hal di atas, alasan kesehatan juga menjadi alasan mengapa minum kopi.

Membaca

Saya pernah mendengar ucapan seorang rekan. Ucapannya begini, ‘kita ini membaca, apa yang kita perlukan saja’. Artinya, menurut dia, kita tidak akan tertarik membaca sesuatu ketika kita tidak membutuhkannya. Saya kira itu benar.

Sebagai seorang ‘anak hukum’ saya kadang cuek dengan bacaan-bacaan tentang matematika dan segala teorinya itu.

Atau, ‘anak desain’ kemungkinannya cuek membaca tulisan-tulisan menyangkut hukum.

Maksudnya adalah, kadang mau mempelajari atau membaca di luar minat atau bidang kita, ketika dibutuhkan. Ada yang bisa bantah?   

Agar terus membaca, saya biasanya menyiasati dengan cara mengikuti akun-akun media sosial yang bermanfaat. Zaman sekarang ini nyaris semua orang ada akun media sosial.

Saya melakukan itu, karena kadang malas baca buku. Buku saya, saat ini, masih menumpuk. Mungkin setengahnya belum saya baca. Kalau pun dibaca, paling tidak yang penting-penting saja. Saya kadang tidak tuntas membaca apabila buku tersebut berbentuk novel.

Untuk menggantikan ‘kemalasan’ baca buku tersebut, saya membaca via handphone. Dengan handphone bisa membaca apa saja. Melalui handphone, memacu membaca hal-hal yang di luar dari bidang keilmuan.

Poinnya adalah, membaca, apa pun bahan bacaan itu, karena dengan ‘membaca adalah jendela dunia’.

Berusaha untuk Terus Bangun Pagi

Begadang memang membuat orang jadi ‘malas’ bangun pagi. Namun ada beberapa orang yang saya tahu, jam berapa pun tidur, tetap bangun pagi.

Bangun pagi bisa kita anggap dan sepakati antara pukul 4 sampai dengan pukul 6 pagi.

Saya sendiri lebih menyepakati bahwa bangun pagi di antara waktu di atas lebih meningkatkan produktivitas. Sebagai pelengkap, meminum segelas kopi. Dengan begitu, melakukan pekerjaan menjadi lebih baik.

Bekerja pada pagi hari, di depan laptop misalnya, konsentrasi terjaga. Menurut penelitian seorang profesor biologi di University of Education, menyatakan bahwa ‘orang yang bangun lebih pagi memiliki energi yang lebih banyak’.

Berusaha untuk Disiplin

Sejak sekolah dulu, saya memiliki apabila terlambat, sebaiknya tidak masuk. Prinsip itu kemudian berakibat ‘saya harus datang lebih cepat, agar terus masuk’.

Disiplin ini sangat penting, karena memiliki banyak manfaat. Disiplin bisa mengajarkan keteraturan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Dengan disiplin kita dapat mengelola waktu. Bukan waktu yang mengelola kita.

Namun kadang-kadang saya juga betingkah tidak disiplin. Itulah mengapa saya harus melakukan upaya-upaya agar terus meningkatkan perilaku disiplin ini.  

Perilaku disiplin menjadi bagian dari pembenahan diri saya.

Saya merasa bahwa, terus menambah kualitas diri sendiri menjadi satu aspek yang wajib dilakukan secara konstan. Karena itu, menjadi penting juga untuk terus terbuka pada siapa pun yang dapat memberikan ilmu.

Berprofesi sebagai Advokat, tentu wajib untuk mengikuti setiap perkembangan ‘dunia hukum’. Termasuk di dalamnya, mencari tahu produk perundang-undangan yang terbaru.  

Semoga bermanfaat.

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

2 komentar pada “Meningkatkan Kualitas Diri dengan Cara Ini

  • 16 September 2021 pada 12:46 pm
    Permalink

    saat orang lain mendapat kebaikan, saya tidak ingin kebaikan itu hilang darinya. saya hanya ingin mendapatkan kebaikan yang sama atau sederajat. bagaimana menurut anda? apakah itu termasuk iri? iri yang positif atau negatif? sudah termasuk dengki atau belum? terima kasih.

    Balas
  • 17 September 2021 pada 1:46 am
    Permalink

    Bagian dari motivasi yang menuju ke arah positif. Sehingga pendapat saya, ‘iri’ yang positif.
    Kalau menginginkan kebaikan itu hilang darinya, itu bagian dari dengki.
    Tetap semangat untuk memperbaiki diri.

    Balas

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: