Pesan Sang Ibu (6)

Pagi ini cerah. Pekikan burung-burung gereja melengking di udara. Orang-orang tentu masih berharap akan rongrong hujan yang lebat jatuh bebas ke bumi. Dan aku, dalam posisi bertekuk—baru saja mengebiri seonggok kerinduan.

Kau mungkin bisa berpendapat, bahwa apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang lebai. Tetapi lihatlah, sebelum berangkat ke sekolah berkas-berkas kenangan bersama sang ibu terkuak kembali. Di SD lalu, ia akan menyediakan pakaian seragam; memasak nasi goreng, dan segelas teh manis. Sehabis mandi, kulihat begitu lengkap, meski sederhana. Kecuali hari minggu, ibu terus melakukan hal itu. Itulah kenapa pagi ini aku sesekali: menunduk, merukuk, lalu bersujud! Apa juga kau menyebutku gila?

Tentu aku tak bisa men-justice dengan enteng.

Sedang, Mangge Robuka sedari tadi membersihkan halaman Kos Sundulut—sebersih mungkin dengan seikat lidi yang besar, lalu disambung dengan sepotong kayu—agar ia tak membungkuk.

Aku memang sosok wanita yang tak tahan jikalau kerinduan merongrong keseharian. Sebab, sedari kecil, aku senang bersama ibu. Tak pernah lepas dari perhatian dan kasih sayang yang kuanggap luar biasa itu. Kehidupan jauh dari orang tua saat ini, membuat seperti tidak bergairah—ditambah lagi dengan penantian titik hujan yang ragu-ragu turun. Meski ada Ponika, sahabat yang tak pernah lekang oleh waktu, rindu tak juga bisa dihilangkan dengan sekejap.

Bagaimana mungkin aku bisa mengelabui kerinduan yang teramat dalam ini? bagaimana mungkin seorang Ponika yang senantiasa menghibur membagi sedikit waktu? Bagaimana bisa terhindar dari kerinduan, sementara setiap manusia pernah mengalaminya? Oh, Tuhan, adakah obat yang bisa meredakan segala tuntutan hati hamba-Mu ini? doaku dalam hati.

Setiap kali aku meringkuk dalam kehidupan ini, setiap itu pula, bayangan seorang ibu mampir di pelopak mata. Bulu mataku yang lentik, yang menggairahkan dewa-dewa di langit sana, tetapi tidak menjanjikan sesuatu untuk dapat menghindar—dan aku, bersyukur atas hal ini. Sesungguhnya, aku bisa bertasbih, melalui lirikan doa-doa mujarab yang diajarkan sang ibu padaku. Tetapi, doa adalah doa, jika tidak bertemu perempuan itu, kau mau apa?

Kegelisahan sahabatku semakin menjadi-jadi tatkala aku membisu. Setiap bujuk rayunya serasa membuatku semakin kebal. Sampai pada ancaman, bahwa waktu berangkat sekolah tak lama lagi—membuatku tak bergeming dengan semua ocehan murahan itu. Ponika tak tahu, kerinduan yang melandaku memang betul-betul bisa menurunkan semangat. Meski ia sahabat sedari kecil, tetapi buktinya tetap merayuku seperti sedang merayu anak kecil yang tak ingin makan bubur.

“Nit … ayolah …!” Kata-kata terakhir itu melayang di ujung telingaku. Setelahnya, ia pergi tak tahu ke mana. Aku tak pedulikannya, dan tak pernah membayangkan, sampai di mana bayangan tubuh yang tomboi itu bermuara. Yang aku bayangkan saat ini adalah sesosok tua, bergigi kecil-kecil seperti gigiku. Berhidung besar, seperti hidungku. Bertutur manis seperti tuturku. Ibu Mustia.

Teriakan-teriakan dari luar kamar membuatku semakin tak berdaya. Aku menganggap bawa itu hanyalah seonggok ocehan yang tak bernilai. Sebab, setelah terdengar jelas, lalu samar, dan menghilang di telan malam. Ponika pergi begitu saja dengan mengentak telapak kaki terakhir yang selanjutnya tak kudengar lagi. Lalu, dalam hatiku berkata: bisakah ibuku datang menemuiku? Atau, bisakah sekolah mengizinkanku pulang untuk menemui perempuan tua itu?

Ah, Nita, kau telah memiliki nama lengkap yang begitu anggun. Sewaktu kau dilahirkan, tak ada yang berani memberikanmu nama, karena ibumu melarangnya. Nama Nita di depan itu, adalah hasil peraduan hati dan pikiran kakekmu—bapak dari ibumu. N-I-T-A. Sebuah kata menjadi nama—sebagai sebutan panggilan—yang terikrar ketika kakekmu mengambilnya dari suku kata W-A-N-I-T-A. Kemudian, dengan cerdasnya ibu memberikan nama di belakangnya: N-U-R-F-I-T-R-I. Betul-betul nama yang istimewa. Sekiranya, kosa kata W-A-N-I-T-A, menjadikanmu sebagai wanita yang peduli terhadap keluarga, sesama umat manusia, dan alam semesta. Menjadi wanita tangguh, tidak cengeng, apalagi malas. Wanita, senang membantu, dan tak puas akan ilmu pengetahuan. N-U-R, adalah cahaya dalam bahasa arab, bahwa semua tingkah lakumu bercahaya di hati setiap orang. Cahaya itu akan menyinarimu menuju surga kelak. F-I-T-R-I, menjadikanmu wanita yang bersih. Bersih dari segala dengki hati, pendusta, pengkhianat, dan In Sha Allah bersih dari dosa-dosa. Dengan begitu, Nita Nur Fitri, nama yang dinobatkan bapak dari ibu kepadamu, adalah tiga kosa kata nama yang tak main-main …. Begitulah jadinya jika pikiran melayang-layang, lalu berkecamuk hingga mengingat kembali pesan-pesan sang ibu.

Suatu malam sebelum tidur, seingatku, inilah terakhir kali ia berpesan: jangan main-main akan sebuah nama. Sebab, katanya, nama bisa membawah berkah—dan jika sikapmu buruk, maka nama itu akan selalu disebut-sebut sebagai orang jahat. Pun sebaliknya.

Aku bangkit. Melawan segala kerinduan yang merongrongku di dalam kamar 3×4 ini. Biarkan saja air mata menetes, toh di hapus oleh air putih yang tetesannya menyerupai kencing anjing. Sebab, kemarau yang berkepanjangan membuat air tak berani mengalir dengan deras. Di hulu, begitu buruk dan sang penjaga air kewalahan dengan itu.

***

Aku optimis, bahwa hari ini, tak lagi terlambat masuk sekolah. Sekolah yang rupa-rupanya diidam-idamkan ibuku sewaktu ia masih remaja. Namun apalah daya, orang tuanya, atau kakekku, tak mampu menyekolahkan anak-anaknya, dengan biaya pendidikan yang luar biasa mahalnya.

Dari jauh, pintu gerbang itu menganga lebar. Seekor kupu-kupu hitam terbang melesit dan ia memilih untuk transit sebentar di pucuk pagar yang tajam. Di bawahnya, begitu ramai anak-anak dengan mulut komat-kamit. Kulihat ke belakang, ternyata sudah tak ada lagi siswa berjalan—mungkin siswa yang terakhir menuju sekolah sebelum pintu gerbang di tutup security, adalah Nita. Ya, aku. Meski tak bangun telat, tetapi langkahku mengayun pelan. Entah kenapa.

Aku semakin dekat tetapi kaki melangkah pun semakin berat rasanya. Aku mengingat lagi bahwa ibuku pernah bermimpi menjejakkan kaki di sekolah ini hingga lulus. Namun, anaknyalah yang berhasil mencapai impiannya, meskipun aku tak bermimpi sekolah di sini. Pun dengan Ponika, sahabat baikku sedari bayi.

Ponika sedari tadi menungguku di ruangan kelas. Teka-teki di otaknya telah mampu terjawab ketika aku berhasil meraih pintu berwarna hitam itu. Ia melemparkan senyum khasnya ke arahku. Kelihatannya, ia prihatin ketika aku tak masuk sekolah. Peristiwa di pagi tadi, tak juga menjadikannya sebagai peristiwa yang teramat penting, hanya saja, merasa khawatir, bahwa tindakan itu membuatku absen hari ini.

“Oh, rupanya tebakanku betul, Nit. Kau tak berani melanggar pesan-pesan ibumu,” katanya sesaat aku berada tepat semeter di depannya. “ibuku juga berpesan, bahwa jangan pernah absen sekolah jika memang alasannya tidak masuk di akal …” lanjutnya mengoceh.

“Terima kasih, kau sudah menemani hari-hariku. Mungkin sudah saatnya kita bersih-bersih kelas!”

Aku sepertinya tampak heran, sedari masuk pintu gerbang tadi, kenapa para siswa, guru-guru, staf, dan security tak menyapaku seperti hari-hari sebelumnya. Apakah ada yang salah dariku? Padahal, aku sudah menyapa mereka dengan sopan selayaknya manusia. Apa ini menjadi pertanda, bahwa hujan akan turun sebelum sang fajar bangkit?

“Pon!” panggilku mengagetkannya, setelah ia berhasil menyelesaikan pungutan sampah terakhir di bawah mejanya.

“Ada apa, Nit? Wajahmu tampak murung. Kau tidak begitu bergairah.”

“Aku merasa heran. Kelihatannya, orang-orang memandangiku lain hari ini. Padahal, sebulan setelah kita diterima di sekolah yang menjadi incaran anak-anak lainnya ini, mereka begitu akrab, ramah, sopan pula. Ada apa ya hari ini?” mendengar pertanyaanku, Ponika hanya tersenyum. Lalu ia keluar membuang sampah terakhir di tangan kirinya itu di balik pintu.

Ia kembali angkat bicara sambil berjalan menuju ke arahku.

“Mungkin pikiranmu masih dipengaruhi apa yang terjadi pagi tadi—yang memang aku tak tahu. Sehingga, matamu yang bulat menyerupai mata ibumu itu, melihat setiap manusia penghuni sekolah ini, berlain sikap terhadapmu. Masihkah kau percaya, bahwa jangan mudah dipengaruhi oleh energi negatif yang kau buat sendiri?” ia menyerangku dengan pertanyaan yang ragu-ragu aku jawab.

“Tidak seperti biasanya, Pon!” kataku. Aku beranjak duduk.

“Bukankah kau telah menciptakan seonggok kegelisahan yang semestinya tidak kau buat?! Aku mengenalmu sedari kecil. Bahkan sedari bayi. Tapi, sumpah, pagi tadi, aku tak mengenalmu!”

“Maksudmu?”

“Apa kau juga mengenalku pagi tadi?”

Aku terdiam dengan pertanyaan itu. memang, setiap pertanyaan yang dilontarkannya padaku, tak kujawab sebagaimana mestinya. Aku hanya diam dan meneteskan air mata. tapi, aku tak berniat untuk mencampakkannya.

“Maafkan aku!” pintaku. “kukira kau telah memahamiku. Tapi, saat ini, persoalan yang lain lagi. Kau mungkin tak mengerti dengan perasaanku—orang-orang yang melihatku tak seperti biasanya, Pon,” lanjutku.

“Apa perlu kau tahu kenapa demikian, wahai Nita Nur Fitri?” tanyanya mengagetkanku. Ah, rupanya sahabatku ini tahu, kenapa orang-orang melihatku tidak seperti biasanya!

“Tentu, Pon!”

“Tapi ada syaratnya!” pintanya.

“Apa itu?” tanyaku.

“Jika ada masalah, sharing dong pada sahabatmu ini. Bisa, kan?”

“Ya, iya,” jawabku membujuk. “Lalu, bagaimana dengan tadi? Masalahnya apa?”

“Yang mana?” Ponika berpura-pura tidak tahu. Ia seolah-olah memancing emosiku yang tak pernah hadir di depannya.

“Jangan buatku mati penasaran, Pon! Usahlah berpura-pura! Cepatlah!” pintaku tak sabar.

“Hahaha ….”

“Tertawamu menyinggungku, Ponika ….”

Ia memancungkan bibirnya sesaat. Lalu memandang lepas ke jendela yang baru saja di buka salah satu siswa di kelas itu. Tampak, wali kelas kami tergopoh-gopoh berjalan, dengan tentengan tas besar berwarna hitam di pinggangnya.

“Cepat!” desakku penasaran.

“Tu, matamu membengkak. Mungkin pengaruh itu!”

Selanjutnya baca Bagian Ketujuh

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: