Selagi ada Rindu (5)

Suatu waktu di saat semua menjadi gelap gulita, persoalan kerinduan yang tiada taranya merundung dengan tiba-tiba. Ombak-ombak di laut menari-nari kecil seperti biasanya. Ikan-ikan di dalamnya kian merosot ke atas—ingin merasai angin darat. Tetapi dalam keadaan terdesak, semua makhluk hidup akan menyelamatkan diri yang di rundung kerinduan. Seperti diriku.

Biasanya, ketika bulan menyapa laut yang luas itu, beberapa ikan beterbangan di atasnya. Atau, ketika senja berlabu, pantulan cahaya rembulan berenang di atas laut, namun, semua itu terkalahkan oleh sebuah kerinduan yang telah bersarang dalam diri di malam itu—memaksaku untuk beranjak.

Meski dalam ketaatan pada pelajaran-pelajaran di sekolah, Aku tak bisa lepas dari bayangan seorang penuh cinta kasih; penuh perhatian yang lebih dari siapa pun. Itulah sosok sang Ibu. Seorang perempuan tangguh; seorang yang memberiku kasih sayang selama sembilan bulan dalam kandungan; dan selebihnya, di kampung, begitu harmonis. Tetapi kini sang ibu jauh di sana. Sementara ragaku sedang bertarung dengan panasnya kota—dan menanti titik hujan, pun melawan hiruk-pikuk.

Seperti hanya sepintas saja mengawang dalam pikiran yang seolah kelabu, bahwa di suatu senja, dengan mengharapkan hujan yang lagi dirindukan semua umat manusia di kota kaktus ini—aku bersama ibu di pantai yang indah; nan eksotis membuat melankolis–yang baru saja kutinggalkan.

Ini bukan satu peristiwa yang dibuat-buat, tentunya. Bukan pula dijadikan satu akhiran hidup yang merana. Tetapi, perempuan memiliki lesung pipit ini seperti tak berdaya jika diserang oleh kerinduan yang berlebihan. Rasa-rasanya ingin pulang kampung dan bercanda-ria bersama sang ibu yang kusayangi itu. Namun satu hal: aku masih percaya pada keajaiban di mana orang-orang sudah tak pedulikan hujan mengguyur, dan ibu menjemputku di pantai itu.

Kali ini, di mana sebuah kisah kembali berdenting, mengingat kembali memori-memori lama yang hampir punah: kehabisan uang, misalnya. Kisah semacam itu telah kualami bersama Ponika sejak berpisah dengan sang ibu. Tetapi, peduli apa dengan hal demikian, ketika masih ada Mangge Robuka dan sahabat-sahabat lain yang setia mendampingi? Tak perlu dikhawatirkan, bahwa semua itu akan mengakhiri hidup yang kian runyam. Menggunakan akal sehat dan mengandalkan otak kiris menjadi santapan ringan bersama Ponika jika terjadi saat-saat genting semacam itu—meskipun masih anak-anak.

Pernah suatu hari, Ponika yang berkulit putih dan imut-imut—tapi tomboi itu berkata, bahwa jika dalam keadaan terdesak, kehabisan uang, maka keahlian kita membuat kue ilmu dari kampung bisa dipergunakan di kota kaktus ini. Tetapi kemudian, modalnya dari mana? Ia melanjutkan, bahwa bisa pinjam dengan Mangge Robuka. Modal awal itulah yang kemudian diputar balik hingga berlimpah-limpah.

Ya, itu adalah salah satu inspirasi dari Ponika. Hal lain, ketika aku dirundung kerinduan yang mendalam, Ponika menjadi satu pembatas meredam kerinduan itu. Sebab jika tak ada manusia tomboi itu, maka bisa-bisa aku akan pulang kampung hendak melepas segala kerinduan ini. Dan yang pasti, akan absen sekolah.

Tak lupa aku bersyukur memiliki seorang sahabat sejati sepertinya, yang telah lama menantikan sebuah kepastian atas kebasahan bumi.

***

Untuk membongkar satu kepastian, sepulang sekolah, Aku mengajak Ponika ke badan pengawasan hujan di kota itu, menanyakan: kapan turunnya hujan? Mendengar pertanyaan itu, seorang tua berkumis tipis dan halus-halus tercengang. Untuk apa anak perempuan muda sekali bertanya soal kepastian turunnya hujan? Katanya dalam hati.

Lelaki berkumis tipis dan halus itu lama terdiam. Seolah tak mampu memberi seuntai yang pasti. Aku dan Ponika semacam tak sabar mendengar jawaban. Kami berharap, tumbuhan yang di tanam itu akan tumbuh sehat. Tetapi tiba-tiba, alat pendeteksi cuaca itu mati secara, dan berbunyi seperti pekikan nyamuk. Lelaki berkumis tipis dan halus itu kagetnya bukan main. Dalam hatinya berkata, mungkin ini pengaruh pertanyaan yang mengada-ada dari dua orang perempuan yang tak tahu adat di sini!

Secara tiba-tiba juga alat itu kembali menyala dengan kedap-kedip yang tak seperti biasanya. Lambat dan menunjukkan sesuatu yang mencurigakan di mata lelaki tua berkumis tipis dan halus itu. Sementara aku tersenyum yang juga tidak seperti biasanya. Kali ini, sedikit khawatir, bahwa rusaknya alat pendeteksi cuaca itu, tanda hujan tak akan turun sepanjang tahun. Jika memang seperti itu, maka tak ada harapan pula menumbuhkan tanaman-tanaman yang menjadikan hati dan mata terasa segara dan menawan. Bukan berarti pula, sumur-sumur di kota ini akan di serang kekeringan. Orang-orang tak bisa mandi, mencuci, minum, air bersih telah hilang di kota.

Ah, kubuang jauh-jauh pikiran itu. Tak sanggup melanjutkannya. Dengan begitu, kesunyian merayap di ruangan yang sejuk berpendingin itu. Teringat kembali di kampung halaman yang tanpa bantuan alat-alat canggih seperti yang kulihat ini, dingin menderu-deru di kulit, masuk ke pori-pori dan menusuk-nusuk tulang belulang. Dinginnya luar biasa. tidak dibuat-buat—hanya Tuhan yang mampu menciptakan itu semua.

Tetapi, ya, tetapi pikiranku kembali menyasar, bahwa di mana semua akan menjadi kenangan tatkala kampung akan menjadi sebuah kota yang dikuasai oleh alat-alat canggih; diterjang kemarau yang berkepanjangan, dan tak ada hujan setitik pun; pun di kala pagi, embun begitu sulit dijumpai. Pikiran ini seolah-olah menjadi sebuah kenyataan yang pahit. Yang sewaktu-waktu akan menerjang-terjang seluruh belahan bumi. Salju-salju di kutub utara yang terbongkar, runtuh dengan segala keangkuhannya itu, karena sengatan matahari yang kian panas dan angkuh pula. Siapa yang bisa mengalahkan matahari, kecuali Pencipta-Nya?

Dalam hati berkata, selagi masih ada rindu tercipta, untuk apa membohongi Doa meminta hujan. Tidak berlebihan kan? Asal jangan menyembah pepohonan yang besar di belakang rumah Pak RT. Juga tidak menyapu-halus kepala patung yang sedang menengok ke langit sana. Seperti sedang melihat awan yang menggantung bebas dan menari-nari di bawahnya.

Aku hanya mengilhami ilmu-ilmu alam yang telah kudapatkan. Bahwa matahari akan menciptakan titik-titik hujan yang banyak. Itu akan terjadi. Tapi, ya entah kapan itu semua terlaksana. Sementara, ia membutuhkan air yang alami turun dari awan yang menggumpal yang telah lama tidak kulihat di siang hari. Makanya matahari dengan bebas menyengat setiap tubuh yang berjalan bebas tanpa pelindung di kota ini.

Kota yang kuhuni saat ini memang cukup menarik baginya. Aku tak pernah melihat sesuatu yang nyata di kampung seperti yang disaksikan di kota. Aku menyebutnya kota kaktus. Dahulu, sejak menginjakkan kaki di kota ini, begitu banyak yang berdenging di telinga, bahwa hanya tumbuhan kaktus yang bisa menari-nari di atas tanahnya.

Kau harus tahu, bahwa di tengah kota ini, dialiri sungai yang deras. Berpuluh-puluh kilometer panjangnya—hingga bermuara ke laut. Tetapi saat diterjang musim kemarau yang panjang ini, aliran sungai menjadi layu seperti malas merayap menyasar yang rendah. Di pinggir pantainya, jembatan kuning melengkung menyerupai udang yang merayap di dalam minyak mendidih.

Begitu Aku dan Ponika tak juga mendapatkan jawaban yang pasti, kami beranjak dan berjanji tak ingin ke tempat itu lagi, untuk sekadar menanyakan kepastian turunnya hujan. Dan, pastinya, lelaki tua berkumis tipis dan halus itu, terheran: mana mungkin ia bisa pastikan dan bisa menurunkan hujan? Dasar anak-anak yang masih labil.

Setelah berhasil mencapai pintu keluar, tiba-tiba kami mendengar ada yang berbunyi keras mengagetkan. Tanpa basa-basi yang basa-basi, lantas membalikkan tubuh menuju di mana suara itu berasal. Orang tua berkumis tipis dan halus tadi sudah tak berada di depan alat canggih pendeteksi cuaca tadi di sana.

Dengan rasa penasaran yang begitu tinggi, kami terus mencari, ke mana bapak tua berkumis tipis dan halus tadi. Berjalan mengendap-endap, tak ada suara sedikit pun. Seperti pencuri yang hendak mencuri di rumah orang kaya. Mata terhenyak ketika mendapati orang tua berkumis tipis dan halus tadi terbaring lemah di lantai di balik pintu toilet yang berlantai putih itu.

Bukan main kagetnya. Seperti tak bisa melakukan sesuatu. Ingin berteriak, mulut seolah-olah terkunci. Ingin mengangkat, tetapi pasti tak kuasa mengangkat lelaki tua itu. Ah, dalam kebingungan itu, aku lantas keluar meminta pertolongan.

Setelah tiba di ruangan sebelah yang bersebelahan dengan ruangan lelaki tua itu, aku memanggil seorang perempuan muda berjilbab sedang asyik di depan komputernya. Tak dipedulikan kasar atau tidak, dalam keadaan panik seperti itu, aku terus berteriak sekuat tenaga, hingga orang dari jarak jauh pun pasti mendengarnya. Perempuan muda berjilbab itu terperanjat setelah mendengar suaraku yang tak dikenalnya memanggil. Wajahnya yang bulat dan kening setebal jenggot kambing mengerucut seperti siku orang kurus. Lalu ia berdiri dan bergegas ke arahku.

“Ada apa, Dik?!” tanyanya setelah sampai beberapa meter di depanku.

“Itu … itu … iii ….”

“Apa? bicaralah yang baik. Jangan membuat semakin risau!” tanyanya dan kemudian berseru.

“Itu, bapak itu ….” Aku masih menganga, dengan bibir memancung ke depan dan lidah terkancing di huruf U.

“Kenapa? Ada apa?” Tampaknya Perempuan muda berjilbab itu mulai kesal—tak ada jawaban pasti yang didapatkannya.

“Terbaring di sana!” dengan cepat Perempuan muda berjilbab itu berlari, di mana arah telunjukku menuju. Diketahuinya, arah telunjuk itu menuju ke ruangan Pak Samuel, operator dan monitor alat pendeteksi cuaca.

Ponika masih menggoyang-goyang tubuh lelaki tua berkumis tipis dan halus itu sekuat tenaganya. Dengan segala ketakutan yang akut, aku pun membantu.

“Kenapa bisa terjadi seperti ini?” tanya perempuan muda berjilbab itu.

“Kami pun tak tahu. Tadi, kami menanyakan, kira-kira kapan turunnya hujan? Ia diam, tak ada jawaban. Setelah sekian lama tak juga ada jawaban, kami bergegas keluar. Sampai di pintu, terdengar bunyi keras. Lantas, kami melihatnya. Dan, bapak ini sudah tergeletak.”

Ia di boyong ke puskesmas terdekat. Dengan bantuan pegawai lainnya, akhirnya, sampai juga di gedung berwarna putih itu.

Perempuan muda berjilbab itu tahu, bahwa Pak Samuel sudah tak ada lagi. ketika telinganya disandarkan di dada Pak Samuel, sedetik pun tak pernah berdetak jantungnya.

Sehari sebelum kejadian itu, perempuan muda berjilbab berbicara di ruangan Pak Samuel—panjang lebar—segala hal, bahkan sampai pada keluarga Pak Samuel. Perempuan muda berjilbab itu sebenarnya tak ingin mendengar. Tapi apa daya, ia juga tak kuasa meninggalkan Pak Samuel terus berucap hingga berbusa.

Kata terakhir yang paling diingat perempuan muda berjilbab itu dari mulut Pak Samuel, ketika orang-orang terdekatmu hendak menyampaikan suatu hal yang tampak membuat kau bahagia, dengarkanlah! Jika kau ingin mendengarkan dengan seksama, maka hilangkan kerisauanmu, dan ikhlaskan telingamu untuk mendengar! Selagi ada rindu, temuilah orang-orang yang paling kau sayangi, sebelum kau bertemu dengan sang Penciptamu.

Selanjutnya baca Bagian Keenam

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: