Sepucuk Surat yang Buruk (14)

series menanti hujan di negeri kaktus

Sepucuk surat yang buruk — Pada pertemuan yang ke sekian kalinya ini, aku berubah seperti Malaikat tanpa sayap yang baik dan sama sekali seperti tak ada celah kekurangan apa pun. Setiap anak-anak lelaki, perempuan, atau keduanya, berkata, bahwa aku adalah perempuan yang sempurna di bumi ini—aku  hanya memberikan mereka senyuman sebagaimana senyum khas ibu. Aku mengikutinya, dan itu alami.

Untuk satu atau dua dosa yang kupunya, biarlah kusimpan, dan akan kutebus dalam waktu singkat di sebuah masjid yang tua itu. Tetapi jika aku berdosa lagi, maka akan kutebus lagi, berdosa, kutebus, dan begitu seterusnya sampai orang-orang itu berhenti mengatakan bahwa aku adalah manusia yang sempurna, dan itu ingin muntah.

Bibirku memang ranum seperti jambu air yang mekar di antara musim kemarau dan musim hujan. Hidungku mancung dan memang menggairahkan lawan jenisku. Mataku bulat dan sedikit berkobar jika memandang sesuatu apalagi yang aneh. Pipiku sedikit tembam dan aku memiliki lubang pipi, yang disebut orang-orang kota itu sebagai lesung pipi. Ah, aku tak tahu apa kata orang-orang kota itu selanjutnya—yang menurutku klaim yang tak berdasar hanya karena melihat sesuatu dari luar dan jarak jauh sekali. Tak pantas—tak bernilai.

Ya, untuk ke sekian kalinya, Purnama, lelaki yang mencoba menaklukkan hatiku mencoba mengirimkanku sepucuk surat yang tulisannya begitu tak indah. Huruf-hurufnya dari satu ke huruf yang lain bersambung dan seperti tulisan cakar ayam. Kalimat-kalimatnya seperti berbentuk perbukitan yang tinggi lalu merendah, lalu datar lagi. Melambai-lambai seperti ombak yang halus dan kemudian membesar. Ketika ia memulai dengan paragraf baru, huruf pertama diperindah, padahal menurutku itu sesuatu yang buruk. Bayangkan saja, huruf A, ya, dengan kapital tentunya, pada dua kaki sebagai bangunannya itu, ia buat melengkung dan berputar-putar hingga menyerupai huruf O, lalu ia tarik mata penanya hingga menggaris bawahi seluruh kata-kata pada barisan selanjutnya. Maksudnya baik—untuk memperindah, tetapi menurutku itu mencerminkan kepribadiannya yang carut-marut dan berbelit-belit.

Di titik itu, aku bisa menebak dengan penuh kekagumanku—ia tak bisa mengalahkanku di kelas, karena tulisannya buruk sekali. Dan kuanggap, surat ini hanyalah sebuah lelucon dari anak lelaki yang tampak dirasuki setan dari lapisan neraka entah nomor berapa. Menaklukkan perempuan yang cantik dan sering juara kelas sepertiku, tak semudah mengambil uang di dalam kantong yang besar—namun lebih dari itu, bahwa benteng mimpiku melapisi dengan sangat keras dan luar biasa. Jangan berharap aku membalas, dan kubaca berkali-kali surat pertamanya yang ia titipkan kepada Ponika—sebagai jembatan khusus untuk merebut hatiku, dan Ponika selalu berusaha mengubah pola pikirku yang katanya kaku tentang cinta.

Sekali lagi aku katakan pada Ponika, bahwa selama mimpi-mimpiku untuk menjadi seorang Ahli Laboratorium belum tercapai, jangan harap seorang lelaki mampu meluluhkan hatiku—apalagi hanya bermodalkan sepucuk surat yang huruf-hurufnya begitu buruk bagi bola mataku yang indah dan tajam ini. Ponika lalu berbalas, bahwa sudah waktunya membuka hati untuk seorang lelaki yang tampan dan juga sedikit cerdas menurutnya. Lelaki yang hari-harinya di saat di sekolah memperhatikanku—ku pikir itu hanyalah sebuah fatamorgana—sepertiku, yang memandangi senja tua di tepi pantai dalam waktu yang singkat—dan aku suka menatapnya. Begitu pun dengan Purnama—ia tampak melihatku secara fisik sebagai seorang perempuan yang bisa ia permainkan seperti bola yang sewaktu-waktu menggelinding jauh ke udara, dan terhempas jauh di belukar dan tak pernah kembali dengan sendirinya tanpa dicari. Susah. Rumit. Dan tak mudahlah Purnama dan juga laki-laki lain—membuat hatiku bergetar karena jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Setelah Purnama mengetahui, bahwa aku selalu berada di pantai dikala senja menua, ia pun bergegas dan mencari celah untuk mengintipku dari kejauhan di mana aku duduk lalu berdiri, dan sesekali mengambil buku dan pena, menuliskan sesuatu yang itu adalah harapannya bahwa aku akan membalas suratnya. Begitu girangnya lelaki bodoh yang jatuh cinta padaku itu—pikirannya terlalu subjektif dan selalu dikungkung oleh rasa cinta—padahal aku hanya menuliskan bait-bait puisi di senja tua ini. Bukan hendak membalas suratnya yang buruk dan tak beradab. Bisa-bisanya dalam suratnya itu memintaku untuk bertemu tepat jam sepuluh malam di sebuah taman yang pohon-pohonnya telah mengering dan penghuninya pasti sudah berkurang, karena telah larut malam! Anak sekecil itu, apa semuakah yang ia pikirkan? Kurang ajar sekali bukan?

Baiklah, aku akan berprasangka baik pada isi suratnya itu: bahwa ia menanyakan satu mata pelajaran yang ia tak tahu. Tetapi, sungguh, bukankah waktu-waktu di sekolah tak cukup untuk menanyakannya? Bukankah guru-guru yang setiap mengajar memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya apa yang tak dimengerti? Lantas, kenapa ia mengajakku untuk bertemu pada jam-jam kritis bagi anak sekolah seperti kami? Prasangka menjadi buruk: ia berniat jahat.

Loading...

Ponika sudah berjanji padaku, bahwa sebelum aku mempunyai seorang kekasih yang Allah janjikan padaku, maka perempuan tomboi keturunan Kaili-Toraja itu tak juga bernafsu mendahuluiku mempunyai kekasih yang ia idam-idamkan dalam hati. Perjanjian itu, meski sebuah perjanjian di bawah tangan yang ia deklarasikan sewaktu di kampung di bawah rinai hujan yang deras—dan ia sambil menari-nari, tetapi menurutku, ia tak ingkar begitu saja. Sebab, kapankah Ponika ingkar janji padaku?

Aku juga tak mengerti kenapa tiba-tiba pada kebahagiaan di masa kanak-kanak itu, ia berucap yang sama sekali tak kumengerti secara persis. Yang aku mengerti hanyalah petir yang menyambar pepohonan enau hingga layu dan seterusnya mati. Guntur yang meledak-ledak berkali-kali membuatku kegirangan, karena mengkilap-kilap seolah-olah memotret. Dan ia berpendapat, bahwa Tuhan telah memotret kami, dan hasil gambar-Nya dipajang di Surga nanti. Dasar kanak-kanak!

Macam-macam yang dipikirkan pada masa kanak-kanak itu. Dan, malu terhadap lawan jenis sama sekali tak ada. Bayangkan saja, kami menari-nari di bawah titik-titik hujan itu tanpa pakaian sehelai pun. Dan, ibuku tak pernah melarangku sebab ia tak ingin membatasi masa kebahagiaanku di masa itu. Sang ibu hanya melihat kami dari teras rumah yang tak begitu besar dan sesekali mempertemukan telapak tangan kanan-kiri dengan kencang. Ia bertepuk-tepuk tangan kegirangan melihat Aku dan Ponika, juga beberapa orang lelaki sebayaku bermain-main di pusaran air hujan yang tergenang di halaman rumah—yang semuanya tak memakai pakaian. Luar biasa, di masa-masa itu, dan kali ini aku mengingatnya dan wajahku merona. Malu.

Setelah itu, ibuku berpesan, setahun lagi, aku tak diizinkan untuk tidak berpakaian jika bermain-main di bawah derasnya hujan—bersama lawan jenis jika tak memakai pakaian sehelai pun. Sebab, usiaku telah merangkak naik dan aku siap untuk sekolah di sekolah dasar yang tak jauh dari rumahku. Sebuah pesan yang kemudian, memudarkan rona wajahku di senja menua ini.

Melalui ekor mataku, Purnama mengendap-endap semakin dekat dariku. Pergeseran senja semakin berlalu, dan itu artinya aku akan siap-siap pulang untuk menghadap pada-Nya. Dengan tingkahku yang tiba-tiba berbalik badan, Purnama kaget dan terjatuh di antara kayu-kayu yang terhanyut dan terbawa derasnya air tawar dan menembus ke muara, lalu disapu bersih oleh ombak hingga ke tepi pantai ini. Ia malu luar biasa dan aku tak pernah pedulikan itu. Aku pergi. Berlalu dengan sejuta bait puisi yang datang karena ilham dari senja.

Esoknya, surat kembali menyasar. Dalam surat itu, intinya bertanya: apakah suratku akan di balas? Betul dugaanku, bahwa Purnama mengira, aku hendak membalas suratnya. Kalaupun membalas suratnya, paling tidak untuk menegaskan, bahwa Purnama harus berhenti mengirim surat.

Esoknya lagi, kami berpapasan di sekolah, dan ia melempar senyum padaku. Dengan bangganya ia menarik napas panjang, hingga hampir lupa menghempaskan melalui hidung. Kepalaku tegak. Pandangan lurus ke depan, dan membiarkannya seperti makhluk kerasukan.

Ya, sepucuk surat yang buruk, tak pantas untuk dibalas. Titik.  

Loading...

Tinggalkan Balasan