Cerita Pernikahan: LDR Dulu, Serumah Kemudian

catatan-pernikahan-ldr-dulu-serumah-kemudian
Menuju ke rumah keluarga Istri, diiringi rebana.

Cerita pernikahan ini bermula pada pemilihan umum 2019 silam. Saya memosting sebuah video di akun Facebook saya tentang Kodok dan Kelelawar. Dua spesies tersebut berjoget bersama menandakan bahwa, antara ‘cebong’ dan ‘kampret’—yang populer pada pemilu 2014 dan 2019—damai dan gembira.

Satu akun Facebook menyambar. Berkomentar meminta video tersebut. Akun itu milik Istri saya yang sekarang ini.

Komunikasi kami berlanjut via WhatsApp. Setelahnya saling ejek. Bercanda. Tertawa. Kemudian saling jatuh cinta.

Sebenarnya pertemuan pertama kami berlangsung di Jogja. Awal 2019. Kami berpacaran. LDR. Istri saya di Sulawesi. Saya di Jakarta.  

Komunikasi kami intens. Nyaris tanpa jeda. Kecuali saat tidur. Dalam perjalanan. Atau sedang sibuk bekerja.

Pada Oktober 2019, kami membuat komitmen untuk menikah. Sedikitnya saya sudah tulis di sini.

Bikin Rekening Penampungan Dana Nikah

Komitmen itu dibangun. Diusahakan. Direalisasikan. Sesegera mungkin.

Tapi apalah daya, dana untuk menikah tidak cukup. Saya memang agak boros. Di samping itu, duit saya di rekening kadang hanya menumpang lewat, dana cash tercecer di toko-toko berubah jadi barang.

Dan akhirnya, kami buat rekening: penampungan dana nikah, karena memang, sangat dibutuhkan. Jika setiap kali saya dapat duit, saya kirim ke rekening itu. Berapa pun jumlahnya. Kapan pun waktunya.

Saya menargetkan nominal dana di rekening penampungan itu. Tapi tak perlulah saya sebutkan. Saya targetkan setahun sudah terkumpul. Akhirnya, kami pun menargetkan pada akhir tahun 2020 menikah.

“Target sudah tercapai. Kapan mau melamar?” Istri saya menyatakan demikian setelah memeriksa mobile bangking rekening penampungan dana itu.

Niat baik itu terjawab. Tuhan berkehendak lain. Tidak sampai setahun, target dana terkumpul. Rezeki datang. Dari mana saja. Dari siapa saja. Halal.

Pandemi Covid-19

Kami kembali berdiskusi. Menentukan waktu. Memeriksa aturan penanganan Covid-19.

Sejak awal tahun 2020 Pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Berganti bulan angka manusia terjangkit Covid-19 semakin bertambah. Aturan kemudian muncul. Pemerintah membatasi perjalanan manusia. Juga acara-acara.

“Cek aturan Pemda di sana!” saya memerintahkan Istri saya.

“Boleh melakukan acara resepsi, tapi dengan protokol kesehatan, dan jumlah orang yang dibatasi.”

Istri saya menjawab. Saya tenang.

Lamaran
catatan-pernikahan-ldr-dulu-serumah-kemudian
Berdoa bersama.

Keluarga Istri saya—atau sekarang Mertua saya, menyatakan bahwa, untuk lamaran, saya harus hadir. Ketentuan itu kemudian merembet ke mana-mana, maksudnya ada pemikiran-pemikiran lain berkembang. Apabila saya hadir, maka waktu lamarannya akan lama.

Saya dan Istri sudah menyepakati bahwa hari pernikahan di awal Agustus 2020. Diskusi via telepon tentang waktu lamaran  terjadi pada Juni 2020.

Saya berpendapat, “apabila saya harus hadir, maka bisa jadi acara lamaran dilakukan pada pertengahan bulan Juli.”

Kemudian saya memberikan pertimbangan, “saya dari Jakarta terbang ke Sulawesi pada awal Juli dengan catatan transit semalam. Ketika tiba di sana, saya tidak boleh keluar dan bertemu siapa-siapa. Harus karantina selama 14 hari kalender. Artinya, ada 15 hari waktu jeda menunggu saya saat lamaran”.

Situasi berubah. “Iya juga. Jeda antara waktu lamaran dengan hari H akad nikah, kurang dari 2 minggu. Itu waktu yang sedikit sekali.

Keputusan saya harus hadir saat lamaran itu, kemudian berubah. Cukup perwakilan keluarga saya saja.

Saya menghubungi keluarga saya: segera melamar dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Mereka berangkat dari desa ke kota. Memakai batik terbaiknya.  

Pengurusan Administrasi Nikah

Saya mesti memastikan administrasi apa saja yang diurus sebelum terbang. Ternyata banyak. Tapi agak mudah.

Surat Pindah Nikah. Itulah surat mutlak yang harus saya bawa ke Sulawesi tempat saya melangsungkan pernikahan. Surat tersebut dikeluarkan oleh KUA sesuai alamat KTP saya.

Sebelum ke KUA, saya harus ke RT RW dulu. Selanjutnya ke kelurahan. Semua mudah dilakukan apabila kita tahu bagaimana prosesnya. Di samping itu, dilakukan dengan riang gembira.

Di KUA alamat KTP, saya diceramahi. Diberikan petuah-petuah dari seorang yang masih muda. Memberikan pertanyaan. Saya jawab. Dilakukannya sambil mengetik. Beberapa menit, surat pindah nikah sudah jadi.

Saya mengambilnya. Mengisinya di sebuah map plastik merah. “Terima kasih. Assalamualaikum.” Ceramah tak terdengar lagi.

Karantina

Saya ‘terbang’ dari Bandara Soekarno-hatta. Subuh. Pesawat itu menerbangkan saya hingga tiba di Palu. Di Palu, saya transit semalam—sebelum akhirnya pesawat lain menerbangkan saya ke tempat tujuan.

Sebelum saya ‘terbang’, saya meminta Istri untuk mencari tempat karantina. Dapat. Fasilitas lumayan lengkap.

Saya tiba di tempat karantina pada malam hari. Pukul satu. Besoknya, saya melakukan rapid test di salah satu fasilitas kesehatan di kota itu. Mandiri. Bayar sendiri.

Puluhan orang antre untuk melakukan rapid test. Semuanya untuk keperluan administrasi masuk kerja atau perjalanan. Kecuali saya.

Seorang bertanya, “mau ke mana?” ketika saya menjawab tidak ke mana-mana, beberapa orang senyum. Nyaris tertawa. Mungkin heran. Tidak ke mana-mana kok melakukan rapid test.

Saya menjelaskan bahwa saya baru saja tiba dari kota yang masuk kategori zona merah. Mendengar itu, langsung dijadikan Orang Dalam Pemantauan (ODP). Sebuah istilah yang saat itu populer.

Nama lengkap saya dicatat. Tanpa Bin. Nomor kontak dan alamat tempat tinggal tak luput. Dalam satu buku album besar. Namun selama beberapa hari hingga usai masa karantina, tidak ada satu pun yang mengontak dan mengunjungi tempat karantina saya.

Mendaftar Nikah

Memasuki hari ke sepuluh masa karantina, saya kembali rapid test. Nonreaktif. Saya bebas bertemu siapa saja. Dengan tetap menggunakan masker.

Saya dan Istri saat itu mulai bergerilya. Mengurus semua administrasi nikah. Hal pertama dilakukan adalah mendaftar nikah. Melalui aplikasi simkah.kemenag.go.id.  Melalui aplikasi tersebut, saya mengisi tempat di mana akan dilaksanakannya akad nikah. Pun tanggal akad nikah. Selanjutnya, setelah mengisi semua formulir, ada dokumen yang di-download, kemudian dicetak. Dokumen tersebut dibawa ke KUA tempat nikah.

Kami mengurus administrasi nikah berdua. Tidak ingin merepotkan orang lain. Untuk mendaftar nikah di KUA juga cukup mudah. Asalkan semua administrasi terpenuhi. Surat Pindah Nikah salah satunya. Sebelum ke KUA, kami sudah mencari tahu apa saja persyaratan administrasi. Semua kami siapkan.

Ketika tiba di KUA dan menyerahkan administrasi tersebut, staf KUA menyatakan, “semua sudah beres. Nanti tinggal bayar melalui rekening bank. Sebab akad nikah kalian, di luar Kantor KUA!”

Oke. Lets go!

Sah Secara Hukum Agama dan Negara
catatan-pernikahan-ldr-dulu-serumah-kemudian
Berpose di acara resepsi pernikahan kami.

Semua administrasi nikah sudah terpenuhi. Penentuan jadwal akad nikah oke. Namun kami harus membuka kembali catatan-catatan dalam buku. Mengecek kegiatan apa saja yang harus dikerjakan.

Berdasarkan catatan di buku itu, ada beberapa kegiatan yang belum dicoret. Artinya belum beres. Undangan. Seserahan. Pakaian pengantin. Semua harus diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Berdua.

Koordinasi terus dilakukan. Siang malam. Ngebut.

Mengecek rekening. Dompet. Kempis.

Empat Agustus 2020. Rombongan keluarga saya berangkat ke rumah keluarga Istri. Pagi hari. Lewat sedikit pukul 9.

Jadwal akad nikah pukul 9. Agak lambat, karena berkisar 100 meter dari rumah keluarga Istri, kami turun dari mobil. Berjalan kaki. Diiringi rebana. Suara rebana itu berkumandang mengisi sunyinya kota. Dari kejauhan, keluarga Istri siap-siap menyambut keluarga saya.

Saya melalui dua proses. Pertama, penyambutan di depan pintu gerbang rumah. Beras bertebaran. Kemudian tangan saya ditarik dan dipandu sampai ke pintu rumah. Kedua, penyambutan di depan pintu masuk. Setelahnya dipersilakan masuk ke rumah. Juga keluarga. Duduk bersila. Tidak mungkin selonjoran. Di ruangan, orang-orang membentuk huruf U. Sebagiannya di luar. Menjaga jarak. Memakai masker.

Kini, Sound system berbunyi. Pembawa acara mendehem. Satu … dua … tiga … tes … tes…

Acara penyambutan sedikit menyita waktu. Penghulu menunggu. Beruntung tidak merajuk.

Gladi resik. “Kita tes dulu.” Penghulu memandu saya.

Sedikit deg-degan. Jarum jam pendek hampir menyentuh angka 10. Saya membaca Surah Al-Fatihah.

Dengan lantang dan cepat saya mengucap: saya terima nikah dan kawinnya … dibayar tunai.

Orang-orang bergemuruh. Sah.   

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: