Lompat ke konten

Cerita Wisuda Online: Penantian yang Panjang Tapi Efektif

Last Updated: 17 Mar 2022, 08:41 pm

Bacaan 5 menit
cerita wisuda online
Cerita Wisuda Online, didampingi istri dan anak. Dokumentasi pribadi.

Satu kelas bahkan teman se-angkatan kompak untuk tidak mengikuti wisuda online pada 2020. Kami satu pemikiran bahwa wisuda offline adalah salah satu cara untuk membentuk kenangan yang paripurna. Kesepakatan itu terbangun karena ada Covid-19.

Lantas, meskipun tak ada yang dapat memprediksi kapan Virus Corona akan berakhir, akhirnya kami menunggu. Tanpa memikirkan lagi apakah dapat mengikuti wisuda untuk selanjutnya atau tidak. Kami hanya saling memberi kabar terbaru dari kampus melalui Grup WhatsApp.

2019: Yudisium

Angkatan kami terbentuk tahun 2017. Berjumlah 32 orang pada program kuliah S2 Magister Hukum di Universitas Mpu Tantular, Jakarta. Tiga puluh dua orang itu kemudian dibagi menjadi 2 kelas pada semester I dan II. Meskipun terbagi dua, rasa-rasanya angkatan ini sangat kompak.

Pada semester III, pecah menjadi beberapa kelas—mengikuti jurusan atau pilihan khusus. Seingat saya ada empat kelas. Pertama, perdata. Kedua, hukum bisnis. Ketiga, pidana. Keempat, hukum tata negara.

Semester IV, kami dipersatukan kembali karena hanya menempuh satu mata kuliah—yaitu tesis.

Dua tahun setelah dari 2017—karena begitu serius menjalani hari-hari perkuliahan, akhirnya mayoritas dari kami mampu menyelesaikan studi tepat dua tahun.

Oktober 2019, satu per satu menyelesaikan ‘pembantaian’ terhadap tesis masing-masing di hadapan para penguji. Sebulan setelahnya kami dipertemukan kembali pada acara yudisium.

Karena sudah berhak menyandang S2 Magister Hukum, akhirnya kami menggunakannya. Toh wisuda hanya seremonial saja.

2020: Wisuda Online, Grup WhatsApp Ribut.

Di tengah Pandemi Covid-19 sedang ganas-ganasnya, tiba-tiba ada pengumuman wisuda dari kampus. Akan tetapi, wisuda dilaksanakan secara daring. Grup WhatsApp ribut.

Ribut karena terjadi perdebatan di sana. Ada yang mengatakan bahwa untuk apa ikut wisuda kalau hanya dilakukan secara daring? “Tidak greget.” Katanya.

Beberapa lain berpendapat bahwa, “masing-masing dari kita sudah pernah merasakan wisuda offline pada S1. Jadi, sebaiknya kita harus merasakan wisuda online ini.”

“Kita tidak tahu kapan Corona berakhir, sebaiknya kita ikut saja!”

“Masa selama dua tahun menempuh pendidikan ini, kita hanya wisuda online. Gak mau ah …”

“Iya, kapan lagi foto bersama pakai toga.”

“Benar itu.”

“Wisuda online saja!”

Begitulah kira-kira perdebatan di grup. Pendapat terpecah. Namun akhirnya, kami menyepakati untuk mengikuti wisuda secara offline, meskipun waktunya belum diketahui.

Beberapa bulan kemudian Grup WhatsApp kembali “gaduh”. Beberapa anggota grup penasaran—kapan wisuda dilaksanakan. Sang ketua kelas—sekaligus ketua kelas sewaktu kuliah terus melakukan koordinasi dengan pihak kampus. Hasilnya akan diberitahukan kepada anggota grup.

“Belum ada tanda-tanda.” Kata ketua grup.

2021: Wisuda Online dan Offline

Kabar yang ditunggu-tunggu anggota grup sedari dua tahun lalu datang. Sebuah poster dikirim sang ketua ke grup. Isinya kurang lebih: wisuda sarjana dan pascasarjana dilaksanakan pada tanggal 10 dan 11 Desember 2021.

Karena masih dalam kondisi Covid-19 mengintai, pihak kampus melaksanakan wisuda dalam dua bentuk: online dan offline. Wisuda online satu sesi—pada Jumat, 10 Desember 2021. Sementara offline dilakukan dua sesi—Sabtu 11 Desember 2021. Itu pun, panitia menyiasatinya dengan cara pembagian masing-masing program studi (prodi) baik sarjana maupun pascasarjana.

Setelah membaca pengumuman dari kampus tersebut—terutama syarat wisuda offline, saya tampak tak bergairah. Mengapa demikian? Karena panitia menentukan syarat: pertama, didampingi hanya satu orang saja. Kedua, wisudawan dan pendamping menunjukkan sertifikat vaksinasi 2 kali dan bukti Swab Antigen H-1.

Masalahnya di mana? Masalah pertama, orang tua saya di kampung dan agak berat untuk saya boyong ke Jakarta—untuk mendampingi saya wisuda. Alternatifnya, Istri saya yang mendampingi. Tapi saya punya anak yang masih kecil. Apabila didampingi Istri, mau tidak mau dia harus dibawa juga.

Masalah kedua, meskipun anak saya bisa dibawa ke dalam gedung lantai 8 kampus, tapi Istri saya baru sekali vaksin . Sementara syarat yang ditetapkan panitia harus dua kali vaksin.

Dari Alasan-alasan itulah saya memutuskan untuk mengikuti wisuda secara daring. Beberapa rekan juga tidak mengikuti wisuda offline, entah apa alasannya.

Keputusan untuk wisuda online membuat saya merasakan “kesia-siaan”. Sengaja menunda wisuda daring tahun 2020 agar dapat mengikuti wisuda secara langsung. Namun akhirnya kembali lagi ke daring. Ini yang saya sebut sebagai penantian yang “sia-sia”.

Rencana Menghadirkan Orang Tua

Pada wisuda sarjana 2014 silam, orang tua saya datang dari kampung ke kota untuk menghadiri wisuda saya. Wisuda pascasarjana ini pun saya berniat mendatangkan orang tua ke Jakarta. Namun, karena pandemi dan wisuda secara daring, akhirnya tidak jadi.

Pertama kali Menggunakan Zoom Meeting

Mengutip Wikipedia , Zoom atau Zoom Cloud Meetings adalah sebuah program perangkat lunak telekonferensi video yang dikembangkan oleh Zoom Video Communications. Pemakaian gratis mengizinkan 100 peserta untuk mengadakan rapat, dengan batasan waktu 40 menit.

Pengguna memiliki opsi untuk pembaharuan dengan cara berlangganan pada pemakaian berbayar. Paket tertinggi mendukung hingga 1.000 peserta serentak untuk mengadakan rapat yang berlangsung hingga 30 jam.

Aplikasi Zoom ini cukup populer terutama saat Pandemi Covid-19 menyerang berbagai negara. Maka tak heran, khusus di Indonesia, bukan hanya swasta saja yang memanfaatkan Zoom Meeting ini, tapi juga pemerintah.

Sejak lama saya mendengar dan membaca tentang Zoom Meeting ini. Meskipun demikian, saya belum pernah menggunakannya. Untuk komunikasi, biasanya pakai WhatsApp saja, karena memang pesertanya sedikit.

Karena saya memutuskan wisuda online, maka mau tidak mau, sebelum wisuda dilakukan, saya harus belajar menggunakan Zoom.

Saya mencari beberapa referensi di internet, termasuk download perangkatnya ke laptop. Sehari sebelum prosesi sakral itu dilakukan, saya mencobanya dengan istri. Akhirnya bisa. Sukses.  

Dalam Zoom itu, saya melihat pendamping peserta wisuda lainnya sebagai berikut:

Didampingi Orang Tua

Layaknya wisuda offline, wisuda daring ini juga ada begitu banyak didampingi orang tua mereka. Bapak dan ibu samping kiri kanan, peserta di tengah. Menghadap kamera. Saya melihatnya ikut terharu.

Sembari mendengarkan sambutan-sambutan baik dari rektor maupun kuliah umum, saya memerhatikan wajah-wajah orang tua peserta itu tampak bahagia bercampur bangga. Saya meyakini, perasaan orang tua itu sama dengan orang tua saya dulu.  

Didampingi Teman atau Pacar

Mungkin jauh dari keluarga. Beberapa peserta hanya didampingi teman. Saya bisa menduga-duga, itu di kamar kos. Mereka bertiga. Asyik mendengarkan berbagai prosesi wisuda. Sesekali mereka bercengkerama. Teman yang luar biasa.

Tanpa Pendamping

Beberapa peserta wisuda tanpa pendamping. Mereka menyendiri entah mungkin di kamar kos. Saya meyakini dia akan sedih karena tidak ada yang mendampinginya.

Penutup

Sebagai penutup cerita, setidaknya ada dua hal yang saya dapatkan dalam mengikuti wisuda online ini.

Pertama, saya termasuk dalam angkatan corona—sebagaimana yang populer saat ini. Di samping itu, saya merasakan bagaimana rasanya wisuda secara daring. Kedua, akhirnya saya tahu cara menggunakan Zoom Meeting.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

top
%d blogger menyukai ini: