Vaksin Sinovac, Enam Kali Gagal, Akhirnya Divaksin

vaksin_sinovac_enam_kali_gagal_akhirnya_divaksin
Sumber gambar kompas.com

Hampir semua negara di seluruh dunia diserang Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Virus Covid-19 ini, awalnya merebak di Wuhan, China, hingga akhirnya masuk ke Indonesia. Menanggapi hal tersebut, pada April 2020, Pemerintah Indonesia menetapkan kondisi kedaruratan pandemi Covid-19 melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non Alam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) sebagai Bencana Nasional. Beberapa waktu setelahnya, muncul vaksin pertama yaitu Vaksin Coronavac yang diproduksi Sinovac Biotech. Adanya vaksin tersebut, pemerintah berupaya agar Indonesia mendapat jatah vaksin untuk warganya. Sekarang, banyak pilihan vaksin seperti misalnya AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer, dan Novavax.

Mengenai vaksin Covid-19 ini, Saya ingin berbagi pengalaman bagaimana Saya divaksin.

***

Download Aplikasi Jakarta Kini (JAKI)

Sejak awal Juni 2021, Saya mendaftar vaksin melalui Aplikasi JAKI—platform milik Pemda DKI Jakarta untuk berbagai kebutuhan warga Jakarta. Bisa didapatkan melalui Play Store di handphone Anda.  

Memasukkan NIK dan Nama Lengkap

Aplikasi ini memudahkan penggunanya, khusus untuk mendaftar vaksin. Saya memulainya dengan memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nama lengkap sesuai KTP, kemudian klik “periksa”.

Selanjutnya, melalui Aplikasi tersebut, terdapat informasi bahwa Saya belum divaksin, karenanya harus mendaftar.

Menu Kategori

Pada menu “kategori” ada beberapa pilihan, misalnya kategori lansia, pegawai pemerintah, dan sebagainya. Saya memilih “masyarakat umum”.

Bagian bawah kategori tersebut, terdapat pertanyaan-pertanyaan, misalnya “apakah Anda sedang hamil?” dan sederet pertanyaan lain yang wajib Saya jawab. Tentu saja Saya menjawab “tidak”.

Pilih Lokasi Vaksinasi

Agar aman dan nyaman, disarankan untuk memilih lokasi terdekat dari tempat tinggal. Demikian pesan para ahli atau dokter yang pernah Saya baca. Pada menu ini, Saya memilih wilayah Jakarta Timur dan juga menentukan lokasi serta waktu vaksinasi yang tersedia.

Akan tetapi, agak jauh dari tempat tinggal, karena itulah lokasi yang paling dekat di antara lokasi lain.  

Mengisi Identitas Lengkap

Pada bagian ini, Saya diarahkan untuk mengisi identitas lengkap, seperti nama lengkap dan NIK, yang sejak awal pendaftaran sudah ada, jenis kelamin, tanggal lahir, nomor handphone. Selanjutnya diarahkan untuk mengisi alamat sesuai KTP dan domisili. Kemudian saya klik pernyataan bahwa “jawaban yang Saya masukkan tadi adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan”.

Cetak Kartu

Saya diarahkan untuk download dan cetak Kartu Kendali Pelayanan Vaksinasi Covid-19 serta Kartu Vaksinasi Covid-19. Kartu ini dibawa ke lokasi vaksin untuk ditunjukkan dan diserahkan kepada panitia vaksinasi.  

Enam Kali Gagal Vaksin Sinovac

Saya lupa persisnya kapan pertama kali mendaftar melalui Aplikasi JAKI tersebut. Saya hanya mengingat sekitar bulan Juni 2021.

Tibalah waktunya jadwal vaksin sebagaimana yang sudah Saya tentukan. Mempersiapkan diri dan berangkat. Tiba di lokasi, ternyata peserta vaksinasi membludak. Antrean panjang. Mengkhawatirkan. Tanpa pikir panjang, Saya balik kanan. Vaksinasi pertama gagal.

Sehari setelah gagal vaksin, Saya mendaftar kembali melalui Aplikasi JAKI. Prosesnya sama. Untuk yang kedua, lokasi vaksinasi sudah mulai mendekat dari tempat tinggal Saya—meskipun kelurahannya berbeda.

Seperti kondisi saat vaksin pertama, vaksin kedua, ketiga, dan keempat, rupanya manusia banyak sekali. Seperti semut mengerubuti gula. Lagi-lagi tak pikir panjang, Saya balik kiri.

Vaksinasi kelima. Ada dua hal yang Saya soroti untuk vaksinasi kelima ini. Pertama, jumlah manusia yang ikut program vaksinasi di lokasi yang sudah Saya pilih tersebut seperti kasus pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Namun, masih terdapat ruang untuk tidak berdesakan, karena lokasinya memang luas. Kedua, panitia meminta fotokopi KTP. Saya katakan, untuk apa Saya mengisi data lengkap di Aplikasi JAKI kalau akhirnya fotokopi KTP diminta juga. Saya mengatakan itu sambil balik tengah. Mundur.

Mengapa Saya tidak mau menyerahkan fotokopi KTP, karena rawan disalahgunakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana KTP saya tersebut tercecer dan digunakan untuk meminjam duit di Aplikasi Pinjaman Online? Sengsara saya.

Demikian juga untuk vaksinasi keenam. Peserta sedikit, dan lokasi vaksinasi luas, namun persyaratan untuk vaksinasi harus menyerahkan fotokopi KTP kepada panitia. Dengan alasan lapar, saya balik belakang.

Vaksinasi Ketujuh Berhasil

Setelah enam kali gagal vaksin dengan alasan-alasan di atas, akhirnya pada vaksinasi ketujuh, lengan kiri Saya ditusuk djarum suntik. Vaksinasi ketujuh ini berhasil karena kuota peserta dibatasi, sehingga tidak membludak. Lokasi vaksinasi juga luas dan banyak pepohonan, sehingga tidak mengakibatkan kerumunan. Sistim antrean rapi. Panitia juga tidak meminta fotokopi KTP seperti vaksinasi kelima dan keenam.

Efikasi dan Efek Samping Vaksin Sinovac

Vaksin yang disuntik ke tubuh Saya melalui lengan kiri adalah vaksin Sinovac. Menurut informasi, Sinovac adalah vaksin buatan Biofarmasi Cina, Sinovac BioTech. Nama lain Sinovac adalah CoronaVac. Vaksin Sinovac memiliki efikasi antara 50,65% hingga 91,25% untuk dosis 2 kali.

Beberapa jam setelah vaksin Sinovac pertama tersebut bersarang di tubuh Saya, tidak memiliki efek samping yang berarti. Namun sehari setelahnya, efek samping berupa kepala nyut-nyut, berasa demam, tapi Saya merasa itu bukan demam. Nyeri bagian persendian.

Karena ada nomor kontak dokter yang diberikan panitia pada selembar kertas keterangan telah divaksin, Saya menghubunginya. Saya menjelaskan apa yang dialami. Tapi berhubung hari libur, Senin baru dijawab. Sebelum dijawab, Saya sudah mengonsumsi obat paracetamol. Tidur. Bangun bangun, segar kembali. Setelahnya, tubuh Saya kembali normal. Alhamdulillah.

Jadwal vaksin kedua, yang sudah ditentukan PeduliLindungi, yaitu pada awal September 2021.

Bagi Anda yang belum divaksin atau tidak percaya vaksin, yuk vaksin! Tidak pake Microchip Magnetik dan bluetooth, kok.

Baca juga: Menerapkan Protokol Kesehatan di Rumah

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

2 komentar pada “Vaksin Sinovac, Enam Kali Gagal, Akhirnya Divaksin

  • 1 September 2021 pada 5:21 am
    Permalink

    Panjang juga perjuangannya untuk mendapatkan vaksin. Semoga ini jadi bentuk ikhtiar kita melawan pandemi ya. Amin.

    Balas
    • 1 September 2021 pada 9:22 am
      Permalink

      Aamiin.
      Memilih untuk tidak mengambil risiko. Menghindari kerumunan, Om.

      Balas

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: