Budidaya Ikan dan Kangkung dalam Ember

budidaya-ikan-dan-kangkung-dalam-ember
Selain melakukan kegiatan Budikdamber, saya juga menanam bayam, cabe, tomat, terong, dan lainnya. Dokumentasi pribadi.

Budidaya ikan dan kangkung dalam ember atau bahasa populernya Budikdamber—saat ini sudah populer. Saya mengetahui istilah Budikdamber ini sejak awal pemberlakuan pembatasan perjalanan dan kampanye #dirumahsaja, pada Maret 2020 silam.

Virus Covid-19 saat itu sedang naik-naiknya, yang kemudian memaksa’ banyak orang termasuk saya untuk #dirumahsaja. Ketika #dirumahsaja, saya bingung berkegiatan selain dari membersihkan rumah, scroll media sosial, dan bolak-balik badan di kasur.

Hingga pada akhirnya, saya menemukan informasi budidaya ikan dan kangkung dalam ember atau Budikdamber tersebut, yang ‘mampir’ di beranda Twitter saya, disertai gambar dan video yang menarik. Karena menarik itulah, saya mencoba mencari informasi lebih lanjut via internet. Saya mempelajari dan mengaplikasikannya di halaman rumah mungil tempat saya tinggal. Oh ya, Budikdamber ini juga sudah banyak komunitasnya di Indonesia.

Melalui tulisan ini, saya mencoba berbagi pengalaman saya melakukan budidaya ikan dan kangkung dalam ember di halaman rumah kecil

Ada Bak Kecil Tempat Penampungan Air Cuci Motor, Saya Sulap Jadi Kolam
budidaya-ikan-dan-kangkung-dalam-ember
Bak penampungan air untuk mencuci motor, saya sulap jadi kolam lele. Awalnya saya memanfaatkan kolam tersebut, kemudian membeli ember besar.

Ada beberapa media yang harus saya siapkan untuk memulai Budikdamber ini—yang akan saya jelaskan di bawah. Media pertama adalah tempat ikan alias kolam. Saya sudah memilikinya, meskipun kecil. Ukurannya kira-kira 1 meter x 30 centimeter. Ukuran pebisnis ikan tentu saja itu minimalis sekali.

Kolam kecil ini tidak dimanfaatkan. Saya mengeceknya apakah ada masalah kebocoran atau tidak. Ternyata tidak. Aman terkendali.

Sebelum kolam tersebut ada penghuninya, saya sudah mengisi air kemudian menaburkan garam Krosok segenggam tangan saya. Begitu teori yang saya dapatkan, agar bibit ikan lele nantinya tidak mudah mati.

Selanjutnya saya …

Beli Bibit Ikan Lele, Garam Krosok,  Beserta Pakan

Saya belum pernah memelihara ikan lele. Segala informasi terkait ikan lele saya cari via internet. Membaca dan menonton di Youtube. Pertama kali beli bibit lele sebanyak 50 ekor bibit. Pesan online. Satu jam kemudian sampai.

Saya menaburkan bibit ikan lele tersebut di kolam kecil tadi. Ada yang mencoba keluar. Mungkin stres. Saya tidak langsung memberi makanan kepada para kurcaci-kurcaci itu, karena mereka harus mengenali tempat barunya dulu. Diamkan beberapa saat, kemudian beri makan.

Pagi hari saya menabur bibit ikan lele itu di kolam, tidak ada yang mati. Saya tenang. Teori yang saya baca tampaknya berhasil.

Namun besoknya, ada 5 ekor bibit lele mengambang. Perutnya kembung. Saya menghubungi penjual bibit lele tersebut via chat marketplace-nya. Om itu menyatakan bahwa tingkat kematian bibit lele itu 1% ketika ditabur ke kolam baru. Tidak ada yang hidup sampai 100%.

Saya mencari informasi lebih lanjut via internet. Saya mendapatkan informasi ternyata bukan hanya Garam Krosok saja yang ditaburkan di kolam ikan. Namun juga probiotik. Probiotik ini dicampur ke pakan ikan tadi sebelum memberi mereka makan. Probiotik ini juga meningkatkan daya tahan lele, sehingga terhindar dari kematian. Saya kemudian membelinya.

Probiotik ini tampaknya manjur. Setiap hari dalam waktu seminggu, hanya 1 ekor bibit lele yang mati. Artinya, sudah ada 12 bibit lele mati. Di dalam kolam kecil itu, masih ada 38 bibit lele.

Menambah Kolam dengan Cara Beli Ember Besar
budidaya-ikan-dan-kangkung-dalam-ember
Perkembangan Budikdamber setelah beberapa hari. Di dalam kolam-kolam ini, ada beberapa bibit lele. Kangkungnya sudah berbuah. Dokumentasi pribadi.

Saya merasa, bibit lele yang tinggal 38 ekor itu masih kurang. Saya ingin menambah volume bibit, tapi kolamnya sangat kecil. Sempit-sempitan nanti mereka di kolam.

Bagi Anda yang ingin melakukan Budikdamber ini namun tidak memiliki kolam, ember besar ini adalah ‘jalan ninjaku’. Mayoritas para pembudidaya menggunakan ember besar.

Saya kemudian membeli ember besar—semua saya lakukan via online. Sebelum mengisi bibit lele lagi, saya mengisi air yang dicampur dengan garam Krosok dan probiotik. Begitu teori yang saya baca.

Jadi sekarang, kolam saya ada dua: kolam permanen dan kolam ember. Keduanya saya manfaatkan.   

Memanfaatkan Gabus Bekas dan Gelas Plastik
budidaya-ikan-dan-kangkung-dalam-ember
Saya juga memanfaatkan dinding-dinding, dengan menggunakan media tanam bekas air mineral botol. Saya menanam bayam di botol tersebut. Dokumentasi Pribadi.

Bagi Anda yang pernah membeli televisi atau kulkas, biasanya ada gabus putih untuk melindungi alat elektronik itu. Kebetulan di rumah masih ada. Begitu juga gelas plastik, yang ternyata masih ada dan tersusun rapi. Saya kemudian memanfaatkan keduanya.

Gabus tersebut saya potong yang menyesuaikan ukuran kolam. Ukurannya 1 meter x 15 centimeter—agar tidak menutupi kolam sepenuhnya.

Pada bagian tengah gabus tersebut, saya lubangi menggunakan cutter. Lubang tersebut menyesuaikan bagian bawah gelas plastik. Sebagaimana yang saya video ini, gabus mengambang di permukaan kolam.

Setelah mempersiapkan gabus bekas dan gelas plastik, saya kemudian mempersiapkan sebagaimana di bawah ini …

Menyediakan Bibit Kangkung dan Kawat

Budikdamber itu kan Budidaya Ikan dan kangkung dalam ember. Jadi, selain harus ada ikan, kangkung juga mesti ada.

Saya kembali memesan bibit kangkung via online. Bibir kangkung bisa apa saja, baik jenis kangkung darat maupun air. Kangkung darat pun bisa hidup di air.

Selain mempersiapkan bibit kangkung, saya juga membeli kawat kecil. Fungsi kawat ini untuk mengikat gelas plastik dengan bagian luar ember besar tadi. Kawat kecil ini memang saya gunakan hanya untuk di ember. Kalau di kolam permanen tadi menggunakan gabus bekas.

Selanjutnya Sediakan Arang Kayu dan Tisu

Media lain sebagai pelengkap kegiatan Budikdamber ini adalah arang kayu. Jadi, arang kayu digunakan sebagai media tanam bibit kangkung tadi. Saya menyarankan jangan menggunakan arang tempurung. Pernah mencobanya, bibit kangkung tidak berkembang sempurna, karena panas. Terbakar.

Selain arang kayu, wajib menyediakan tisu kering. Tisu ini berfungsi untuk media penabur bibit kangkung.

Jadi begini: gelas plastik tadi diisi arang kayu hingga mencapai setengah. Atau di atas dari setengah juga boleh. Kemudian di atas arang kayu di dalam gelas tersebut, diisi dengan tisu kering tadi. Pastikan ketika menabur bibit tidak jatuh.

Saya melakukannya begini: gelas plastik yang sudah dililit kawat kecil diisi dengan arang kayu kira-kira setengah gelas. Kemudian tisu kering tadi digelar di atas arang, lalu dibasahi. Bibir kangkung tadi saya tebar hanya 15 biji. Bisa juga lebih.

Yakinlah, hanya 2 hari bibit kangkung tadi, tunasnya sudah keluar. Pada hari-hari berikutnya akar-akarnya akan menembus tisu kering. Meliuk-liuk di antara arang kayu. Menembus hingga ke air kolam.

Mengontrol Perkembangan Budikdamber
budidaya-ikan-dan-kangkung-dalam-ember
Kangkung sudah berumur 21 hari kalau tidak salah. Saya panen, masak, lalu menikmatinya. Dokumentasi Pribadi.

Saya sudah menyediakan semua media untuk kebutuhan budikdamber. Saya memperkirakan, jumlah lele yang ada di kolam permanen dan ember tersebut sekitar 150-an.

Kini tinggal mengontrol. Otak jadi fresh. Tidak bikin stres selama di rumah. Kegiatan ini rupanya memiliki manfaat luar biasa sekali.

Ada cerita yang saya anggap menarik selama masa pengontrolan ini. Ternyata selama saya berada di dalam rumah, ada kucing-kucing kampung yang mengintai kolam permanen tadi. “Wah, ada ikan nih.” Kata kucing-kucing itu.

Ada dua ekor kucing yang biasa saling bergantian mengincar ikan lele. Kucing itu berdiri tepat di tepian atas kolam. Kakinya di arahkan ke kolam tatkala kepala lele menjuntai ke atas. Saya mengintipnya saat melihat tanaman dari jendela kamar dari balik jendela. Selama beberapa menit kucing itu di atas kolam, tak dapat seekor pun. Video dari jendela bisa Anda tonton

Jika malam, tikus got yang mengintai kangkung yang sudah tumbuh sempurna.

Kisah kucing dan tikus yang secara bergantian menyerang Budikdamber itu hanya selingan saja. Pada pokoknya adalah, saya dan tetangga menikmati hasil Budikdamber. Ketika lele sudah besar, saya membagikan kepada tetangga.

Hanya butuh waktu 15 hari saya menikmati kangkung-kangkung yang tumbuh subur di atas kolam.

Oh ya, Budikdamber yang saya lakukan ini untuk mengisi waktu dan untuk dikonsumsi pribadi saja. Ada beberapa masyarakat ternyata bisa meraup keuntungan besar dari Budikdamber ini.

Semoga bermanfaat.

Baca juga: Menjauhkan Anak dari Handphone Sejak Dini

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: