Menemani Istri Melahirkan: Penuh Kewaspadaan dan Cinta

menemani-istri-melahirkan-penuh-kewaspadaan-dan-cinta
Penuh kewaspadaan dan cinta. Dokumentasi pribadi.

Menemani Istri melahirkan ini saya tulis, berdasarkan pengalaman mulai dari mengetahui hamil hingga melahirkan. Tujuannya, untuk berbagi pengalaman.

Saya tidak ingat persis apa saja yang terjadi di malam itu. Namun satu hal yang pasti: jantung dag-dig-dug, ketika Istri sudah mulai berteriak kecil di kamar, tempat kami tinggal.

Istri berteriak kecil tersebut karena, sepertinya, pembukaan satu sudah berlangsung. Berdasarkan Ultrasonografi medis atau USG, Hari Perkiraan Lahir (HPL), tanggal 12 April 2021. Namun ternyata, melenceng sampai seminggu. Dan itu biasa terjadi.

Pukul satu tengah malam, yang beberapa jam lagi akan sahur—karena bertepatan dengan Bulan Ramadan, Istri merintih. Dia menyatakan bahwa sepertinya sakit itu hanya kontraksi palsu, seperti yang sebelumnya terjadi. Namun saya memaksa, “kita harus segera ke klinik persalinan”.

“Tunggu hingga satu jam!” Dia meminta menunggu.

Sembari menahan sakit yang datang setiap beberapa menit kemudian menghilang itu, Istri menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan di klinik persalinan. Itu pun tidak terlalu repot, karena beberapa hari sebelumnya dia sudah mempersiapkan.

Kadang-kadang saya panik tatkala Istri merintih menahan sakit. Saya juga sedikit emosi karena dia menolak secepatnya ke klinik persalinan. Dia masih berkilah, “belum saatnya ke klinik. Sabar!”

Merangsang Kontraksi Alami

Saya melihat ada beberapa kegiatan yang dilakukan Istri pada malam itu. Dia sesekali berdiri kemudian jalan kaki. Berkeliling lalu berhenti. Menarik napas pelan-pelan kemudian mengembuskannya. Saya menduga-duga, Istri saya sedang melatih menghilangkan stres.

Pada usia kehamilan memasuki 20 mingguan, Istri membeli sebuah bola yang besar. Saya sempat bertanya, “untuk apa beli bola itu?”

Rupanya bola besar itu dia gunakan untuk merangsang kontraksi alami. Memang ketika USG terakhir yang kami lakukan di klinik, posisi bayi dalam kandungan belum berposisi siap lahir. Sehingga keputusannya untuk membeli bola besar tersebut terjawab sudah.

Istri saya terus melakukan upaya-upaya tersebut agar merangsang kontraksi alami. Bukan lagi kontraksi palsu.

Dia juga berupaya membuat saya tenang. Bagaimana mau tenang jika dia merintih kesakitan setiap beberapa menit.

Namun demikian, berbekal dari pengalaman saya yang menemani sedari awal kehamilan hingga istri melahirkan, saya ingin berbagi. Pengalaman tersebut juga saya dapatkan dari berbagai referensi yang kemudian saya terapkan.

Mungkin saja tulisan sederhana ini dapat membantu Anda, terutama bagi calon ayah—apa saja yang dilakukan dari awal kehamilan hingga melahirkan.

Selalu Menemani Istri Melakukan Pemeriksaan Selama Masa Kehamilan

USG pertama kami lakukan di salah satu klinik di Bekasi. Kami memilih memeriksa di Bekasi karena agak dekat dari tempat tinggal. Sejak USG pertama tersebut, saya mendampingi Istri. USG kedua dan selanjutnya, kami lakukan di Klinik Arrasyifa.

Saya memahami bahwa, Istri yang sedang hamil saat itu akan mudah dirundung kecemasan dan stres. Sehingga saya memutuskan, ketika akan memeriksa, saya terus menemaninya. Namun Istri saya juga memahami, saya bisa melakukannya ketika waktu weekend—atau ketika tidak ada pekerjaan yang mendesak.

Beberapa kali Istri juga mengalami sakit perut selama kehamilannya. Saya harus waspada dan tetap melayaninya: memberikan obat atau bahkan mengantar ke klinik.

Masa-masa kehamilan memang, calon ayah penuh dengan kewaspadaan.

Jangan Terburu-buru Pergi ke Tempat Persalinan

Saya sudah menceritakannya di atas. Saat saya terus memaksa Istri agar kami segera ke klinik persalinan, Istri juga menyepakati. Hal itu dilakukan, karena saya merasa khawatir. Namun ternyata, ketika kami sampai di klinik persalinan pada Pukul 4 pagi dan diperiksa, untuk pembukaan satu pun belum. Coba bayangkan: jumlah pembukaan itu ada 10. Sementara jarak antara pembukaan 1 ke pembukaan 2 itu butuh waktu berjam-jam.

Apa yang terjadi? Seorang bidan yang memeriksa Istri saya tersebut memberikan dua opsi: pertama, balik ke rumah dan datang lagi ketika sudah mengalami pembukaan 8. Kedua, menunggu di klinik tetapi harus sabar menunggu—bisa sampai lebih dari 24 jam—kemudian kami disiapkan kamar.

Masalahnya adalah, apabila opsi pertama kami ambil, tempat tinggal agak jauh dari klinik persalinan itu. Kemudian, kami juga tidak tahu mengenai pembukaan. Dari mana kami mengetahui pembukaan 1, 2, dan seterusnya itu? Kalau kecolongan bagaimana? Repot jadinya.

Pada akhirnya kami memilih opsi kedua, menginap di klinik dan menunggu dengan sabar, sembari saya mendengar, mengurus, dan melakukan apa saja demi Istri saya. Harus siap menemani Istri melahirkan.

Paling menarik adalah, sekitar Pukul 10 pagi, ada seorang ibu baru masuk yang hendak melahirkan juga. Hanya sekitar 1 jam saja ibu itu di klinik, kemudian melahirkan. Cepat sekali.

Saat saya tanya ke bidan, “Ibu itu datang, ketika sudah pembukaan 8, jadi prosesnya cepat.”  

Poinnya adalah, pelajari mengenai pembukaan. Dengan memahaminya, kita tidak perlu buru-buru ke tempat persalinan.  

Buang Jauh-jauh Rasa Cemas

Saya juga sudah menceritakan di atas, bahwa sejak Istri merintih menahan sakit, muncul rasa khawatir. Apabila Anda cemas, maka Istri juga ikut cemas. Jika keduanya sudah cemas, maka kemungkinan terjadi ada keputusan-keputusan yang diambil justru merugikan.

Karena waktu itu saya merasa sudah sangat khawatir, maka berakibat pada ke klinik persalinan sebelum ada pembukaan. Pada akhirnya lama menunggu.

Saat di klinik persalinan, saya merasa kecemasan saya sudah menurun. Namun karena saya merasa proses kelahiran cukup lama, apalagi ditambah Istri berteriak-teriak keras, rasa cemas muncul lagi.

Emosi saya naik turun. Karena ya, itu tadi, saya kasihan dengan Istri yang semakin berteriak keras karena kesakitan.

Apa dampak dari cemas yang kemudian menjadi emosi tersebut? Dampaknya adalah, saya meminta kepada bidan untuk mengeluarkan surat rujukan ke rumah sakit. Saya memintanya sedikit emosi. Saya ingin Istri saya dilakukan persalinan operasi sesar.

Bidan tersebut menjelaskan bahwa untuk dirujuk ke rumah sakit agar dioperasi sesar, harus ada alasan mendasar. Salah satu alasan, karena tidak dapat menjalani persalinan normal menurut saran dokter.

Sementara hasil USG kami terakhir, dokter menyarankan untuk melahirkan secara normal. Tidak ada alasan mendasar untuk operasi sesar.

Namun saat itu, Istri saya sudah menahan rasa sakitnya kurang lebih 19 jam. Artinya, beberapa jam lagi Istri saya tidak juga melahirkan, maka satu-satunya jalan adalah operasi sesar.

Bidan itu mencoba menenangkan kami. Ada 2 bidan saat itu yang mencoba menjelaskan, bahwa kami merasa lama karena saat datang ke klinik belum ada satu pun pembukaan yang terjadi. “Tunggu beberapa saat lagi! Insyaallah Istri Bapak segera melahirkan.”

Dari penjelasan-penjelasan bidan tersebut, saya sedikit tenang.

Poinnya adalah, hindari kecemasan. Kalau pun ada, cobalah meminimalkan. Kecemasan yang berlebihan, mengakibatkan apa yang saya alami di atas.

Mendampingi Istri Melahirkan

Isya usai. Jamaah Tarawih di masjid pun telah pulang. Namun saya masih tetap menunggu di samping Istri yang baring di tempat persalinan.

Beberapa menit sebelumnya, dua orang perempuan masuk ke ruangan. Memeriksa Istri saya. Setelahnya kami diberitahu, “siap-siap!”

Kata itu bikin saya dag-dig-dug.

Mereka silih berganti masuk. Mempersiapkan peralatan. Memakai APD. Kini, telah ada 4 bidan di ruangan itu—mengurusi Istri saya. Salah satu di antaranya memerintahkan saya untuk menyiapkan perlengkapan bayi. Perlengkapan itu kami bawa dalam satu tas sedang. Saya mengambil dan menyerahkannya.

Perlengkapan berupa bedong, perlak, dan kawan-kawannya itu diatur di atas meja tersendiri oleh salah satu bidan. Seorang bidan lagi mengatur peralatan lain. Dua bidan lainnya memberikan instruksi kepada Istri saya: cara mengejan yang baik dan benar.

Sementara saya, masih dag-dig-dug.

Saya menggenggam tangan Istri saya. Terus menyemangatinya. Dia terus melaksanakan instruksi-instruksi bidan. Tapi tak sadar, saya juga ikut menarik napas dan mengejan.

Menarik napas kemudian mengejan itu berlangsung hingga beberapa menit. Istri saya berkeringat. Padahal ruangan sangat dingin.

Pada Pukul 19.30. Alllahu Akbar. Istri saya telah melahirkan. Bayi tersebut kami beri nama Arumi.

Tulisan menemani Istri melahirkan ini mungkin bagian dari tips. Semoga bermanfaat.

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

2 komentar pada “Menemani Istri Melahirkan: Penuh Kewaspadaan dan Cinta

  • 4 September 2021 pada 4:22 pm
    Permalink

    Alhamdulillah proses melahirkan istri berjalan lancar dan dedek Arumi sagat beruntung saat lahir disambut dengan penuh cinta dan persiapan kedua orangtuanya.

    Balas
    • 5 September 2021 pada 5:09 am
      Permalink

      Alhamdulillah, Bu. Hanya sekadar berbagi cerita. Ternyata mesti disiapkan baik-baik agar tidak kelimpungan.

      Balas

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: