Langit yang Tak Pernah Mendung (7)

Aku merasa ajaib di malam yang bertabur bintang ini. Tiba-tiba saja sepotong cahaya menusuk bola mata secara sepintas. Tetapi, dalam pancaran cahaya itu, tak ada seonggok berwarna merah yang tampak. Semuanya ke emas-emasan yang sedikit memudar. Bercampur putih dan jingga. Jadi, aku tak tertarik dengan itu.

Jika langit tak pernah mendung di sepanjang tahun di mana aku baru saja menemukan seonggok kisah yang pilu, maka di titik itulah kehampaan sebuah perjuangan tampak pupus. Tetapi jika semua itu aku hadapi dengan lapang dada yang benar-benar lapang, maka sejatinya, pertarunganku ada di antara hujan dan kemarau ini.

Aku berbaring di rerumputan yang dulunya indah, hijau dan enak dipandang. Tetapi, sekarang telah tampak mencokelat menghampiri hitam pekat. Akibat kemarau panjang itu, semua rerumputan tampak muram dan menangis. Pohon-pohon berguguran, kebakaran di mana-mana. Penantian yang panjang dan pengharapan yang tampak palsu.

Di sebelah kiriku, ada sepohon kayu Jawa yang berdiri kokoh. Dua tahun lalu, kalau tidak salah, aku melihatnya rindang. Dahan-dahan dipenuhi dedaunan nan hijau menawan. Burung-burung gelatik begitu riang bermain menabrak-nabrak dedaunan itu. Tetapi saat ini, aku bisa menghitung dedaunan yang menggantung—menunggu gilirannya untuk jatuh ke bumi.

Di sebelah kananku, Ponika terbaring lesu entah apa yang dipikirkan. Di sebelahnya lagi, Siti Maimunnah seperti sedang memanjatkan doa terbaik. Dan, di sebelahnya lagi, pohon ketapang yang telah mengering beberapa hari lalu.

Kami bertiga seperti tak ada apa-apanya di bukit yang telah mencokelat itu. hanya sepotong makhluk kecil. Hiasan cahaya-cahaya langit membiru seperti mendongengkan kisah yang entah kisah tentang apa. Pada titik ini, aku kembali teringat pesan seorang kakek yang tak jauh dari rumah di kampung. Kampung yang damai yang dialiri sungai di tengah-tengahnya.

Kakek tua itu terus bercerita sepanjang pagi hingga sore di hari minggu. Mungkin kakek itu lupa, bahwa ia tak perlu bercerita seperti itu karena aku masih kecil. Tetapi mungkin dianggapnya telah mengerti bahasa Indonesia dengan fasih, maka celotehnya selalu muntah ke udara yang tak berpolusi itu.

“Banyak anak-anak orang kaya di negeri ini, Nita! Tetapi mereka urung sekolah. Mereka lebih banyak tak memanfaatkan kelebihan ekonomi yang diberikan Tuhan itu, untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Pada akhirnya, banyak yang celaka. Sementara, yang miskin banyak pula. Mereka ingin sekali pergi ke sekolah pagi sekali, dan pulang setelah matahari tepat lurus di atas kepala, tetapi apa daya, mereka tak mampu. Akhirnya banyak juga yang celaka,” kata kakek pensiunan Pegawai Negeri Sipil beberapa tahun lalu itu.

“Tetapi itu kan pilihan anak-anak orang kaya itu, Kek!” kataku kepada kakek itu.

Rumah yang ditinggalinya kini telah tua. Lebih tua darinya. Tiang-tiangnya sudah berapa kali diganti. Lebih-lebih atapnya.

“Bukankah itu pilihan yang salah?”

Aku terdiam. Aku tak mengerti apa yang ada dalam pikiran kakek tua itu. Aku biasa memanggilnya Kakek Semaun. Dia kelahiran Pulau Jawa. Tetapi, aku tak tahu persis di mana. Dia migrasi ke kampung kami sekitar 30 tahun lalu. Lama sekali. Bahkan aku belum juga hadir di bumi.

“Kenapa diam?” kakek Semaun mengagetkanku. Ia tersenyum dan aku balas tersenyum pula. Giginya yang tinggal beberapa buah itu dicongaknya ke atas. Bergoyang-goyang bagai dedaunan tertiup angin.

“Tidak apa Kek. Ya, yang pastinya, apa pun yang mereka lakukan, itulah pilihan. Kalaupun mereka tidak melakukan apa-apa, itu juga pilihan, Kek” kataku.

Kakek Semaun mengangguk-angguk. Wajahnya tampak lesu. Seperti tak bersemangat. Tetapi, ucapannya terus meluncur ke telingaku.

“Jadi begini, Nit. Bayangkan orang-orang kaya itu, membantu orang-orang miskin untuk sekolah! Paling tidak, ada yang terselamatkan. Dibandingkan kedua-duanya tak ada yang selamat. Pilih mana, sih?” tanyanya kemudian.

Lagi-lagi aku terdiam. Tapi hanya sejenak. “Ya, pilih ada yang diselamatkan, Kek.”

“Betul, anakku!” katanya. Kakek Semaun menghela napas sejenak, “inilah kekeliruan kita. Ketika anak-anak orang kaya itu, tidak mampu mengajak anaknya menempuh pendidikan, kenapa tidak dialihkan ke anak-anak orang yang tidak mampu? Sehingga mereka bisa sekolah. Ya, modalnya, kemauan dulu!” lanjut Kakek Semaun.

Kakek Semaun itu kini telah tiada. Ia meninggal tepat di hari Jumat di bulan Ramadan. Dan malam ini, aku mengingat pesan-pesannya—membuatku terenyuh. Betul apa yang dikatakannya, sebab jika orang-orang kaya itu menyisihkan sedikit rezeki kepada orang yang tak mampu, maka niscaya mereka terselamatkan dari kebodohan. Tetapi, dalam pelajaran kewarganegaraan, guru pernah mengajarkan, bahwa pendidikan itu adalah hak setiap warga negara. Tetapi kenapa negara tidak memenuhi hak-hak warganya sendiri?

“Apa yang sedang kau pikirkan, Nita?” Ponika mengagetkanku. Aku terbangun dan memandang mereka dalam temaram.

“Sesuatu yang baru saja aku ingat. Pesan. Pesan terakhir sekaligus dari seorang tua,” jawabku.

“Apa dia aku tahu juga?” tanya Ponika penuh penasaran.

Jika kuberitahu ke Ponika apa yang hinggap di ingatan, pasti dia akan tahu, sebab kami se-kampung. Dan, kakek Semaun pun tak jauh dari rumah Ponika. Aku ingin memancing rasa penasaran Ponika lebih jauh.

“Oh, ya, PR kalian tentang ilmu fisika sudah selesai?” tanyaku mengalihkan.

Astaghfirullah …,” Siti Maimunnah terperanjat. Ia seperti kerasukan setan berlari ke sana lalu ke sini, “apaaaaaa …, PR …?” teriaknya lanjut.

“Heiii … hei … hei …,” kata Ponika datar penuh curiga, “jangan kau alihkan pembicaraan kita tadi, ya!” Dia rupanya tahu.
Sejenak aku diam.

“Jangan kau mengungkit itu lagi, Ponika. Sebab, kau akan membenci pemerintah meskipun kau bukan pembenci.”
“Kenapa? Ada apa?”

“Heeee … PR … PR … PR yang mana? aku lupa!” Siti terus mendesakku. Ponika apalagi. Aku bingung.

“Jadi begini, Pon, Siti, PR nanti saja. Paling tidak, kutahu itu gampang menurutmu. Sebentar bukalah bukumu, kau pasti tahu, Siti! Oke?!” kataku pada Siti. “dan kau, Ponika, ini tentang sebuah kisah. Aku tak ingat persis hari apa Kakek Semaun bercerita hampir tak ada putus-putusnya di hadapanku. Seperti sedang mendongengkan sesuatu. Tak menyangka pula, ternyata itulah hari terakhir aku bertemu dengannya—dan melihat tubuh yang kian kurus itu. Ia berpesan padaku, bahwa sekolah-lah setinggi-tingginya, semau-maunya, semampu-mampunya tentu. Sebab, dengan sekolah maka orang tak gampang membodohi. Dengan sekolah, bisa meninggikan derajat. Di sekolah adalah ladang ilmu. Tetapi katanya selanjutnya, jika kau sudah pintar, mengetahui setidaknya beberapa hal, jangan sesekali membodohi orang bodoh sekalipun. Itu artinya, katanya lagi, ilmu yang kau dapat tidak bermanfaat dan hanya akan mencelakakanmu. Bayangkan, Ponika, katanya tadi, orang kaya yang tak mau sekolah, akan celaka; orang miskin yang mau sekolah tapi tak ada biaya, hingga tak bisa sekolah, akan celaka; lalu aku yang dibilangnya celaka jika salah menggunakan ilmu,” jelasku di samping telinga Ponika.

Malam berangsur pelan. Tak terasa, jarum jam panjang di tanganku menusuk angka sembilan. Memang setiap malam Sabtu anak-anak Kos Sundulut punya jadwal menyandarkan belakangnya di bukit ini. Bukit yang bisa menatap bintang dengan leluasa. Memandangi langit yang berpenghuni malaikat-malaikat dan bidadari cantik. Tetapi, belakangan ini, kami bukan ingin melihat itu semua. Kami hanya ingin melihat awan yang menggantung pelan dan lambai di bawah langit—rindu dengan tetesan yang kadang mendinginkan itu.

“Lalu … lalu?” Ponika kembali mendesakku. Ah, rupanya ia masih suka mengutak-atik pandanganku.

“Apanya?” tanyaku balik, seolah-olah tak mengerti.

“Soal Kakek Semaun! Dia juga banyak bercerita denganku. Kan, aku selalu mengantarkannya makanan ketika senja menjemput.”

“Isi ceritanya apa?”

“Ah, kau yang aku tanya terlebih dahulu. Berceritalah di bawah kolong langit yang bertaburan milyaran bintang ini.”

“Esok sekolah!”

“Lantas?”

“Ya, waktunya pulang.”

“Tapi aku masih ingin di sini, Nit! Mendengar ceritamu itu. aku juga tiba-tiba kangen dengan Kakek Semaun. Semoga ia damai di alam sana!”

“Ya, sudahlah! Nanti saja lain kali. Jangan sampai kita kesiangan.” Kataku mengajak.

“Loh, bukannya kamu yang sering kesiangan ya, hahahaha…” Ponika meledekku.

“Ayolah!” Siti mendahului.

Selanjutnya baca Bagian Delapan

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: