Pengumuman Kelulusan (15)

series menanti hujan di negeri kaktus
Ilustrasi. Dokumentasi pribadi.

***

Sebentar lagi pengumuman kelulusan di SMP dimulai. Hari ini, sejarah dalam hidupku dan ratusan anak-anak itu terjadi. Apakah lulus atau tidak!

Dari ratusan siswa itu, hanya lima siswa yang tak pernah diwakili oleh orang tua kandung semenjak penerimaan rapor hingga pengumuman kelulusan ini tiba. Nita Nur Fitri, Ponika Raisa Susanti, Widya Rosita, Susi Sumiati Almahidah Alibaba, dan Laila Kumala Sari.

Kelima orang ini, adalah siswa dari kampung yang kampungnya hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Dan tak bisa menghubungi orang tua dengan cara apa pun selain dengan memberikan pesan kepada seseorang. Tetapi, orang yang akan dititipkan pesan, bahwa pada hari-hari tertentu, orang tua dibutuhkan untuk mewakili anak-anaknya dalam satu pengumuman di sekolah, tidak ada.

Dan seperti biasa, Mangge Robuka adalah satu-satunya orang tua yang bisa mewakili kelima petaruh nasib di perkotaan yang panas ini.

Tentu, lelaki tua yang sudah menduda dan memiliki tiga anak itu dengan senang hati dan bangga, mewakili kami anak-anak kampung ini, untuk menerima hasil pengumuman kelulusan. Dan Mangge Robuka yakin, bahwa anak-anak Kos Sundulut akan lulus semuanya.

Ia akan mengenakan pakaian sederhananya itu. Satu-satunya pakaian kemeja berkotak-kotak yang dibelinya di pinggiran jalan—di toko pakaian bekas itu. Aku tahu, ia akan memakai Kopia hitam ala Jenderal Soedirman—mengerucut bagian atasnya. Kumisnya pasti tak di cukur. Tali sepatuhnya yang sudah lusuh, pasti berwarna kuning. Tetapi aku tak tahu, apa memang yang dimilikinya hanya itu saja? Atau memang kami tak istimewa sehingga tak perlu memakai pakaian yang luar biasa megahnya? Ah, itu tak penting, dalam keadaan Mangge Robuka masih hidup, ia banyak membantu kami dalam urusan sekolah dan tempat tinggal. Dan, aku sangat berterima kasih padanya.

Dulu, sewaktu kiriman uang dari kampung lambat, karena jarak kampung dan kota ini jauh, dan kemudian orang yang dititipkan uang dari kampung itu, juga sedikit lambat, maka bisa dipastikan, pembayaran kos selanjutnya akan tertunda. Dan ajaibnya, Mangge Robuka tak pernah kesal ataupun menagih kelambatan pembayaran kos. Sebab, sekiranya ia memaklumi, bahwa anak-anak kampung ini begitu kesulitan mendapatkan uang kiriman—yang notabene lambat. Dan itu terjadi berkali-kali.

Ia pernah berkata, bahwa kami adalah perempuan-perempuan yang perkasa dan tahan jauh dari orang tua. Padahal aku selalu dirongrong oleh kerinduan yang mendalam. Kepada sang ibu di kampung.

Aku mengatakan padanya, bahwa bagaimana caranya melepas rindu kepada orang tuaku, di saat berjauhan seperti ini!

Ia lantas menjawab, bahwa udara yang segar, pepohonan, dan lautan yang luas, juga rindu dengan kombinasi-kombinasi alam lainnya. Burung, ular, gajah, atau babi, adalah binatang yang juga rindu dengan kelompok-kelompoknya. Tetapi semua itu bisa ditaklukkan dengan adanya habitat-habitat serupa, yang kemudian dilampiaskan dengan cara yang mustahil dicontohi oleh manusia.

Dan bagaimana jika manusia rindu dengan manusia? Katanya, rindu itu seumpama sendok dan garpu. Keduanya selalu hadir di meja makan atau di restoran-restoran kelas atas. Tetapi, bila salah satunya tak ada, maka jangan disalahkan pada sendok atau garpu itu sebab keduanya tak menginginkan untuk berpisah.

Nah, tetapi dalam keberpisahan sendok dan garpu itu, apa mereka ada yang saling mencari? Apa orang-orang tak bisa makan jika keduanya tak hadir di meja makan? Tidak kan? Begitulah manusia, menahan rindu meski keduanya tak saling bertemu, dan tidak merasa kehilangan jika salah satunya tak ada. Biarkan saja rindu mengawang-awang di awan yang tebal. Pasti ia akan terhempas ke sanubari bagi orang yang dirindukan.

***

Kami dianggapnya seperti anak kandung. Ia menjaga kami, dan mencari ketika pulang di larut malam. Ia begitu khawatir ketika ada yang terjadi pada salah satu anak-anak Kos Sundulut. Ketika dipastikannya, bahwa ke lima perempuan yang masih ranum-ranum itu, ia baru bisa tidur nyenyak bersama mimpi-mimpi indahnya—yang sewaktu-waktu bertemu dengan bidadari yang cantik. Dan ingin dipersuntingnya menjadi seorang istri untuk mengurusi ketiga anaknya. Tetapi itu bukanlah hal yang mudah dan mustahil terjadi, tentunya.

Semua tahu bahwa Mangge Robuka adalah seorang duda yang miskin tetapi taat beribadah. Ia masuk Islam ketika seorang ustaz membuka pintu hatinya akan kebesaran Tuhan—sewaktu masih remaja. Kenyataan yang menyingkap dirinya saat ini, dihadapinya dengan penuh ketabahan dan kekhusyukan yang luar biasa menurutku.

Apalah artinya jika seorang duda yang mualaf, jika tak secara rutin menyembah Allah dengan waktu-waktu tertentu. Mengipas tangannya dan menyambarkan jidat yang sedikit melebar ke lantai beralaskan sajadah!

Sesekali ia menyerupai seorang dukun, yang rela mengobati kami dikala sakit panas. Mulutnya komat kamit di atas gelas berisikan air putih, lalu memerintahkan kami untuk meminum. Ajaibnya, beberapa saat kemudian, panas tubuh turun dengan seketika. Ia mengalahkan seorang dokter yang sekolahnya tinggi-tinggi itu.

Tetapi, ketika ia sakit, herannya ia tak mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Ia hanya berbaring lemah di atas kasur yang tipis menunggu sebuah keajaiban khusus yang diberikan padanya. Pada malam-malam tertentu, sesekali ia membaca ayat-ayat Alquran dengan begitu nyaring.

Semua yang ia lakukan kulihat ikhlas. Dengan gaya rambunya yang khas menyerupai rambut Mr. Bean, membuatnya tampak indah ketika berjalan di antara bunga-bunga yang mati. Atau, ketika sehabis mandi, Mangge Robuka sesekali tak menyisir rambut yang tampak bergoyang-goyang meski basah. Sudah beberapa bulan ia tak mencukur rambut itu, sehingga panjangnya hampir sepuluh centimeter terurai ke bawah. Persis dengan rambutku.

“Mangge … mangge …!” panggil Ponika di suatu sore yang hening.

Tampak Mangge Robuka menoleh seadanya. Kesibukan jari jemarinya menganyam lidi yang akan dibuat menjadi sebuah piring. Istimewa.

“Besok, Mangge Robuka tidak sibuk, kan?” tanya Ponika kemudian.

“Kenapa?” tanya Mangge Robuka datar.

“Seperti biasa, Mangge, pengumuman!”

“Oh, ya, pengambilan rapor lagi? luar biasa cepatnya ….”

“Pengumuman kelulusan kali ini, Mangge …!”

Loading...

Raut wajahnya berubah datar. Seperti ada sesuatu yang tak ingin dilepasnya. Bola matanya yang bulat itu seolah-olah berkata sesuatu, bahwa bisakah pengumuman kelulusan ditunda? Tetapi dalam hal kebijakan, tentunya bukan domain anak-anak Kos Sundulut. Entah kenapa, kemudian aku berspekulasi, bahwa ia tak ingin ditinggalkan oleh lima orang yang telah tiga tahun menemaninya.

Lalu, pelan-pelan ia berbisik di telingaku, bisakah aku pergi sedikit terlambat kali ini? aku menjawab dengan seadanya, dan, tak lupa pula bertanya: kenapa? Ia lantas diam sejenak, lama, dan tak ada suara sesaat aku pergi meninggalkannya. Kali ini, aku kembali berspekulasi, bahwa Mangge Robuka tak ingin ditinggalkan lima siswa itu.

Tak seperti biasanya, kali ini, sepanjang malam, ia tak bisa tertidur. Sedikit-sedikit ia keluar ke teras kos khususnya itu. Sesekali pula ia menjaring sebuah ide untuk membatalkan pengumuman hingga waktu yang tak ditentukan. Ya, malam Sabtu itu, tubuhnya agak bergetar. Bibirnya yang menghitam itu, kadang kala monyong. Ketika seonggok cahaya menabrak setitik awan putih di langit sana, mulutnya komat-kamit—berdoa setulus hatinya. Adakah kesempatan lagi ditemani perempuan-perempuan mungil yang selalu menyemangatiku untuk tetap hidup ini?

Biasanya di malam seperti ini, ia telah tidur nyenyak setelah memastikan, ke lima orang anak kosnya itu sudah berada di kamar masing-masing—dan ia akan bangun di subuh buta nan gelap gulita.  Tetapi di saat keadaan yang membuatnya dilema, perubahan di sekujur tubuhnya tak bisa dihindari.

Sebentar lagi bola api raksasa akan menyelimuti kota kecil. Berdebu dikala kemarau. Banjir dikala hujan tak henti-hentinya menerpa sepanjang siang. Pada titik itu, kegelisahannya semakin bertambah dan seolah-olah tak tahu apa yang harus dilakukan. Betapa berat bebannya. Tetapi apakah harus mencari orang tua lain—yang bisa mewakili kami berlima ini untuk menerima rapor? Tidak mungkin. Mangge Robuka adalah satu-satunya orang tua yang bersedia menjemput rapor—dan kali ini adalah sepucuk surat di dalam amplop yang menentukan masa depan kami kelak nanti.

Aku kembali teringat pada wajah Bapak, di saat pengumuman kelulusan SD tiga tahun lalu. Ia bercerita di pagi hari sebelum berangkat bersama-sama, bahwa ini adalah awal akan berpisah dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Sehingga, setiap detak langkahnya menuju ke sekolah semakin dekat semakin lambat. Ia tahu, bahwa aku akan lulus. Dan, pesan ibu untuk sekolah di kota seperti saat ini,  terus diingatnya. Ia pasti merindukanku di kala laron-laron menyambar lampu minyak di malam hari. Atau, ia akan mengingatku ketika selalu bersedia mengambilkannya piring ketika ingin makan malam—sebelum aku belajar tentunya. Tetapi dalam semua tidak-ikhlas yang dipaksa,  ada sepucuk ketakjuban yang muncul dari lubuk hati, bahwa anaknya kata bapakku, akan lulus dan sekolah di kota yang bergengsi.

Dan, bahwa anak-anak kosku telah lulus semua, dan hanya aku yang bersedia menerima rapor mereka. Inilah di mana sosok dua orang lelaki yang penyayang kepada anak-anak—untuk mendukung proses mencapai mimpi.

Inilah waktu yang ditunggu-tunggu oleh penghuni kos Sundulut, tetapi tak diinginkan oleh Mangge Robuka. Dalam undangan tertulis, 15 menit sebelum acara di mulai para orang tua atau yang mewakili siswa harus hadir dan duduk di bangku yang telah disediakan oleh Pak Santo, sebagai penjaga sekolah. Itu artinya, 20 menit lagi Mangge Robuka harus melangkahkan kaki dari tempat ini—menuju ke sekolah.

***

Pada masa penerimaan rapor di kelas satu dulu, guru-guru, staf tata usaha, kepala sekolah, dan wali siswa lainnya terheran-heran, tatkala ke lima nama siswa itu dipanggil secara acak.

“Widya Rosita!” panggil wali kelas dengan lantang di depan ratusan wali kelas yang duduk dengan rapi tanpa berisik. Maka Mangge Robuka maju dengan dada tegap dan tak pernah gugup, sebab ia bangga bisa mewakili anak-anak kosnya meski lima kali ia maju ke depan—tanpa malu.

“Susi Sumiati Almahidah Alibaba!” belum juga sempat duduk Mangge Robuka, nama anak kosnya kembali dipanggil dan ia lantas balik kanan—sambil melempar senyum ke seluruh para undangan yang hadir di situ.

Para wali siswa lain mengira, bahwa kedua siswa itu adalah anaknya, olehnya mereka diam, dan membalas senyum apa adanya. Tak istimewa. Begitu pun para guru, staf tata usaha, kepala sekolah, penjaga sekolah. Apalagi siswa-siswa sekelas kami—mereka sama sekali tak tahu, bahwa Widya dan Susi rupa-rupanya bersaudara. Spekulasi itu terngiang di telingaku ketika seorang siswa berbisik ke siswa lainnya yang tak jauh dariku.

Giliran siswa lain di panggil, “Purnama Sasongko!” seorang lelaki berdiri. Usianya kira-kira 40-an tahun. Kemeja putih dan jas hitam, lalu di lehernya ada seutas dasi berwarna merah, betul-betul rapi. Ia tak pernah senyum dan melangkah begitu teratur. Pantatnya sedikit tebal, karena di kedua kantong celananya di kiri dan kanan itu bagian belakang, berisi dompet, yang mungkin jutaan rupiah isinya. Sang wali kelas berdiri, dan sedikit membungkukkan kepalanya lalu tersenyum. Itu adalah bapak Purnomo, yang sedikit angkuh karena ia adalah pengusaha kaya raya. Ia rebut rapor yang terbungkus dengan kertas minyak berwarna hijau itu dengan  keras. Lalu ia pergi tanpa membalas senyum; tanpa meminta permisi; atau tanpa mengucapkan terima kasih. Betul-betul membuatku muak dengan manusia-manusia seperti itu.

“Ponika Raisa Susanti!” giliran Mangge Robuka lagi yang berdiri. Seperti biasa, ia mengulangi tingkah tadi. Melemparkan senyuman khasnya, dengan kumis sedikit bergoyang-goyang, hidung bergerak-gerak, seperti dikenal semua orang-orang dalam ruangan yang besar itu. ia berjalan ke depan, lalu membungkuk sedikit, sebagai tanda penghormatan kepada siapa saja yang ada di depannya. Luar biasa, wali kami itu. sungguh luar biasa!

Lantas, manusia seisi ruangan itu kembali kaget, kecuali lima orang siswa yang sebagiannya tabah menunggu giliran namanya disebut. Rupanya, orang tua yang memakai kemeja yang dibelinya di toko baju bekas itu memiliki tiga orang anak yang cantik-cantik.

Ketiga dari terakhir, sang wali kelas kembali memanggil, “Nita Nur Fitri!”

Ketika nama itu disebut, seisi ruangan kembali terkejut. Ya, rupanya, aku adalah anak dari Mangge Robuka, yang dikenal taat beribadah, sopan, dan cepat akrab kepada semua orang. Setelah di tengah perjalanan dalam ruangan itu, seorang ibu berbisik padanya, bahwa anak bapak begitu banyak dan semuanya perempuan, satu kelas lagi. bagaimana cara membuatnya? Mangge Robuka hanya tersenyum, dan fokus pada langkahnya menuju ke depan hendak mengambil raporku.  Ketika sampai di depan, wali kelasku itu, Ibu Nurmala, S.Pd., M.Pd sedikit membungkukkan kepalanya, dan berucap, apakah ke empat orang itu adalah anak-anak bapak? Mangge Robuka hanya menggeleng sambil pula tersenyum. Tak pantas rasanya ia menjawab di tempat ini. ketika Mangge Robuka membuka raporku ia tersenyum dan mengusap-usap rambutku. Katanya, aku mendapatkan juara kedua. Ia bangga.

Disusul pula oleh Laila Kumala Sari, kedua dari terakhir. Mangge Robuuka kembali berdiri dan berlaku seperti semula. Luar biasa, mata-mata itu memelototi seorang Mangge Robuka.

Dan, untuk penerimaan rapor selanjutnya, semua sudah tahu, bahwa Mangge Robuka lima kali maju ke depan, untuk mewakili anak-anak kos Sundulut.

Tetapi kali ini, langkahnya begitu berat ketika mendekati sekolah kami—seperti langkah bapakku ketika menerima selembar surat pengumuman di SD dulu. Kali ini ia jauh dari sikap disiplin—yang tak seperti biasanya. Ia telat dan itu disengaja. Aku sudah gelisah menunggu Mangge Robuka di kursi paling belakang, di mana para siswa duduk. Begitu pun dengan Ponika dan ketiga sahabat-sahabat hebat itu—yang meyakini, bahwa Mangge Robuka tak akan datang. Tetapi, sebelum berangkat ke sekolah ini, pakaian andalannya itu sudah melekat di sekujur tubuhnya. Rapi.  Ia mengalahkan penampilan seorang pejabat yang akan dilantik.

Yang tak kalah gelisah adalah wali kelas kami, Ibu Nurmala, S.Pd., M.Pd. Kami suka memanggilnya Ibu Nur, dan ia senangi itu. Sudah tujuh orang dari 97 siswa yang disebut namanya, tetapi Mangge Robuka, yang aku lihat sudah mendekati sekolah tadi, belum juga menampakkan batang hidungnya di ruangan yang istimewa ini. Beruntung saja, kelima nama siswa dari Kos Sundulut belum di sebut. Ah, Mangge Robuka, cepatlah ke sini aku mengharapkanmu! Ucapku gelisah dalam hati.

Ketika nama ke delapan di panggil, suara ketokan pintu terdengar nyaring. “Subahannallah, itu pasti Mangge Robuka, wali kita, Nit,” bisik Ponika yang tak sabar menunggu Mangge Robuka kepadaku.

“Semoga …” kataku penuh harap.

Sang Penjaga sekolah bergegas membuka pintu ruangan itu. dengan langkah yang begitu berat, dan wajah yang kurang semangat, Mangge Robuka mengucap salam, lalu, sang penjaga sekolah dengan gesit dan tak di buat-buat—mempersilahkannya duduk di kursi kedua paling depan. Orang-orang tak mengerti, apa yang terjadi dengan Mangge Robuka di hari-hari yang menegangkan ini?

Seluruh ruangan tampak dilihatnya kuning-menguning. Pencahayaan mengkilap dan sesekali menghitam. Aku sempat berujar padanya, bahwa setelah ini, kemungkinan banyak yang akan pulang ke kampung halaman. Lantas ia hanya mendehem, seperti batuk-batuk kasar dan sepertinya menolak keinginan itu. Ia merebahkan tubuh di lantai meskipun banyak kecoak yang menyebarkan virus-virusnya di lantai kotor itu. aku menegurnya dengan sopan, tetapi ia hanya mangut tak beraturan. Seperti layang-layang di udara yang kadang-kadang diterpa angin laut, lalu angin gunung. Itulah kenapa Mangge Robuka bertambah sedih di hari ini.

Pengumuman pun telah usai. Dan seperti biasanya, Mangge Robuka lima kali naik ke atas panggung yang lumayan besar dan diisi oleh puluhan guru-guru itu. Dekorasi ruangan yang dibuat oleh penjaga sekolah memang tampak indah. Sedikit menghibur bagi siswa yang tak lulus. Tetapi itu hanyalah sesaat, bahwa kekecewaan yang lebih besar tak bisa dibendung oleh dekorasi ruangan itu.

Aku, Ponika, Widya, Susi, dan Laila berhasil lulus dengan nilai ujian yang cukup memuaskan. Tetapi tidak untuk Mangge Robuka. Ia tersungut-sungut berjalan di trotoar jalan, dan tak seorang dari kami ingin menghiburnya. Udara dirasakannya seperti membakar seluruh lapisan dagingnya itu. Dan, seperti biasa, ia akan merenung sepanjang malam buta.

Selanjutnya Baca Bagian Keenam belas

Loading...

Tinggalkan Balasan