Pras dan Seni Meracik Kopi

seni meracik kopi
Seni meracik kopi.

Seni meracik kopi — Sejak abad sembilan, kopi hanya ada di Ethiopia, yang ditanam di dataran tinggi di sana. Kemudian, Bangsa Arab mengembangkan perdagangannya hingga ke Afrika Utara—biji kopi pun bisa dijumpai di sana.

Dari Afrika Utara itulah, kopi merambat ke Eropa dan Asia. Penyebarannya begitu cepat, secepat menyebarkan ceramah-ceramah tauziah.  Di pelosok, di kota, di Ambon, di Jawa, di Toraja, periksa, ada kopi tidak, di sana?! Kalau di Palu, sudah ada kopi bubuk yang dipadukan dengan rempah.

Sebagian orang, jika serbuk kopi bercampur gula dan air panas—mengalir ke tenggorokan—mengubah otak menjadi encer. Tenang dan tak reseh. Itulah alasan mereka mengapa minum kopi. Tetapi bagi sebagian lain, kopi menjadi bagian tak tampak di dapur mereka.

Serbuk kopi, kita bisa mendapati di mana-mana. Di warung, di swalayan, di kios, di kantor, di perusahaan, di rumah, di pondok sawah, dan lain sebagainya. Periksa! Pasti ada!

Tentu saja bukan main-main, di hampir seluruh penghuni dunia, bangun tidur, akan mencarinya. Tinggal diracik saja sesuai selera lidah. Kalau saya, tujuh gram campur air lima ratus mili, kemudian gula secukupnya. Aduk. Lalu, teguk. Nikmat.

Serbuk-serbuknya hitam. Tapi kadang-kadang ada bintik-bintik putih, juga cokelat. Kopi memang terasa pekat di lidah, lalu pelan-pelan menuju ke tenggorokan. Kemudian menyasar jantung.

Tak heran, para penikmatnya begitu ketagihan. Mencarinya di mana-mana. Jika tidak, maka pala barbie akan pucing. Kadang, orang-orang tertentu tidak bisa berpikir jernih jika tidak mengonsumsinya. Ya, itulah dahsyatnya kopi. Cita rasa dan aromanya, menggelembung ke udara. Hingga, hinggap ke lubang hidung.

Hingga sekarang, pengusaha kopi merembet ke mana-mana. Jika ditinjau dari sektor ekonomi, pekerjaan ini memang cukup menjanjikan. Apalagi, ditekuni dengan baik. Semua jenis kopi, dapat disediakan sesuai jenis humus tanah. Sebab, jika kopi di tanam di tanah yang dahulu ditanami Jati, maka rasanya akan berbeda, dibanding dengan tanah yang belum ditanami apa-apa terlebih dahulu.

Trauma “Isi dalam Botol”

Menjelang Magrib, tiba-tiba telefon genggam saya berbunyi, “Jika ingin belajar meracik kopi, datang ke kantor!” begitu kira-kira isi pesan singkat tersebut.

Tentu saja tak menelan mentah-mentah pesan itu. Sebab, sang pengirim pesan singkat ini, selalu mengisi saya “dalam botol”—selalu berbohong.

Sudah capek-capek ke Tempat Kejadian Perkara (TKP), eh, ternyata tak terjadi apa-apa. Sudah lebih dari lima kali saya dibuatnya seperti itu. Anehnya, saya selalu tertipu. Tetapi kali ini, otak kiri bekerja ekstra.

“Coba kirim fotonya!” balasku.

Ini artinya, melalui foto yang dikirimkannya itu, sebagai bukti bahwa benar di sana ada sebuah kegiatan yang meracik kopi.

Tak lama kemudian, ponsel saya pun berbunyi. Bukan hanya satu,  kira-kira lima foto yang dikirimkannya. “Wah, ternyata betul adanya,” dengung dalam hati.  

Lantas, dengan cekatan mengambil motor butut inventaris kantor di mana saya bekerja. Starter berkali-kali, tetapi tak mau bunyi—memang sudah ketuaan—tetapi tentu saja, melebihi tua saya. Keringat bercucuran. Pikiran berkecamuk—sebab memikirkan momen yang hebat di kantor teman saya itu.  

Tepat delapan belas kali saya starter, akhirnya motor itu mengalah. Bunyi dan berangkat … Kebetulan, jarak antara kantor teman saya dan kantor saya, tak sejauh antara Tunisia dan Belanda.

Sepuluh menit kemudian tibalah di kantor yang menjadi pusat perjuangan anak-anak muda yang jomlo itu.

Pras dan Seni Meracik Kopi

Ceritanya terjadi 7 tahun silam. Sialnya, saya kehilangan foto-foto saat praktik seni meracik kopi itu.

Di sana, ada tujuh orang, sedang asyik melakukan atraksi meracik kopi. Banyak alat-alat  yang baru saya kenali berhamburan di atas meja besar. Ada seorang yang masih asing. Lalu, seorang rekan mendenging, “Istirahat dulu!”

Loading...

Kalimat itu seolah membuatku sia-sia menempuh perjalanan. Meskipun dekat, tapi tetap saja merasa sial. Rupanya eksperimen seni meracik kopi sudah dilakukan beberapa menit lalu. Waktunya istirahat, karena babak pertama sudah di penghujung—sesaat setelah saya tiba.

Sialan!

Seorang yang asing tadi, adalah Pras. Lantas, saya berkenalan dengannya. Ia berasal dari Kota Hujan, Bogor. Pras salah satu pecinta kopi sekaligus peneliti jenis kopi di Indonesia. Dia sengaja ke Palu dengan membawa segudang jenis kopi dan peralatan meracik kopi—untuk melakukan penelitian.

Lelaki separuh baya itu, datang ke Bumi Kaktus, hanya untuk meneliti sosial—budaya. Tetapi, selain meneliti, kegemaran tentang meracik kopi tak pernah absen dalam kesehariannya. Sebagai bukti, ke mana-mana ia membawa seperangkat alat pembuat kopi. Berbagai jenis kopi dan segudang ilmu tentang kopi. Luar bisa, bukan?

Ada tujuh jenis kopi yang ada dalam ransel kuning milik Pras. Ia menunjukkan dan menyebut satu-satu nama kopi: kopi Palembang; kopi Jember; Kopi Luwak; Kopi Toraja; dan, ah, saya lupa kopi apa lagi!

Seni Meracik Kopi Babak Kedua

Akhirnya dimulai lagi ….

Setelah berbincang sedikit, akhirnya kami berpindah lokasi—ke teras kantor itu.

Sebelumnya saya sempat diam. Pun yang lain. Kami memerhatikan Pras ke sana-ke sini—sibuk sendiri mengambil gelas, sendok, memanaskan air, tanpa ada yang membantu. Dan ternyata, memang harus dilakukan sendiri. Sebab, kami di sana belum ada yang mengetahui—meski babak pertama baru saja selesai.

Tentu saja saya perhatikan secara saksama. Ia mengambil enam buah gelas, dan tiga jenis kopi. Alat penghalus biji kopi tadi masih tetap berdiri kukuh di atas meja. Lalu, ia menggiling biji kopi hingga halus. Serbuk dari tiga jenis kopi kemudian ditimbang. “Harus sama berat!” tegas Pras di tengah kesibukannya.

Oh, ya, satu jenis kopi terdapat dua gelas, maka beratnya akan berbeda pula. “Untuk memastikan, kekhasan cita rasa melalui berat,” tegas Pras lagi. Maksud aku, lanjutnya, setiap satu jenis kopi terdiri dari dua gelas—yang berat bubuknya tentu saja berbeda. Kuharap, kalian akan menilai di mana yang paling mantap dari tiga jenis kopi—terdiri dari enam gelas yang berbeda. “Paham?!” tanyanya dalam tegas.

Air telah mendidih. Serbuk kopi telah berada di dalam gelas masing-masing. Ia menuang air mendidih tadi ke gelas itu. Pelan. Sepertinya ia menahan napas. Lalu didiamkan beberapa saat. Woww … aroma kopi menyeruak. Harum.

Tentu saja Pras tak mencampurinya dengan gula. “Silakan dicicipi!” pintanya.

Ia mengambil beberapa lembar kertas. Tentu saja tak kosong. Ada beberapa pertanyaan yang harus kami jawab—tentang penilaian racikan kopi dari enam gelas itu. “Masing-masing satu sendok seorang,” katanya. Silakan isi apa yang kalian rasakan, lanjut Pras sambil terbahak-bahak.   

Kami menjawab pertanyaan yang tersedia. Selesai. Dan saya lalu berpikir, ternyata, meracik kopi—untuk mengetahui selera orang lain, harus diadakan penelitian. Artinya, meracik kopi sesuai selera sendiri, itu mudah. Tetapi, untuk selera orang lain, sungguh susah.

Di titik itu, saya kagum dengan Pras. Pria sejati penikmat dan tahu seni meracik kopi.

Meracik Kopi Tak Perlu Alat

Sejak dahulu, ketika saya bikin kopi, hanya satu teorinya. Tak perlu memakai peralatan yang bikin repot itu.

Teorinya adalah, kopi diseduh secukupnya—sesuai selera dalam gelas. Siram dengan air mendidih. Biarkan beberapa detik. Biarkan bubuknya larut. Kemudian taruh gula secukupnya—sesuai selera.

Kebiasaan itu hingga hari ini saya praktikkan. Rasa-rasanya cukup nikmat. Apakah itu bagian dari seni meracik kopi? Menurut saya iya. Mengapa?

Karena setiap membuat kopi tanpa alat yang merepotkan itu, rasa-rasanya pas di lidah saya. Artinya, baik menggunakan alat maupun sekadarnya untuk bikin kopi, tapi kalau cocok di lidah—itu adalah bagian dari seni meracik kopi.

Loading...

Tinggalkan Balasan