Vaksinasi Covid-19: Berburu Vaksin Kedua

vaksinasi-covid-19-berburu-vaksin-kedua
Vaksinasi Covid-19. Sumber gambar cnbcindonesia.

Vaksinasi covid-19 untuk dosis kedua sudah saya kondisikan sejak pagi sekali sebelum berak. Saya menghubungi seorang panitia vaksinasi yang saya kenal, melalui WhatsApp. Saya bertanya, apakah bisa vaksin kedua di tempat yang berbeda dari vaksin pertama?

Dengan enteng dia menjawab, “Insyaallah bisa”.

Saya kemudian menghabiskan kopi yang masih setengah di dalam gelas kaca bening. Mandi. Bergegas agar dapat nomor antrean awal. Karena dekat dari rumah, dua kali belok, sampai.

Saya tidak menduga ternyata telah banyak manusia di sana. Pasca diperbolehkannya anak di usia 12 tahun ke atas untuk divaksinasi, setiap lokasi vaksin ramai. Seorang saja yang akan divaksin, tetapi pengantar anak bisa satu keluarga. Tapi saya tidak mempermasalahkan itu.

Apabila ada 50 anak yang hendak divaksin, dengan pengantar anak 2 orang, maka ada 150 orang di sana.

Saya tidak langsung balik. Menuju ke meja panitia. Bertanya di sana. “Saya mau vaksin kedua. Bagaimana caranya?”

Seorang lelaki memakai topi—petugas puskesmas kemungkinannya, meminta bukti vaksin pertama. Saya menyodorkan. Dia memeriksa dengan saksama.

“Vaksin kedua tanggal 6. Ini baru tanggal 3.” Kata Bapak itu.

“Jadwal vaksin kedua saya sudah ditentukan. Informasi itu saya dapat melalui PeduliLindungi. Tanggal 3. Artinya hari ini.” Saya membantah.

Seorang menimpali dan menyatakan bahwa mereka tidak mau ambil risiko. Acuan mereka adalah surat keterangan vaksin pertama yaitu tanggal 6. Sehingga mereka menolak saya untuk divaksin kedua.

Saya memahami penolakan itu. Saya balik dan istirahat.

Data Vaksinasi dan Mengapa Harus 2 Kali Vaksin

Menurut data Covid19.go.id, vaksinasi Covid-19 per 8 September 2021, dari total target 208.265.720 jiwa, sebanyak 69.194.539 melakukan vaksinasi pertama. Sementara untuk vaksinasi kedua 39.721.571 jiwa. Vaksinasi ketiga mencapai 737.337 jiwa.    

Sementara saya, pada Senin 6 September 2021, berburu vaksinasi kedua. Menurut ketentuan yang ditetapkan, vaksinasi Covid-19 diwajibkan dilakukan sebanyak 2 kali. Dua dosis, agar kekebalan tubuh tercipta secara optimal. Ketika kekebalan tubuh sudah optimal, maka bisa meminimalisasi dampak virus Covid-19 ketika terpapar.

Namun tentu saja, vaksinasi kedua semestinya dilakukan dengan tepat waktu. Sesuai jadwal. Karena itulah saya melakukan vaksinasi kedua tanggal 3, karena di PeduliLindungi tercatat tanggal 3.

Vaksin pertama yang dimasukkan ke tubuh saya, melalui lengan kiri adalah vaksin Sinovac. Menurut beberapa referensi, jeda waktu dari vaksin pertama ke vaksin kedua antara 2 sampai 4 minggu. Itu artinya, sangat tepat jika vaksin kedua jatuh pada tanggal 6, karena tanggal 6 bulan sebelumnya jadwal vaksin pertama.

Sementara untuk jenis vaksin lain, misalnya Sinopharm, memiliki jeda waktu antara 3 sampai 4 minggu. Vaksin Moderna rentan waktu 3 hingga 6 minggu. Vaksin Pfizer berkisar 3 minggu. Sementara AstraZeneca memiliki rentan waktu mencapai 8 hingga 12 minggu.

Saya bisa menunda vaksin kedua apabila ada kendala atau alasan mendasar. Seperti misalnya karena terpapar virus atau kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk dilakukan vaksin. Dan ini terjadi pada beberapa peserta vaksin yang akan saya cerita di bawah.

Berburu Vaksinasi Kedua

Saya sengaja mengosongkan waktu untuk berburu vaksin kedua. Berangkat pagi sebelum aktivitas masyarakat urban berlangsung di jalanan.

Orang-orang berlomba. Saat saya tiba di lokasi vaksin, ternyata telah banyak orang yang mengantre menunggu panggilan. Saya mendapatkan nomor antrean 69A.

Di lokasi vaksinasi ini, ada 3 kategori nomor antrean. Mulai dari 1A, 1B, 1C. 2A, 2B, 2C. Begitu seterusnya sampai seratusan.

Saya sudah menceritakan sebelumnya, untuk vaksin Sinovac pertama mengalami enam kali gagal. Namun vaksin kedua ini, saya tidak mau gagal lagi, karena berdampak pada kekebalan tubuh.

Semua kursi terisi oleh peserta vaksin. Meskipun masih ada yang kosong, saya tidak akan duduk di kursi itu, karena lebih baik duduk di bawah pepohonan yang rindang di sekitar lokasi vaksinasi. Suara panggilan nomor antrean juga masih terdengar karena menggunakan sound system.

Satu jam saya menunggu. Nomor antrean 61A sampai dengan 70A dipanggil. Lima orang berderet masuk ke ruangan.

Proses Vaksinasi 5 Kali Antre

Antre pertama adalah pengambilan dan pengisian formulir vaksinasi serta nomor antrean sampai dipanggil masuk. Seperti saya katakan di atas, memakan waktu hingga satu jam.

Seseorang akan mengukur suhu tubuh menggunakan thermometer infrared ketika masuk ke ruangan. Suhu tubuh saya 36.6 derajat celcius.

Antrean kedua terdapat 7 meja. Masing-masing telah ada yang menunggu. Di depan mereka ada komputer. Bertanya kemudian mengetik. Data-data peserta vaksinasi tersebut dimasukkan ke sistem komputer. Beberapa pertanyaan keluar, misalnya apakah menggunakan BPJS? BPJS Kesehatan jenis apa. Satu menit di meja administrasi ini kemudian antre lagi.

Antrean ketiga, ini adalah proses skrining oleh dokter. Duduk manis di kursi yang disediakan panitia. Kaki menapak lantai. Tekanan darah diukur. Pertanyaan-pertanyaan dokter membombardir peserta vaksinasi. Pada proses ini, beberapa peserta vaksinasi ‘gugur’.

Sebelum saya dipanggil untuk skrining, beberapa peserta telah dipanggil terlebih dahulu. Pertanyaan dokter saya dengar jelas. Hingga akhirnya sang dokter menyimpulkan dan memutuskan untuk menunda vaksinasi beberapa peserta. Mayoritas usia lanjut.

Saya pun tak luput untuk ditanya. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. “Apakah ada alergi pada vaksin pertama?” dokter itu bertanya keras.

“Tidak.” Jawab saya.

Dokter itu kemudian bertanya lagi, misalnya apa efek samping yang saya alami pada vaksin pertama. Saya kemudian menjelaskan secara detail. Dokter itu manggut-manggut. Mencentang kolom ‘lanjut vaksin’.

Beberapa Peserta Vaksinasi Gagal Vaksin

Skrining sangat penting untuk menghindari adanya Kondisi Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), demikian pendapat dr. Deshinta Putri Mulya, M.Sc., Sp.PD, KAI (K), Kepala Divisi Alergi Imunologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Antrean keempat. Menunggu antrean, saya mendengar beberapa lagi peserta yang tidak direkomendasikan dokter untuk lanjut vaksinasi. Hari itu, kemungkinan lebih dari 10 peserta gagal vaksin.

Ada dua meja pada antrean ini. Meja pertama untuk divaksin Pfizer. Meja kedua untuk vaksin Sinovac. Para peserta, termasuk saya, bersiap-siap untuk disuntik jarum seperti vaksinasi pertama. Melalui lengan kiri.

Antrean kelima. Pada proses ini, saya menunggu penerbitan surat keterangan, yang membuktikan telah divaksinasi covid-19 sebanyak 2 kali.

Jadi begini, formulir yang telah diisi saat antrean pertama tadi, kemudian dibawa ke antrean kedua, ketiga, dan keempat. Semua form di dalamnya diisi oleh panitia pada masing-masing meja antrean. Formulir itu kemudian diserahkan bagian finalisasi data, hingga akhirnya dikeluarkan ‘surat keterangan telah divaksin’.

Beberapa menit kemudian, ‘surat keterangan telah divaksin’ itu telah ada di genggaman.

Dan akhirnya, vaksin kedua telah selesai.

Tibako: Tiga Bahan Pokok

Eh tunggu dulu! Mendekati pintu keluar gedung itu, ternyata ada panitia yang membagikan bingkisan. Bingkisan kecil itu berisi mie goreng 1 bungkus, top kopi saset 1 buah, dan vitamin c 2 renteng.

Saya mendapatkan Tibako itu dengan riang gembira.

Sudah vaksin, dapat ‘buah tangan’ pula. Terima kasih, Panitia.      

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: