Cinta Salah Sasaran (11)

Series Menanti Hujan di Negeri Kaktus Bagian Sebelas

***

Usiaku kini merangkak naik. Seperti biasa, jatah usiaku telah berkurang. Kini telah naik ke kelas tiga. Seluruh sahabat-sahabatku yang baik hati itu, pun berhasil dengan angka kenaikan yang cukup memuaskan, tetapi mereka tak bisa menandingi dalam meraih juara satu. Itulah sebabnya kenapa mata Purnama akhir-akhir ini terlalu aneh memandangku.

Purnama salah satu lelaki sekelasku. Ia selalu rajin belajar, hanya untuk mengalahkanku yang selalu meraih juara satu. Tetapi selalu tak berhasil karena beberapa kali bolos dan ada beberapa mata pelajaran yang tak dikuasainya. Akhirnya bentuk persaingan, yang tentu hanya Purnama saja melakukan itu—dialihkan menjadi satu tatapan yang aneh.

Aku ingat, ternyata Ponika sudah berulang kali mengatakan padaku, bahwa Purnama sepertinya jatuh cinta. Lantas membantah dengan berbagai argumentasi. Kukatakan padanya  bahwa anak kecil tidak mungkin begitu mudah jatuh cinta. Belum cukup umur dan belum paham soal cinta. Tetapi ia terus mengelak dan pula membantah. Ah, Ponika ingin memengaruhiku.

“Kau tahu, Nita, sepanjang pelataran sekolah tadi, bola matanya yang kebiru-biruan itu terus mengikuti jejak tubuhmu. Tahukah apa artinya itu?” tanya Ponika sambil tersenyum.

“Membenciku mungkin.” kataku.

No[1]! Itu bukan tatapan kebencian, Nita. Seperti ada magnet misterius yang nantinya akan menarikmu ke arah itu. Dan, dengan mudah melupakanku!” Aku heran dengan Ponika ini, tahu apa ia soal tatapan misterius?

“Sudahlah, lupakan tentang itu. Aku ingin mengatakan satu hal! Dan kau tak perlu berbelit-belit menjawabnya.”

“Apa itu?”

“Jujurkah kau akan menjawabnya, Ponika yang cantik dan tomboi?”

“In Sha Allah jujur.”

“Tahu apa kau soal cinta?” Ponika terdiam. Mulutnya seperti terjahit—begitu sulit untuk dibuka. Rupa-rupanya ia merasa terjebak dengan apa yang diutarakannya.

“Haaa …” tiba-tiba mulutnya menganga setengah.

“Iya, bagaimana?” Aku terus mendesaknya setelah sedari tadi mendesakku.

Tibalah kami di penghujung pelataran yang bisa dilewati tiga orang berjejer. Di sana, di luar pagar sekolah itu, banyak sekali anak-anak yang berebutan jajanan di pinggiran jalan. Hanya dua yang pasti: lapar atau suka. Tetapi itu tidak masalah bagiku. Yang masalah adalah jawaban dari Ponika atas pertanyaanku belum juga menyambar gendang telinga.

“Bisa dijawab?!” tanyaku mendesak.

“Aku tak menemukan apa pun dari pertanyaanmu itu.”

“Maksudnya?”

“Maksudku relasi antara pertanyaanmu dan apa yang kusebutkan tadi—belum pernah terjadi padaku. Aku hanya membaca di sebuah majalah di perpustakaan yang sering kita kunjungi. Di sebutkan di majalah itu, bahwa jika seorang lelaki atau perempuan melirik secara terus-menerus dan lirikan itu tajam, lalu orang itu sesekali menelan air liur dengan khidmat, maka bisa dipastikan, ia telah jatuh cinta pada objek yang dilihatnya,” katanya seolah mengguruiku.

“Serius sekali kau membaca majalah itu! Kau paham baik-baik ya?”

“Hanya mengingatnya sedikit-sedikit!”

“Lantas, bagaimana kau bisa membandingkan antara teori dan praktik? Anggap saja, Purnama yang kau sebut jatuh cinta padaku. Bisakah kau melogikakannya?”

Ia kembali tersenyum. Jantungnya berdentum. Matanya sedikit melirik ke kiri dan ke kanan. Kami terus berjalan, mengikuti trotoar-trotoar jalan yang berlubang-lubang. Aku memerhatikan di sekeliling, pohon-pohon telah mengering. Melihat ke atas, langit tak penghalang. Ketika tatapan dialihkan ke belakang, Purnama mengendap-endap di bunga-bunga yang layu dan sebagiannya telah mati. Aku mulai khawatir, jangan-jangan apa yang dikatakan Ponika betul adanya(?) Ia lantas mengagetkanku.

“Matanya, Nit! Matanya! Kau tahu, mata pria lain yang melihatmu itu sungguh berbeda dengan mata Purnama. Ada aura cinta yang keluar. Dan mungkin, keunggulanmu di kelas lah yang membuatnya jatuh cinta.”

“Yang aku tak ngerti masih kelas 3 SMP kok sudah tahu soal jatuh cinta ya?”

“Cinta bisa menyasar siapa saja, Nit.” Ponika seketika berubah menjadi sang pujangga cinta, “apalagi dunia remaja seperti kita. Itu yang disebut sebagai puber. Puber dapat menyerang di usia sekarang. Nah, kemungkinan lain adalah, kemolekan wajahmu yang cantik. Hahaha …”

“Hhmmm … aku tak peduli. Biarkan saja ia kelepak-kelepak. Memang aku pikirin, gituu? Sesuai mimpi awal, bahwa sebelum mencapai kesuksesan meraihnya—tak  akan pernah bersentuhan dengan lelaki yang tak muhrim.”

“Tapi kau tak bisa mengelakkan perasaan, Nit!”

Tiba-tiba Ponika mengintervensi perasaanku. Apa pedulinya aku jatuh cinta jika dibentengi dengan mimpi-mimpiku dan ibu? Aku akan perlihatkan pada Ponika, bahwa suatu waktu aku sukses meraih mimpi dengan cintaku sendiri yang aku tak tahu siapa orangnya. Dan, atas kuasa Tuhan tentunya.

Tetapi di satu sisi, aku menjadi penasaran atas majalah yang pernah di baca Ponika. Pantas saja ia selalu mengajak ke perpustakaan meski ada tugas sekolah yang harus diselesaikan. Rupa-rupanya target itu adalah meningkatkan pengetahuan tentang cinta. Cinta yang baru kukenal dari mulutnya beberapa menit yang lalu. Selama ini yang kukenal adalah tentang kasih sayang. Kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. Itulah ibuku. Mungkinkah ibu cinta kepadaku?

Ibuku pernah bercerita sebelum senja tiba di musim buah rambutan tempo hari. Ketika seekor kucing baru saja menyusui anak-anaknya, di titik itulah ibuku mulai bercerita, bahwa seorang ibu, tak pernah habis kasih sayang kepada anaknya. Orang tua mana yang kejam memangsa anaknya? Orangt ua mana yang rela melihat anaknya menderita? Tak ada! Itulah kenapa aku sangat sayang anak-anakku. Dan kau, Nita, kasih sayangmu kepada siapa pun itu, jangan kau hilangkan termasuk pada hewan sekalipun.

Di situlah Purnama menyalah artikan kasih sayangku kepada seluruh teman-teman di sekolah, apalagi teman sekelas. Tiap kali kutunjukkan kelemahannya dalam mengerjakan tugas dari guru, dikiranya aku cinta sebagaimana diungkapkan Ponika. Padahal, kasih sayang ini adalah wejangan dari ibuku yang harus aku turuti.

“Perasaan apa yang hendak aku elakkan, Pon?”

“Perasaan cintamu kepada seseorang?”

“Aku akan tepis dengan mimpi-mimpiku, Pon!”

Tiada lagi yang bisa dikatakan Ponika selain hendak mengajakku ke perpustakaan sebentar nanti. Aku tidak terkejut tentunya, sebab ia begitu rajin ke perpustakaan. Dan, aku ingin mencicipi majalah yang pernah dibacanya itu.

Kutengok ke belakang, ternyata Purnama telah menghilang, entah sedari kapan. Aku tak berani memikirkannya lebih lama, sebab bisa-bisa ada masalah di kehidupanku di kemudian hari. Ah, entahlah!

Sebenarnya, aku sudah buat komitmen terhadap diri sendiri, bahwa tak pernah ingin jatuh cinta kepada seorang lelaki sebelum mimpi tercapai. Tetapi, bagaimana soal teori yang dikatakan Ponika tadi? Bagaimana jika kecolongan—tiba-tiba dengan mudah jatuh cinta? Kan jalan untuk menembus itu sudah ada. Adalah Purnama, seorang lelaki se-umuran denganku, yang diam-diam, kata Ponika telah jatuh cinta. Bisakah meredamnya dengan cara mengabaikan? Bahwa segala sesuatu yang kubuat padanya adalah semata-mata hanya kasih sayang sesama teman sekelas. Bahkan seekor kucing pun diperlakukan seperti manusia: memberikan makan; minum; menidurkannya dengan damai; bahkan sampai memandikannya hingga bersih. Itu kan bentuk kasih sayang terhadap makhluk hidup selain manusia. Ke pohon pun demikian.

Tentu Purnama telah salah jatuh cinta. Jika betul apa yang dikatakan Ponika itu, maka cinta Purnama telah salah sasaran. Dikiranya aku perempuan yang mudah jatuh cinta dalam artian—hubungan istimewa. Tidak. Tidak sama sekali! Itu mustahil! Sorenya, Ponika mengajakku ke tempat biasa: perpustakaan. Biasanya sehabis dari tempat ini, kami berkunjung ke bukit di mana bintang-gemintang melanglang-buana di langit biru. Sehabis itu, kami akan belajar bersama-sama di pelataran kos. Akhirnya, tak ada waktu yang benar-benar terbuang percuma.


[1] Tidak (dalam bahasa Inggris)

Selanjutnya baca Bagian Keduabelas

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: