Hikmah Masa Pandemi: Banyak Waktu Bersama Anak

hikmah-dimasa-pandemi-banyak-waktu-bersama-anak
Arumi dan kisahnya. Dokumentasi pribadi.

Hikmah masa pandemi Covid-19 begitu banyak saya dapatkan. Termasuk sejak anak kami lahir, Arumi, bahagia tiada duanya. Malam itu, diiringi rintik. Istriku berhasil berjuang. Sedikit berkeringat. Arumi ‘keluar’ dengan selamat.

Bidan membedongnya. Dengan kain pink. Saya mengucapkan salam. Anak kami berbaring di keranjang bayi. Tak jauh dari ibunya. Saya mengambilnya. Mengangkat. Mengarahkan kepalanya ke arah kiblat. Azan bagian telinga kanan. Iqamat bagian kiri. Mengenai mengazankan bayi baru lahir, mayoritas ulama menyetujuinya.

Seperti saya kutip dari NU Online. Banyak ulama sepakat, mengumandangkan azan sebelum melaksanakan salat itu diisyaratkan. Namun berbeda pendapat apabila azan tersebut ditujukan untuk selain salat. Seperti azan untuk bayi yang baru dilahirkan. Ulama bermazhab Hanafi, Ulama Mazhab Syafi’i, dan Ulama Mazhab Hanbali, berpendapat mengazani bayi hukumnya sunnah.

Saya menulis ini. Air mata menetes. Mengingat-ingat sejak kelahirannya. Sehari kemudian dari Klinik Persalinan. Membawanya pulang ke rumah. Kami mengurus berdua. Bermain dan bercanda dengannya.

Menentukan Nama

Memasuki trimester ketiga kehamilan Istri. Kami sudah mencari referensi nama yang bagus. Setelah dijumlahkan, ada 20-an calon nama. Kami bingung. Lalu melupakannya.

Hari-hari berikutnya, kami kembali membuka catatan di handphone. Rupanya masih ada ‘masalah’. Tentang penentuan nama. Kembali membahasnya.

Setiap kali membahas, menemukan titik buntu. Masing-masing mempertahankan argumentasi. Mulai yang masuk akal sampai keluar akal. Di sisi lain, terus berganti hari. Perkiraan kelahiran semakin mendekat. Kami harus menuntaskannya.

Perdebatan itu sengit. Kami tahu, memilih nama untuk anak mesti dipertimbangkan. Sangat hati-hati. Kami menghindari memberikan nama yang sudah umum. Atau menghindari nama yang tidak terkait dengan agama yang kami anut.  

Atau kami tidak menginginkan nama yang terlalu pendek. Juga tidak terlalu panjang. Nama adalah doa dan harapan. Untuk itu, kami memilih nama yang baik dari semua aspek.

Untuk itu, kami berkesimpulan. Memberikan nama anak kami Arumi. Lengkapnya tak perlu saya sampaikan di sini.

Mertua Saya Ingin Menggunakan Jasa Bidan

Sehari setelah kami tiba di rumah sedari klinik persalinan, Mertua menghubungi. “Pakai jasa bidan untuk memandikan Arumi!” begitu pintanya. Masing-masing orang tua kami di kampung. Orang tua seolah tak memercayai kami mengurus Arumi.

Kami menolak. Alasan kami bermacam-macam. Satu alasan yang krusial. Di Jakarta, penyebaran Virus Covid-19 masih kritis. Kami tidak mau ambil risiko dengan memasukkan orang lain ke rumah. Bisa saja orang tersebut terinfeksi virus. Orang tua kami setuju. Masuk akal.

Berbekal tonton di Youtube, Istri saya berani memandikan. Lumayan. Nyaris sesuai dengan video itu. Alhamdulillah tidak ada masalah.

Beberapa hari dilakukan. Rutin. Orang tua yakin. Istri bisa memandikan Arumi sendiri. Menggunakan jasa bidan batal.  

Satu Bulan Awal

Arumi menjadikan saya paham jenis pampers bayi. Tissue. Pun perlengkapan bayi lain. Begitu banyak jenisnya. Ukurannya. Tingkat kenyamanannya.

Kami sudah mencari referensi. Saya tahu jenis apa yang harus dibeli. Dan itu berkat Arumi. Saya berkeliling. Menyusuri rak-rak supermarket. Setiap ke supermarket itu, kasir sudah tahu. Sasaran utama saya adalah rak tempat pampers. Pada masa ini, kami belum pesan online.  

Dua minggu setelah melahirkan. Saya memutuskan untuk tidak beraktivitas di luar rumah. Membantu Istri mengurus Arumi. Pada awal-awal ini, kami kerepotan.

Jam tidurnya tidak menentu. Adakalanya tidur siang. Kadang-kadang tidak. Beberapa kali tidur menjelang subuh. Kami ikut begadang. Lengkapnya, Istri yang sering begadang.

Ketika menangis, segala cara kami lakukan. Mengetahui letak mengapa menangis. Apabila satu cara tidak menghentikannya menangis, maka cara lain harus dicoba. Sampai harus ditimang sembari berjalan. Berputar putar di segala penjuru rumah. Tidak boleh menyerah. Hingga akhirnya tertidur.

Satu waktu. Perutnya kembung. Membuatnya tidak nyaman. Rewel. Menangis. Menurut referensi yang kami baca, itu wajar. Saluran pencernaan bayi belum berfungsi secara sempurna. Kami sedikit tenang.

Kami melakukan berbagai cara. Mencoba mengatasi perut kembung itu. Mencari referensi. Membaca. Dengan cepat. Dipraktikkan. Satu per satu kami lakukan adalah:

  1. Kami meletakkan Arumi di tempat tidurnya. Dalam posisi telentang. Kedua kakinya diayun. Layaknya mengayun sepeda. Sesekali berontak. Kami terus mencobanya.
  2. Selain mencoba hal di atas. Kami memijat perutnya. Tepatnya Istri saya. Tangan Istri tidak kasar. Dia lakukan dengan cara pelan. Lembut. Searah jarum jam. Ini membantu mengeluarkan angin dari perutnya.
  3. Salah satu membuat perut kembung, karena saat menyusui, tubuhnya datar. Seharusnya kepala lebih tinggi dari perut. Setelah mengetahui hal itu, Ibunya mengubah cara dan tata letak tubuh Arumi saat menyusui.
  4. Cara lain adalah menggendongnya. Mengajak jalan-jalan mengitari rumah.   
Memasuki Usia Dua Bulan dan Hari-hari Setelahnya

Arumi sudah mulai ngomel-ngomel. Apa saja diceramahinya. Tentu saja menggunakan bahasa bayi. Saya lebih senang menimangnya. Berbicara dengannya. Menyanyikan lagu-lagu yang entah lagu apa. Arumi lebih senang ditimang. Diayun-ayun. Menyanyi. Cepat sekali tidurnya.

Jika mandi, Arumi gembira. Melihat bak mandi saja kegirangan. Ketika diangkat dari bak mandi itu, siap-siap kuping berdengung mendengarnya menangis. Arumi ingin selama mungkin mandi. Ibunya tidak mengizinkan. Nanti masuk angin. Tapi Arumi tidak peduli.

Saya menyatakan, “Arumi ketika besar nanti, akan merasakan mager dan malas mandi.” Dia hanya menengok. Sebentar saja. Lalu menangis lagi.

Ibunya cepat-cepat membungkus handuk. Mengenakan pakaian. Dipeluk. Jalan-jalan di rumah. Dengan begitu Arumi tenang.     

Hikmah Masa Pandemi: Banyak Waktu Bermain dengan Arumi

Pandemi Covid-19 banyak hikmah yang didapatkan. Menyiapkan dana darurat. Kata lain tabungan. Salah satu hikmah yang dapat saya ambil adalah punya banyak waktu dan bisa melihat perkembangan Arumi dari hari ke hari. Masa pandemi tahun 2020. Sendiri. Berdiam di rumah sendiri. Kini telah bertiga di rumah ini.

Sejak usia Arumi 2 bulan, saya memutuskan tidak keluar rumah. Untuk urusan mendesak saja keluar rumah. Situasi pandemi semakin kritis.

Kesempatan ini lebih banyak saya habiskan bersamanya. Bermain. Membuatnya tertawa. Kesal. Menangis. Ketika sudah menangis lalu dipeluk.

Setiap pagi kami punya jadwal berjemur. Di atas pukul 6. Di bawah pukul 9. Kami melakukan sesuka hati. Beberapa kali absen. Arumi kesiangan.

Kami mengitari halaman rumah yang kecil. Berjalan di bawah pohon jambu. Melihat daun dan buah jambu yang hijau. Senyum Arumi merekah.

Sore hari. Rumi bersantai di teras rumah. Memerhatikan kucing-kucing berkelahi. Berebut makanan. Bermain. Melompat. Mencakar balok. Sadel motor kesayangan saya.

Melihat orang-orang lewat. Menyaksikan anak-anak tetangga bermain. Berlarian. Berteriak-teriak. Menyapa Arumi. Dari kejauhan. Memandangi Mamang-mamang hebat jualan bakso. Atau buah. Atau sayur. Dan Mbak-mbak penjual donatnya donat.

Arumi juga kadang memilih bersantai di-stroller. Rebahan. Mengayun kaki. Mengangkat sedikit kepala. Tertawa. Sudah bosan, menangis. Meminta dipeluk.

Malam hari. Kami bermain, apabila tidak ada pekerjaan mendesak. Mencari strategi jitu membuat Arumi tertawa. Jadwal tidurnya tidak menentu. Pukul 19.00 sudah tidur. Bangun larut malam. Adakalanya tidur larut malam.

Awal Agustus. Saya benar-benar menyaksikan sendiri bagaimana Arumi bisa tengkurap sendiri. Sebelumnya masih memerlukan bantuan. Saya dan Ibunya tepuk tangan. Bangga. Hikmah masa pandemi ini memang luar biasa.

Sekaligus Khawatir

Saya dan Ibunya sebenarnya memiliki rasa khawatir. Pandemi penyebabnya.

Kami khawatir. Sejak kelahirannya, hanya dua kali keluar rumah. Hanya untuk keperluan imunisasi pertama dan kedua. Imunisasi selanjutnya, dengan terpaksa kami memanggil bidan ke rumah.

Pernah mengajak jalan menggunakan stroller di kompleks kami tinggal. Trauma muncul. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu menyapanya. Memegang pipi dan tangan. Tanpa menggunakan masker. Dari kejadian itu, kami berpikir seribu kali untuk mengajaknya jalan di sekitar kompleks. Kecuali pandemi telah tamat. Mungkin ketika sudah meredah.    

Kami memahami dampak jika Arumi jarang diajak bermain di luar. Di tengah situasi pandemi seperti saat ini, tidak memiliki pilihan. Baiknya berdiam diri di rumah. Kami pun hendak menyegarkan otak di luar.

Itulah hikmah masa pandemi ini yang saya dapatkan. Semoga bermanfaat.

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: