Hujan dan Mimpi (9)

Akhirnya kau naik ke kelas 3. Ponika, Susi, Widya, Siti Maimunnah, juga berhasil naik kelas. Tetapi Widya dan Sitti Maimunnah tidak mendapatkan juara kelas. Sementara aku meraih juara 1, dan Ponika juara 2.

Aku memang cukup gembira. Rupanya, semangatku yang mengendur di tahun ini, tak menurunkan prestasi. Biarpun lebih banyak mengeluh, tetapi tak salah jika melampiaskan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Masih seperti biasa, orang-orang di kota ini, yang dialiri sungai di tengah-tengahnya, yang biasanya buaya sering merangkak di tepian: masih merindukan hujan yang kian lama-kian pupus. Orang-orang berpendapat, bahwa hujan akan turun di akhir tahun ini. Sementara saat ini, masih di bulan Agustus.

Mangge Robuka, sang penjaga Kos Sundulut, sepulang sekolah kulihat mulutnya komat-kamit entah apa yang dibacanya di teras kamar—sama besar dengan kamarku. Ketika berkunjung ke rumah Pak RT, dapurnya pun kini berasap dan sedang membakar beberapa genggam garam. Kata dia: untuk mengundang hujan. Tetapi berkali-kali ia lakukan itu, hujan tak juga hadir.

Pemerintah kota berencana membuat hujan buatan—menyewa helikopter milik seorang pengusaha penerbangan di Jakarta—dan tentu menyiram seisi kota yang berdebu—mengakibatkan penyakit ISPA. Kemudian setelah itu, akan menyiram tanaman petani yang masih berani menanam di musim hujan. Mereka masih juga berani menanam sehingga  mengalami gagal panen. Kerugian para petani yang diderita luar biasa. Akhirnya mereka jatuh miskin lagi. Kebanyakan dari petani itu beralih profesi menjadi tukang jahit, tukang ojek, bahkan ada yang merantau ke kampung. Mungkin di kampung kerap hujan, sebab terdapat di pinggiran gunung yang jauh seperti kampungku.

Sekarang aku sedang berada di sebuah gedung yang hampir tiap hari dikunjungi: Badan Meteorologi dan Geofisika. Kali ini ingin bertemu dengan seorang wanita muda berhijab—telah menggantikan posisi seorang tua, yang telah meninggal akibat serangan jantung tempo hari. Sebenarnya, aku tak ingin lagi ke tempat ini—tetapi kemudian, pikiran menguap, dan kaki melangkah di gedung ini. Dari taut wajahnya, tampak bosan melihatku—entah kenapa. Tetapi, tak ada angin pun hujan, tiba-tiba saja ia mengatakan bahwa “Akhir tahun, Dek!”

Aku tentu termangu-mangu. Sejak kapan bertanya? Kemudian ia melanjutkan satu celoteh yang membuatku tambah termangu, bahwa: sebenarnya ini sudah tak adil. Kota ini sudah berbulan-bulan tak tersentuh air hujan yang banyak. Yang hadir hanyalah embun di pagi hari. Apalah gunanya embun itu?

Sinta, begitu aku menyebutnya. Tak sukalah ia dipanggil ibu atau kakak.  Ia tak memberi alasan, namun sesuatu yang hitam melingkar di bawah mata—perkiraanku, perempuan cantik ini menghabiskan waktu malam menyambut siang di depan layar-layar komputer tua—membuat kasihan padanya.

Aku mengingat pernyataan Sinta: akhir tahun. Artinya, beberapa bulan lagi, menurut alat canggih yang tiap hari dipandanginya itu: akan turun hujan. Ribuan bahkan triliunan titik. Kukatakan padanya, bahwa siapa pun itu, garis Tuhan tak bisa dilewati. Sinta menganga. Ia seolah gusar. Memandangiku, tetapi bukan sebagai seorang musuh. Senyumnya mengumbar. Pelan, dan merekah.

“Hahaha …” bahaknya meledak.

Sungguh aku tak mengerti. Tetapi, seketika tawaku pun meledak—menyebar ke sudut-sudut ruangan. Kami pun berbalas-balasan tertawa. Mungkin senasib dianugerahi tubuh yang cantik; berlesung pipit hampir serupa; dan gigi tersusun rapi. Bedanya, ia tak memiliki tahi lalat di dagu, atau bahkan di wajah—itulah sebabnya, dari segi kemanisan ia kalah denganku.

Seorang menggagalkan tawa-tawa besar lalu mengecil, dari arah pintu masuk. Ia mendehem pelan, bertambah dengan entak kaki yang beralaskan sepatu slat shoes—begitu nyaring. Seketika kami menengok. Di sana, ah, Ponika berdiri mengangguk lalu menyapa pelan—suaranya parau—bahwa aku dicarinya hingga mengetok pintu Susi dan Widya, tetapi tak ada—rupanya kau di sini.  Ia tergopoh-gopoh berjalan, setelah berhasil meraih meja yang tak jauh dariku.

 “Adik-adik sayaaang … banyak-banyak-lah berdoa. Semoga Allah berbaik hati dengan orang-orang di kota ini. Kota Kaktus yang kekeringan,” kata Sinta.  

Bibir Ponika sedikit mengernyit. Dalam hatinya berkata, bahwa hampir tiap malam berdoa. Mungkin ia sedang melawan kekuasaan Tuhan. Lantas, entah kenapa, aku berpikir, untuk pulang kampung dan menyuruh ibu berdoa—meminta hujan.  Sebab, doa nya tampak mujarab. Pasti terkabul, pikirku dalam hati.

Ah, tidak! Biarkan saja keresahan orang-orang di kota ini berkepanjangan. Toh, di gurun pasir Timur Tengah, begitu panas, tak ada yang mengeluh—sependengaranku. Masih banyak yang bertahan hidup di sana. Menaiki unta-unta terbaik dengan gagahnya di tengah gurun itu. Sepertinya tidak ada masalah.

***

Ada tiga buah meja dalam ruangan itu: meja yang berwarna keemasan mengkilap—di atasnya terdapat banyak berkas-berkas dan satu komputer tua, serta bunga-bunga palsu, merah, sedikit wangi. Di baliknya, Sinta duduk manis; meja kedua, agak sedikit bergoyang, pakunya tak kuat mematok untuk menempelkan belahan-belahan kayu, hingga Bu Sutimin tampak gelisah ketika menaruh benda-benda berat di atasnya; dan meja ketiga itu, adalah meja terburuk, berdebu, dan banyak kotoran cecak hitam-hitam bercampur putih di ujungnya. Itu adalah meja arsip surat.

Katanya tak ada yang bisa menyentuh surat-surat itu selain staf. Nah, yang bisa kami sentuh dan selalu tongkrongi adalah mejanya, kami bebas, kecuali tidak bisa melakukan sesuatu tanpa instruksinya. Pun, mengambil barang-barang di tempat itu. siapa juga yang ingin mengambil tanpa seizin? Itu kan namanya mencuri.

***

Kami minta pamit untuk pulang. Dengan berat hati Sinta melepas pergi, sebab dengankulah ia tertawa lepas. Ia ingin kami tetap bersama di tempat ini sampai seterusnya. Tetapi aku mengatakan, bahwa ada sesuatu yang harus dikerjakan. Dan tentunya, dengan senang hati akan datang lagi.

Ponika sedikit basa-basi, ia mengucapkan terima kasih, dan mengajak Sinta agar meluangkan waktu mengunjung Kos Sundulut. Alasannya masuk akal: tak jauh dari gedung ini. Ya, betul, kata Sinta, tetapi satu hal yang perlu kalian tahu, bahwa pekerjaanku terlalu berat. Setelahnya, aku harus istirahat. Namun jika sewaktu-waktu ada luang, sediakanlah secangkir teh manis dan kue bolu. Aku pasti senang. Ia terbahak-bahak lagi.

“Baiklah, kami pamit, ya!” kataku.

“Hati-hati …,” hanya itu yang sempat aku dengar ketika kami sudah berbalik badan menuju ke sebuah taman di belakang gedung itu.

Aku sendiri masih heran, kenapa Sinta belum juga melakukan satu proses sakral: pernikahan. Padahal ia cantik dan kadang-kadang baik. Ah, anak sekecil aku kok memikirkan hal-hal seperti itu. Mestinya membuat planning tentang meraih mimpi-mimpiku ….

***

Malam ini aku tidur lebih awal. Mungkin karena lelah karena seharian bermain di pantai yang banyak sampahnya itu.  Ya, meski laut membiru dan pasir memutih—mengkilap-kilap tatkala sinar matahari menabraknya, tetapi sampah masih suka memangkal di sana—yang kian hari kian bertambah. Mungkin petugas kebersihan tak ada yang ditempatkan untuk membersihkan di pantai itu.

***

Dengan begitu riangnya, aku menyambut Ponika di depan kos yang memiliki  pohon berdaun kering; batangnya pecah-pecah akibat kemarau. Aku merasakan sesuatu yang teramat berbeda, setelah sekian lama menunggu. Hujan. Kami menanam pepohonan dengan sangat antusias. Pohon-pohon rica dan tomat kami tanah di belakang kos, sebagai bekal di kemudian hari.

“Nit … nita …,” begitu gembiranya Pon memanggilku sambil pula ia melompat-lompat menyambut rinai hujan bermilyar-milyar jumlahnya itu.

“Pon … Ponika …,” aku menyambutnya dengan tangan terbuka.

“Mari kita berdendang ria, menyambut butiran-butiran hujan ini. Rahmat Allah yang tak boleh disia-siakan, Nit …”

“Iya  … iya … semuanya hanya ada di hari ini. Esok mungkin sudah berbalas panas. Lihat sana, awan itu, saling kejar. Mereka begitu bahagia dalam hitamnya.”

Tak ketinggalan yang lain: Mangge Robuka, tersenyum-senyum tajam dan berjingkrak-jingkrak menyambut hujan. Seluruh orang-orang di kota ini, keluar rumah. Bukan main kerinduan mereka dengan butiran-butiran hujan yang hadir ke bumi. Bukan main bahagianya mereka yang tak terkira. Sementara aku, dengan kerabat-kerabatku, tidak kalah penting bahagianya. Dalam waktu cepat atau lambat, semua akan berakhir entah sedih atau berlanjut pada kebahagiaan. Itu tergantung bagaimana Tuhan menentukan segalanya.

Ponika seperti merengek-rengek dikala air muncrat tepat di wajahnya yang tomboi itu. Sesekali, ia memancungkan bibir tipisnya dan memajukan kepala entah apa maksud semua itu. Sesekali pula berjingkrak-jingkrak. Dan, di ujung sana, di pelosok kota yang tandus, hujan telah mengurung para pengendara motor yang kadang-kadang meminta hujan. Aku hanya heran saja, kenapa mereka tak keluar dari lindungan untuk menikmati titik-titik hujan ini. Semua orang menikmatinya, kok sekarang.

Guntur meledak-ledak di ujung langit sana. Kilat mengkilap-kilap memotret tubuhku yang tak pernah lepas dari hijab ini. Aku tak sukai dipandangi lelaki-lelaki jail yang bermain di tengah lapang, meski sesekali terhalangi oleh pepohonan yang mengering. Atau, di sekolah, banyak sekali anak-anak ingusan itu menggoda, hanya karena fisikku yang cantik. Ah, dasar anak-anak.

Kami tak henti-hentinya bermain di bawah kolong langit itu. Setelah beberapa meter kami beranjak hingga ke jalanan, kulihat begitu banyak orang bersesak-sesak di jalan, setelah kerinduan akan hadirnya hujan kini terpupus. Wah, luar biasa membludaknya manusia memenuhi jalan ini. Aku tak menyangka, begitu banyak juga orang-orang tua yang memakai songkok tertawa riang bersama istri tercinta dan anak-anaknya melompat-lompat di antara genangan air itu.

Ketika leherku memaksa untuk menengok ke arah barat daya, di sana, sekelompok orang bersujud syukur atas nikmatnya Rahmat Tuhan ini. Aku bisa perkirakan, mereka adalah petani-petani yang tersisa di pinggiran kota. Puluhan orang jumlahnya. Lima belas tahun lalu, kata Mangge Robuka, masih banyak petani, sebab gedung-gedung belum banyak berkeliaran di tengah-tengah kota, namun saat ini, zaman telah berubah, dan petani pun kian merosot.

Namun, ketika aku menengok ke arah timur laut, tiba-tiba matahari menusuk pada celah jendela kamarku—menyasar mata dan membangunkanku dari tidur. Rupanya sudah siang. Dan hujan tadi, adalah mimpi.

Dan, usiaku telah bertambah setahun. Berkurang juga setahun. Sebab, Tuhan pasti telah memberi jatah usia. Setiap bertambah, usia akan berkurang. Dan, aku tak pernah mengikuti tradisi-tradisi orang-orang di kota, yang ketika merayakan ulang tahun, luar biasa megahnya. Memecahkan balon-balon, mengundang orang banyak; membuat kue-kue mahal; dan masih banyak lagi. Di keluargaku, di kampung, tak punyai tradisi semacam itu.

Selanjutnya baca Bagian Kesepuluh

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: