Menerobos Lampu Merah (10)

Seorang perempuan cantik terlihat berbalik arah ketika diketahuinya ada razia kendaraan bermotor tak jauh di depan. Tampaknya, ia adalah anak seorang pejabat tinggi di kota ini, karena hanya anak pejabat yang selalu melanggar aturan lalu lintas. Lagi-lagi sebuah keegoisan  tampak di bola mataku yang bulat. Kepala seketika menggeleng-geleng.

Seperti biasanya, sepulang sekolah, aku dan Ponika mampir di sebuah perpustakaan kecil yang tak jauh dari Kos Sundulut. Biasanya kami menghabiskan waktu satu jam untuk sekedar membolak-balikkan halaman per halaman buku, atau mencari referensi mengerjakan tugas sekolah. Semua itu berproses apa adanya dan hampir setiap hari terjadi. Nah, jika sewaktu SD buku-buku di kampung begitu jarang, bahkan apa  yang kucari tak ada, di kota ini meski perpustakaan kecil, setidaknya banyak pilihan-pilihan buku yang memanjakan mata.

Ponika mengambil sebuah buku yang kira-kira ukuran 20×21 centimeter. Di sampulnya tertulis, cara cerdas untuk menjadi cerdas, tetapi aku tak tertarik yang membuatnya tertarik itu. Aku ingin mencari buku, cara merawat rica dan tomat. Jika ia protes aku mencari itu, aku akan bilang padanya, bahwa perlu teori khusus untuk membuat bagaimana tomat dan rica berbuah lebat. Jika di kampung-kampung, itu berdasarkan pengalaman yang tak dibukukan. Sekarang, bukunya ada, yang aku duga, ini berdasarkan pengalaman.

Dalam waktu sekejap, ia paham dan mengerti. Tetapi kemudian, ia betul-betul protes, sebab bagaimana mungkin menanam tomat jika kemarau masih tak kasihan di negeri kaktus ini! kukatakan padanya, suatu waktu akan bermanfaat.

Kami hendak pulang dan makan siang. Berjalan bergandengan tangan juga kebiasaan kami. Hilir mudik kendaraan begitu berat menyapa dua anak manusia ini. mungkin mereka juga sibuk mengantar tuannya. Lalu dengan tiba-tiba,  seorang perempuan muda tadi menyusup di antara kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti karena lampu merah. Niatnya akan menerobos lampu merah tersebut. Alhasil, sebuah mobil hitam yang entah apa namanya menabrak dari samping. “Pruuukk …” ia tergeletak di persimpangan jalan.

Seorang polisi berlari sekencang mungkin hendak menolong sang perempuan yang tak tahu diri menurutku. Diperkirakan, ia masih duduk di bangku kelas dua SMA. Ah, entahlah!

Sang polisi tadi segera melarikannya ke rumah sakit terdekat, karena dari kepala yang tak memakai helm itu, keluar darah yang mengental. Goresan di tangan pun begitu besar. Kakinya seperti tak bisa bergerak. Sepertinya patah.

“Kau tahu, kenapa mesti taat berlalu lintas, Pon?” tanyaku ketika kami berhenti dan melihat kejadian naas itu.

“Ya, agar selamat, kan?” jawabnya singkat.

“Lebih dari itu, agar orang-orang tak kesal melihat kita. Lihat saja tadi para pengendara yang diblejeti perempuan itu: mana ada yang menolong? Sudah tahu lampu merah, masih juga diterobos, tidak memakai helm lagi. Dasar gila!” kataku.

Tetapi, sesungguhnya, aku kasihan dengan sang putri tadi. Mungkin ia buru-buru untuk menghadiri sesuatu, atau ada pesanan yang harus segera diantarnya—sehingga dengan alasan itu ia harus menerobos lampu merah—sebagai tanda larangan.

“Lantas bagaimana pendapatmu terhadap perempuan perawan tadi?”  tanya Ponika sambil pula kami berjalan yang sudah mendekati Kos.

“Ini sebenarnya pertanyaan yang sulit. Tetapi, jika berasumsi secara subjektif, maka bisa dikatakan ia itu serakah. Apa pun alasannya, tak bisalah menerobos lampu merah selain dari yang dikecualikan oleh peraturan. Pernah kubaca di sebuah mading bahwa yang bisa menerobos lampu merah itu salah satunya adalah mobil pemadam kebakaran. Kedua, mobil ambulance yang membawa orang sakit. Nah, perempuan tadi tidak masuk pada kriteria itu, malah menerobos, akibatnya fatal kan?!” jelasku.

“Tetapi, siapa tahu saja ia ada keperluan yang mendesak, menolong orang yang jika tak ditolongnya akan mati, mungkin …??“

“Itu bukan sebuah alasan yang rasional, menurutku, Pon. Hanya mengada-ada. Yang selamat atau tidaknya, itu ya ditentukan oleh dia sendiri dan juga Tuhan. Jika ceroboh, nyawa taruhannya.”

Aku juga baru ingat, ternyata beberapa bulan lalu, ada beberapa polisi-polisi cantik yang menurut perkiraanku belum mempunyai anak, masuk ke kelasku untuk memberikan sosialisasi pentingnya taat berlalu lintas. Dengan secara sederhana polisi cantik itu mencoba menjelaskan di hadapan puluhan siswa-siswa di kelas. Antusias otak kiri dan kanan pun menyeruak. Hal yang paling kuingat adalah, anak-anak sekolah seumuran sepertiku, belum bisa mengemudikan motor, apalagi di jalan raya. Sebab, belum bisa memiliki Surat Izin Mengemudi.

Aku lantas berpikir, bahwa jangankan memakai motor, membeli motor saja, orang tuaku tak mampu. Ah, tiba-tiba aku terpikir sepeda Kakek Semaun yang buntut itu,  di dalam kelas. Satu-satunya kendaraan modern adalah sepeda milik Kakek Semaun. Katanya, belum lahir seorang yang bernama Nita Nur Fitri, sepeda itu sudah di tangan Kakek Semaun—yang dibeli di sebuah toko yang entah di mana tempatnya—dari hasil gajinya sebagai PNS. Maka ketika aku pertama kali di kota ini, kepalaku terasa pening melihat kendaraan yang aneh-aneh.

Mata seorang polisi wanita itu mengarah padaku. Papan namanya tepat di dada kiri, tertulis Amelia. Ia berkata, bahwa perempuan cantik, dan seusiaku belum cukup umur untuk mengendarai sebuah motor dengan gagah di jalanan raya. Apalagi, ugal-ugalan. Itulah sebabnya, kenapa aku sedikit mengecam seorang putri tadi menerobos lampu merah.

“Lantas, kau tidak kasihan dengan perempuan tadi?”

“Kasihan, iya. Tapi kukira, kau sepakat untuk sedikit mengecamnya, sebab ia tahu bahwa lampu merah tanda berhenti sejenak—yang tentu dibuktikan semua pengendara itu berhenti. Tetapi masih memaksa dengan melaju dan kurang ajar. Orang tuanya juga bisa disalahkan. Masa anak itu dibebaskan memakai motor sendiri di jalan raya. Ibu Polisi Wanita lalu pernah bilang ke kita kan, di dalam kelas?”

“Iya, sih, tapi kenapa kita tidak membantunya tadi?”

“Loh, polisi tadi dengan cepat mengangkat, kita belum sampai ke lokasi kejadian, polisi sudah membawanya pergi.”

“Apa yang bisa dipetik dari kejadian tadi, Nit?”

“Menurutmu?”

“Loh, kan aku bertanya lebih dulu.”

“Kamu dululah yang jawab!”

“Tidak bisa, itu pertanyaan berasal dariku. Dan kutujukan padamu. Jadi, mestinya kau yang jawab!”

“Semua tergantung pada kesadaran tiap-tiap manusia. Bahwa jika ia sadar tak boleh menerobos lampu merah—bertanda larangan untuk melanjutkan perjalanan, kemungkinan tak terjadi kecelakaan.”

“Mungkin anak gadis itu tak tahu arti lampu merah?”

“Loh, sudah berapa lama memang dia tinggal di kota kaktus ini? Lalu, kenapa ia tidak berhenti ketika semua kendaraan berhenti? Itu hanya sebuah alibi yang tak masuk di akalku.”

Kini, kami telah tiba di kos. Biasanya kami disambut oleh anak-anak kos lainnya yang pulang lebih dulu, tetapi kali ini, batang hidung mereka tak tampak di pelopak mata yang bulat.

Ketika aku dan Ponika telah merapat di depan pintu kamar masing-masing, Widya berteriak dan mengagetkanku. Lalu ia berlari sempoyongan hingga menembus taman yang gersang. Ketika tiba di depan, ia berucap, bahwa telah terjadi kecelakaan. Aku kaget begitu pun Ponika. Perasaan menjadi tak enak.

“Katanya kecelakaan tepat di perempatan lampu merah,” ujar Widya yang masih ngos-ngosan itu.

Jangan-jangan seorang putri tadi yang kecelakaan? Tapi, ah, tak mungkin, sebab, jika memang dia, pasti kukenal. Tetangga mana yang tak kukenal? Aku berbisik-bisik dalam hati, hari ini satu kulihat dengan mata kepala sendiri terjadi kecelakaan di lampu merah. Dan kali ini, Widya memberitakan pula kecelakaan di lampu merah. Ada apa ini?

Widya memaksaku untuk melihat orang yang kecelakaan dimaksud itu. Ya, ternyata tetangga kos kami. Pak Minurman. Ia baru saja menabrak seorang perempuan muda yang menerobos lampu merah. Akhirnya, tangan patah seperti patahan tebu. Dada terasa sesak. Ia baru saja ke rumah sakit, tetapi ia ingin pulang ke rumah sendiri.

Pak Minurman bercerita, bahwa ada seorang anak perempuan yang menyenggol setir motornya bagian kanan. Akhirnya oleng, dan tak bisa dikendalikan. Jatuh, dan tersuruk di aspal menghitam. Ia resah. Menjerit. Di depan matanya, perempuan itu tak terjatuh dan pergi melaju. Terus menarik gas seperti sedang berada di arena balap. Ia ingin berteriak, tetapi seluruh tubuh terasa sakit, dan darah banyak mengalir di aspal itu.

Orang-orang menolongnya dengan gesit. Ada yang mengejar perempuan tadi, tetapi pengemudinya kalah cepat. Ia terus bercerita, hingga pada ciri-ciri sang penabrak. Katanya, perempuan itu berambut agak berombak, tak memakai helm. Jaketnya kecokelatan. Dari arahku, lampu telah menghijau, dan dari arahnya, telah memerah, tetapi ia menerobos. Awalnya aku sempat menghindar, namun karena kecepatan tinggi dari kanan itu, setirku tersenggol.

Rupa-rupanya, perempuan yang mengakibatkan Pak Minurman menderita itu adalah, perempuan yang kecelakaan tadi di lampu merah. Kata orang-orang, ia adalah anak salah satu pejabat di kota ini. Perkiraanku tepat.

Selanjutnya baca bagian kesebelas: Cinta Salah Sasaran

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: