Protokol Kesehatan di Rumah, Perlukah?

menjalankan-protokol-kesehatan-di-rumah-perlukah
Dokumentasi Pribadi.

Menerapkan protokol kesehatan di masa-masa Pandemi Covid-19 saat ini sungguh memusingkan, bikin repot sekaligus mengkhawatirkan. Data per 15 Agustus 2021 saja, untuk Indonesia, sudah mencapai 3.854.354 terkonfirmasi positif Covid-19. Sebanyak 3.351.959 sembuh, dan 117.588 dinyatakan meninggal.

Sementara untuk data global dalam waktu yang sama di 223 negara, terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 205.338.159, meninggal sebanyak 4.333.094 jiwa.

***

Masing-masing punya standar penerapan protokol kesehatan di rumah. Protokol kesehatan dimaksudkan agar terhindar dari amukan si Covid-19 itu.

Untuk aktivitas di luar rumah, kita sudah punya panduan dari ahli dan pemerintah yang informasinya bisa didapatkan melalui release Kementerian Kesehatan.

Ada yang pasca dari luar langsung masuk ke rumah, tanpa melepaskan atribut, selanjutnya beraktivitas kemudian mandi. Ada juga mandi terlebih dahulu sebagai urutan pertama. Tapi ada juga yang tidur dulu. Ini yang parah. Kemungkinan dia jomblohhh.

Penerapan prokes, vaksinasi, dan embel embelnya itu, dilakukan sebagai bentuk ikhtiar agar terhindar dari kekejaman Covid-19 sampai dengan 2021 ini.

***

Bagi saya, sebelum menerapkan prokes di rumah, memastikan prokes di luar rumah dijalankan dengan baik. Meski kadang kadang lalai.

Namun demikian, ada ada saja kejadian di luar dugaan—misalnya tiba tiba ada orang yang lewat di depan saya—tanpa menggunakan masker sembari ngoceh ngoceh. Meskipun saya memakai masker, tetap saja khawatir.

Kalau mengalami kejadian seperti itu, saya memberitahu Istri, sehingga untuk beberapa hari, wajib jaga jarak sampai benar benar yakin tidak terinfeksi.

***

Bagaimana standar saya untuk prokes di rumah?

Kesatu, ketika tiba di rumah, cuci tangan—kebetulan ada kran khusus cuci mencuci bagian samping rumah. Masker dibuang di tempat sampah khusus. Pakaian bagian luar langsung direndam. Kecuali celana.

Setelah itu apakah langsung masuk? Tidak. Sebat dulu sebatang.

Kedua, saya biasanya langsung mandi dan merendam seluruh pakaian bagian dalam, pakai sabun atau tanpa sabun.

Ketiga, apabila ada paket kiriman, saya meminta kurirnya untuk simpan saja di pagar, atau kalau pagar tidak dikunci, kurir simpan di teras.

Paket ini dilakukan dua kali penyemprotan, khusus non-makanan: (1) disinfektan racikan sendiri. Setelah disembur, biarkan tergeletak pasrah di luar untuk beberapa jam bahkan sampai sehari. (2) sebelum diijinkan masuk, disemprot pakai disinfektan yang dibeli di mart mart. Setelah melalui proses itu, paket dipersilakan masuk.

Hal hal demikian dilakukan, karena ada beberapa kasus, virus masih nongkrong pada barang dalam waktu yang lama.

Keempat, benda benda yang sering disentuh, disterilkan menggunakan disinfektan, kecuali handphone, lap pakai handsanidatizainateler.

Kelima, di rumah saya tetap pakai masker.

Keenam, lagi lapar. Mandi dulu.

Baca juga: Vaksin Sinovac, Enam Kali Gagal, Akhirnya Divaksin

Rifai Hadi

Pengagum sunyi, penikmat kopi, dan tidak suka lebai | saat ini berprofesi sebagai Advokat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: