Rindu dengan Dai Sejuta Umat

dai sejuta umat
K.H. Zainuddin, MZ dijuluki sebagai Dai Sejuta Umat. Sumber gambar: Tempo.co

Dai sejuta umat adalah julukan yang diberikan umat kepada almarhum K.H. Zainuddin, MZ. Termasuk orang-orang di kampung saya.

Kampung saya tidak terlalu besar. Juga tidak terlalu kecil. Yang sedang-sedang saja kata Meggy Z. Manusia-manusia di dalamnya luas hatinya. Artinya mereka bahagia. Bahagia di dunia. Tak satu pun manusia mem-vonis mereka untuk tidak bahagia di akhirat.

Cerita ini terjadi 17 tahun lalu. Ketika saya sedang nakal-nakalnya. Cerita ini dibuat tahun 2021, ketika saya sedang ada kesempatan ala-kadarnya.

Gemar Menyaksikan Akademi-Akademian  

Pukul 6 atau menjelang magrib, energi listrik diturunkan tegangannya melalui trafo di Gardu Induk dari kejauhan. Kemudian tersalur melalui Saluran Udara Tegangan Menengah. Hingga tegangannya turun melalui trafo di Gardu Distribusi. Setelahnya mengalir melalui Saluran Udara Tegangan Rendah. Pada akhirnya, energi listrik disalurkan ke kampung saya. Lampu-lampu menyala.

Hiburan tercanggih di kampung saya adalah televisi. Itu pun hanya satu atau beberapa rumah yang memiliki. Alhasil rumahnya kadang penuh dengan tamu—penonton.

Handphone di jaman itu nihil.

Acara televisi favorit adalah akademi. Bapak, Ibu, tua, muda saling adu: mempertahankan dalil untuk meyakinkan yang lain—jagoannya tidak tersingkir pada penampilan di malam itu.

Orang-orang riuh. Bergemuruh. Berkomentar. Mengejek. Tapi saat pengumuman, sedih. Taulah kalian ketika pengumuman siapa yang akan gugur. Dibuat sedramatis mungkin.

Tersingkir oleh Kemunculan Dai Sejuta Umat

Namun acara itu perlahan-lahan memudar. Mampu digeser oleh kemunculan seorang Dai fenomenal. Disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Akademi-akademian tidak laku. Diganti Tabligh Akbar.

Tahu kamu siapa Dai favorit orang-orang di kampung saya?

Ya, benar. K.H Zainuddin MZ.

Kiai yang dijuluki Dai Sejuta Ummat ini menjadi tontonan favorit manusia di kampung saya. Sebab, tatkala ia memberikan ceramah, selain mengusir kantuk karena lucu, juga mudah terekam di memori ingatan.

Jangan Anda tanya Bapak saya—meskipun matanya tampak kantuk—ketika mendengar Kiai ini ceramah, langsung melotot. Pasang telinga baik-baik. Dan tentu saja terbahak-bahak, ketika saban waktu ceramahnya mengandung humor.

Anda mungkin, saat ini, punyai ulama yang difavoritkan. Dan hendak memaksa saya untuk memfavoritkan ulama yang Anda favoritkan itu.

Mohon maaf, saya tidak bisa! Meskipun ulama yang saya favoritkan sudah Almarhum, tetapi beliau tetap di hati yang paling dalam.

Untuk itulah mengapa saya harus mengatakan kepada Allah S.W.T terkait dengan isi hatiku. Bahwa saya sedang dikurung rindu. Rindu yang teramat dalam mendengar ceramahnya yang lugas. Intonasi suaranya membuat mata terbelalak. Telinga terus fokus pada apa yang diucapkannya.

Hari ini dan hari-hari sebelumnya, karena beliau sudah almarhum, saya download video ceramah sang Kiai. Dengan sangat ikhlas saya menghapus filefile di laptop untuk sekadar menggantikan file YouTube Dai Sejuta Umat itu. Tanpa ada paksaan dari mana pun dan siapa pun.

Memang, jika berhadapan dengan YouTube. Di batok kepala saya ada tiga yang hendak ditonton. Pertama, ceramah KH. Zainuddin MZ. Kedua, permainan indah Barcelona, namun belakangan ini sangat mengkhawatirkan—bahagia  sekali melihat Madrid dikalahkan Barca baik kandang maupun tandang. Ketiga, pemikiran-pemikiran yang bernas dari Ahok.

Cerita Nabi Nuh A.S.

Loading...

Pernah dalam satu ceramahnya, sang Kiai menerjemahkan secara bebas percakapan Nabi Nuh A.S. bersama anaknya. Cerita ini tentang hidayah.

“Ada anak Nabi tidak mendapat Hidayah.” Demikian kata sang Kiai favorit saya ini. “Tidak mengikuti kebenaran yang disampaikan oleh Bapaknya. Namanya Kan’an, Putra Nabi Nuh A.S. Nabi Nuh diberi umur 950 tahun.

Berdakwa sepanjang hidup. Delapan ratus  tahun Nabi Nuh dakwah, dapat pengikut tidak lebih 80 orang. Rata-rata 10 tahun 1 orang. Yang dihadapi umat bandel, bajingan, tengik”. Anda tahu apa yang terjadi? Para jamaah terbahak-bahak lebih dari lima detik.

Nabi Nuh, ketika di puncak kesabarannya, munajab, “Ya Rabb, siang malam saya berdakwah kepada umat ini. Saya sampaikan risalah-Mu, saya canankan seruan-Mu, saya sampaikan ajaran-Mu. Tiap kali saya sampaikan dakwah kepada mereka, mereka tutup telinga dengan tangannya. Saya tidak sanggup menghadapi umat seperti ini Ya Allah.”

Kiai melanjutkan. Bahwa Nabi Nuh menginginkan umat itu dibunuh semua. Dan Allah berseru agar Nabi Nuh membuat kapal.

Hadirin Terbahak

Kamu tahu, di mana para hadirin terbahak-bahak lagi? Mari kita lanjutkan …

Setelah kapal jadi, maka Allah S.W.T memerintahkan Nabi Nuh dan pengikutnya untuk naik bertepatan dengan gerimis turun. Nabi Nuh lantas mengecek seisi kapal.

“Mas Bejo ada?” kata Kiai disambut gelak tawa para jamaah.

“Mpo Painong?” tawa pun tak terbendung.

“Kan’an, anak saya, ikut tidak naik kapal?”

“Kami tidak melihat!”

Nabi Nuh turun. “Ada Kan’an?”

Nabi Nuh naik lagi. Kelihatan Kan’an tidak naik kapal. Kumpul bersama orang kafir di daratan. Nabi Nuh, karena sayang kepada anak, dari atas kapal memanggil:

Kan’an, ke sini Nak, naik kapal sama Papi” . Terjemahan bebas ini disambut riuh oleh para hadirin.

Tawa membahana. Kantuk terusir. Galau terhempas jauh ke samudera yang gelap. Saya pun tergoncang—tertawa karena terjemahan bebas itu.

Dengan terjemahan-terjemahan bebas seperti itu, membuat saya, Papa saya, juga orang-orang di kampung saya, tak bisa menghindar untuk tidak tertawa.

Begitulah Sang Kyai memilih kata-kata untuk menyampaikan kepada umat, agar siapa saja dapat mengerti pun memahami. Dengan selingan diksi itu, orang-orang di kampung saya mengangguk seraya menyetujui, bahwa KH Zainuddin MZ, adalah Kiai yang bernas. Bukan sekadar penceramah biasa.

Terus terang, saya, juga seisi kampung di mana saya dibesarkan, rindu dengan Dai Sejuta Umat itu.

Cerita lain: Tarik Tambang adalah Olahraga Terkeren di Dunia

Loading...

Tinggalkan Balasan